Debu semen beterbangan di bawah terik matahari, lalu hinggap di ujung sepatu bot kulit cokelat Amalia. Di sekelilingnya, rangka besi berserakan di atas tanah merah yang belum rata. Mesin molen berputar tanpa henti, mencampur pasir, kerikil, dan air dengan suara kasar yang memenuhi site.
Amalia Ciptaningrum berdiri tepat di tengah kekacauan itu. Helm proyek putihnya memantulkan cahaya menyilaukan, kontras dengan kemeja khaki yang lengannya tergulung rapi hingga siku. Di tempat yang penuh debu dan peluh ini, posturnya tidak mengendur sedikit pun.
Di hadapannya, Pak Udin—mandor berkulit tembaga—mengusap belakang lehernya dengan handuk kecil yang dekil.
“Tapi, Bu,” suara Pak Udin setengah berteriak melawan bising mesin, “kemiringan dua derajat itu nggak bakal tertangkap mata telanjang. Sudah masuk toleransi.”
Ujung pulpen besi di tangan Amalia mengetuk keras lembaran cetak biru yang terbentang di atas meja tripleks darurat.
“Air hujan tidak butuh mata, Pak Udin. Dia cuma butuh gravitasi.” Amalia mengetuk cetak biru di depannya. “Dua derajat itu cukup untuk bikin air berhenti di tempat yang salah. Enam bulan lagi, plafon ruang bermain anak-anak bisa rembes.”
Ia menatap rangka atap.
“Bongkar.”
Pak Udin menelan ludah. Jakunnya turun naik. Ia melihat tidak ada ruang untuk tawar-menawar di mata arsitek itu.
“Siap, Bu Lia. Bongkar.”
Pria itu berbalik, meniup peluitnya nyaring dan meneriaki para pekerja di atap.
“Galak sekali, Bu Lia.”
Sebuah botol air mineral dingin bersimbah embun tiba-tiba tersodor ke sisi lengan Amalia.
Ibu Santi, kepala yayasan panti yang mengenakan setelan tunik sederhana, berdiri dengan senyum hangat.
Amalia menerima botol itu. Ia melepas helm proyeknya, membiarkan angin panas menyapu anak rambutnya yang lengket oleh peluh. Sudut bibirnya terangkat, melunakkan garis wajahnya yang kaku.
“Anak-anak di sini sudah terlalu sering menerima sisa kompromi dari orang dewasa, Bu Santi.” Amalia memutar tutup botol hingga berderak. “Setidaknya bangunan ini jangan ikut-ikutan.”
Ia menunjuk ke sisi timur. Deretan bukaan jendela yang belum berkaca menganga lebar, ambangnya hanya berjarak lima puluh sentimeter dari lantai plester.
“Elevasi jendelanya sengaja diturunkan?” tanya Ibu Santi, matanya menyipit ke arah bukaan tersebut.
“Supaya saat anak-anak itu duduk mengemper di lantai, pandangan mereka langsung tembus ke taman. Tidak terhalang tembok.”
Amalia meneguk air mineralnya. “Mereka tidak perlu berjinjit cuma untuk melihat taman. Ruang ini harus membantu tubuh mereka percaya bahwa mereka aman.”
“Minggu depan anak-anak mulai masuk?” tanya Amalia.