Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #4

BAB 4: PERJALANAN PULANG

Ban sedan hitam itu berdecit pelan saat berhenti di lobi keberangkatan VIP Terminal 3. Uap panas mengepul dari permukaan jalan. Begitu pintu terbuka, Amalia turun dengan kacamata hitam oversized menutupi separuh wajahnya.

Sopir berseragam safari turun sigap, menarik koper kabin Rimowa perak dari bagasi.

“Terima kasih, Pak.”

Tanpa jeda, jemari Amalia mengunci gagang aluminium koper itu. Ia melangkah melewati pintu kaca geser.

Di dalam terminal, ratusan manusia tumpah ruah membentuk arus yang kacau. Di sebelah kirinya, roda koper kanvas yang sudah aus berderit nyaring di atas lantai marmer. Di kanannya, tangisan melengking seorang balita menabrak gema pengumuman jadwal penerbangan dari pelantang suara.

Amalia merogoh saku blazer-nya. Ia menyematkan sepasang AirPods putih ke telinganya. Telunjuknya mengetuk batang perangkat itu selama dua detik.

Wush.

Fitur Noise Cancellation aktif.

Hiruk-pikuk terminal meredup seketika. Tangisan balita, derit roda koper, dan pengumuman penerbangan berubah menjadi dengung jauh yang rata. Amalia berjalan menembus kerumunan. Roda koper Rimowa-nya bergerak mulus, menghindari kaki penumpang lain tanpa banyak suara.

Ia menemukan satu-satunya sudut yang bisa ia kuasai di pojok lounge bisnis. Sebuah kursi tunggal dari kulit sintetis yang menghadap lurus ke kaca landasan pacu. Di atas meja bundar di sisinya, asap tipis mengepul dari cangkir teh chamomile.

Tepat di seberangnya, sepasang suami istri paruh baya duduk berhadapan. Sang pria membalik halaman koran bisnis, sementara sang wanita menekuri sebuah novel bersampul tebal. Mereka tidak bicara.

Namun, mata Amalia tertuju ke kolong meja kaca mereka. Ujung pantofel kulit sang pria yang sudah usang, bergerak pelan, menyentuh dan mengait lembut pergelangan kaki istrinya. Sudut bibir sang wanita terangkat, meski matanya tak beringsut dari barisan kalimat di bukunya.

Mata Amalia terkunci pada sentuhan kecil itu. Perlahan, pandangannya turun ke bawah mejanya sendiri. Sepatu stiletto hitamnya yang runcing dan mengilap berdiri kaku. Hanya menyentuh dinginnya kaki kursi logam. Simetris. Tak tersentuh.

Ia merapikan posisi cangkir chamomile di depannya, meski cangkir itu belum bergeser ke mana-mana. Ujung kukunya menyentuh bibir porselen, lalu berhenti. Di meja seberang, kaki sang pria masih menyentuh pergelangan istrinya dengan santai, seperti kebiasaan yang sudah terlalu lama dilakukan untuk perlu disadari. Amalia menatapnya satu detik terlalu lama sebelum menarik pandangan.

Ia menarik napas panjang, memutar lehernya, dan membuang pandangan ke arah pesawat yang ditarik traktor di luar jendela.

***

Di dalam kabin kelas bisnis, pesawat mulai menggerung mengumpulkan daya dorong. Amalia menempelkan keningnya ke kaca jendela oval. Getaran frekuensi tinggi dari mesin jet merambat menembus kulit pipinya.

Saat hidung pesawat terangkat, lanskap Jakarta menyusut cepat menjadi sebuah maket arsitektur raksasa. Gedung-gedung pencakar langit beralih rupa menjadi kotak-kotak presisi di atas grid jalan raya. Dari atas, semuanya tampak patuh pada grid.

Pemandangan itu biasanya menenangkan. Kota yang kacau berubah menjadi susunan garis. Jalan layang, atap gedung, sungai yang kecokelatan, semua mengecil sampai tidak lagi punya suara. Amalia menempelkan ibu jarinya ke tepi sandaran tangan, mengikuti jahitan kulitnya yang lurus.

Lihat selengkapnya