Koper Rimowa perak itu terbuka di atas kasur berseprai linen putih.
Kosong.
Rangka aluminiumnya memantulkan cahaya lampu downlight dengan kilap dingin.
Amalia berdiri di ambang walk-in closet. Ujung jarinya menelusuri deretan gantungan baju berlapis beludru, lalu terhenti pada sebuah gaun sutra berwarna merah marun. Motif sayap merak keemasan membentang di bagian dada. Kain itu jatuh begitu lembut saat disentuh. Begitu meriah.
Warna Ratih.
Di kepala Amalia, Ratih selalu mengenakan warna-warna terang seperti ini saat memotongkan buah untuk suaminya, atau saat menunduk menatap lantai ketika mertuanya bicara. Warna yang bagi Amalia terlalu mudah disalahartikan sebagai kelembutan.
Ujung bibir Amalia berkedut. Ia menyentakkan jarinya. Gaun sutra marun itu terdorong kasar hingga gantungannya beradu nyaring dengan tiang besi. Tangannya bergerak ke sisi kiri lemari, meraup sebuah blazer hitam berpotongan bahu asimetris yang tajam. Bahannya kaku dan berat. Ia melemparkannya ke dasar koper.
Satu per satu, setelan kerja Amalia pindah ke koper. Celana tailored abu-abu arang. Kemeja sutra navy tanpa kerah. Turtleneck hitam pekat. Semua potongan yang ia kenal baik, praktis, dingin, dan tidak menyisakan banyak ruang untuk berpikir di depan cermin.
Pakaian seperti ini tidak pernah menanyakan suasana hatinya. Itu sebabnya ia memilihnya.
Amalia melipat pakaian-pakaian itu dengan ketelitian yang biasanya ia pakai untuk membaca denah. Sudut bertemu sudut. Garis kerah diluruskan. Setiap lipatan ditekan paksa dengan tumit telapak tangannya, menekan habis udara di sela-sela kain. Koper itu kini terisi penuh. Tangannya meraih kepala ritsleting, namun gerakannya membeku di udara.
Pandangannya jatuh pada laci kayu paling bawah di sudut closet. Laci yang relnya tak pernah diminyaki.
Amalia tahu laci itu ada bahkan sebelum matanya sampai ke sana.
Selama bertahun-tahun, ia mengganti silica gel di kotak sepatu, menyusun ulang gantungan berdasarkan bahan, mengirim beberapa gaun lama ke laundry khusus, dan memindahkan tas-tas kulit dari rak atas ke rak tengah agar lebih mudah dijangkau. Hampir semua bagian closet itu pernah disentuh, dibersihkan, disesuaikan ulang.
Laci paling bawah tetap dibiarkan.
Ia tidak lupa. Selalu ada alasan yang terdengar masuk akal untuk membiarkannya tertutup. Jadwal yang padat, perjalanan dinas, undangan keluarga yang bisa dihadiri dengan pakaian lain. Apa pun yang membuat tangannya tidak perlu menyentuh gagang laci itu.
Alasan-alasan itu bertahan dua puluh delapan tahun.
Desis AC sentral mengisi kamar. Suaranya halus dan stabil, seperti tidak ada apa pun yang sedang menunggu di bawah napasnya.
Amalia berlutut di atas karpet tebal. Jemarinya menyentuh gagang laci, berhenti sebentar, lalu menariknya.
Rel kayu itu berderit.
Di dasar laci, terbungkus kertas samson cokelat yang mulai berkerut, tersimpan selembar kain katun primisima. Lipatannya masih rapi, tetapi garis bekas tekukannya sudah menetap terlalu dalam. Di beberapa sisi, kertas pembungkusnya menguning. Ada serpihan kecil yang lepas ketika Amalia menyibaknya.
Motif Truntum tua muncul perlahan. Titik-titik cokelat sogan tersebar di permukaan kain, rapat di beberapa bagian, renggang di bagian lain, seperti titik-titik kecil yang tetap bertahan meski kainnya sudah lama disimpan.
Dua puluh delapan tahun kain itu berada di sana, terlipat rapi, seolah hari yang dulu batal terjadi masih bisa dipanggil ulang.