Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #1

BAB 1: ARSITEKTUR KETENANGAN

Jalanan aspal di depan rumah itu masih menyimpan genangan sisa hujan semalam. Di kejauhan, raungan bajaj yang knalpotnya bocor beradu dengan rentetan klakson angkot, membelah udara pagi Jakarta yang lengket. Namun, bising itu mati seketika, tertabrak oleh sebuah garis batas yang ditarik tanpa kompromi.

Sebuah dinding beton ekspos setinggi tiga meter memisahkan rumah itu dari jalan. Abu-abu, masif, pori-porinya kasar dan dibiarkan tanpa cat. Tanaman rambat tidak diberi tempat untuk melunakkan permukaannya. Celah intip pun tidak ada. Di tengahnya, dua daun gerbang baja hitam bertemu dengan garis yang terlalu rapi untuk disebut ramah.

Di balik baja itu, dunia kehilangan suaranya.

Dengung halus dan ritmis dari humidifier meniupkan uap sandalwood ke udara ruang tengah. Cahaya matahari pukul enam pagi jatuh miring menembus jendela kaca raksasa, mengiris lantai semen poles dan menciptakan garis bayangan tajam yang membelah ruangan. Debu pun seolah tak berani menari di bawah sorot cahaya itu.

Di dapur yang memantulkan kilap baja nirkarat, Amalia Ciptaningrum berdiri tanpa bergerak. Piyama sutra gadingnya jatuh rapi di tubuhnya, nyaris tanpa lipatan. Ujung telunjuk kanannya, dengan kuku pendek yang dipotong lengkung bersih, mengetuk pelan meja granit.

Di bawah telunjuknya, layar LCD timbangan digital berkedip.

17,9 gram.

Amalia menahan napas. Ia memutar tutup stoples kaca kedap udara, bunyi letupan pelan terdengar saat segel karetnya terlepas. Dengan capit kayu kecil, ia mengambil satu butir biji kopi terakhir. Ia menjatuhkannya tepat ke tengah timbangan.

18,0 gram.

Rahangnya yang sedari tadi menegang akhirnya mengendur selebar satu milimeter. Biji kopi itu meluncur ke dalam grinder. Ia menekan tombol. Suara gilingan mengoyak keheningan—kasar, tajam, dan brutal—sebelum mati dalam tiga detik. Aroma cokelat pahit dan tanah basah meledak ke udara.

Amalia meraih ketel leher angsa. Air panas bersuhu sembilan puluh derajat Celcius mengalir dalam satu garis tipis tak terputus, membasahi bubuk kopi. Gelembung-gelembung kecil berwarna keemasan naik ke permukaan, mekar perlahan. Matanya mengikuti setiap tetes yang jatuh menembus filter kertas, tak berkedip, memastikan ekstraksi berjalan sempurna.

Satu cangkir keramik hitam kini berada di tangannya. Langkah Amalia menuju ruang tengah nyaris tak bergesekan dengan lantai.

Di sudut ruangan, Bi Inah sedang menggosok meja jati panjang dengan lap microfiber. Bunyi decit pelan dari gesekan lap itu mendadak berhenti. Wanita paruh baya itu buru-buru menarik tangannya dan mundur dua langkah.

Amalia bahkan tidak menoleh ke arahnya. Ia berhenti tepat di depan sebuah meja bundar kecil tempat vas keramik berisi bunga Lily putih bertengger. Ia mengangkat cangkirnya, menyesap cairan hitam pekat itu perlahan.

“Bi,” suara Amalia memecah sunyi. Datar dan bervolume rendah.

Bi Inah menegakkan punggungnya kaku.

“Ya, Non?”

“Geser vasnya.”

Bi Inah maju setengah langkah, jari-jarinya menempel ragu di pinggiran keramik yang dingin. Matanya melirik ke arah majikannya, lalu ke vas bunga.

Lihat selengkapnya