Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #5

BAB 5: MAKAN MALAM KELUARGA

Pintu geser kayu jati itu terdorong ke samping tanpa derit.

Amalia melangkah melewati ambang pintu. Seketika, tekanan udara di sekitarnya terasa menebal. Ruang makan itu terasa kedap. Aroma sedap malam yang mulai layu bercampur dengan minyak kayu tua, menempel di udara.

Di tengah ruangan, meja trembesi sepanjang tiga meter membentang lurus, terlalu besar untuk disebut hangat. Permukaannya yang hitam pekat memantulkan cahaya kuning dari lampu kristal tua di langit-langit.

Amalia berjalan ke sisi kiri meja, ke kursi nomor tiga. Ia meletakkan tangannya di sandaran kayu berukir itu dan menariknya mundur. Gesekan kaki kursi yang berat dengan lantai tegel kunci memekik tajam, merobek keheningan ruangan.

Semua pergerakan di meja itu terhenti.

Di ujung kepala meja, Raden Mas Heru Cokroningrat duduk dengan punggung nyaris tidak menyentuh sandaran. Di sebelah kanannya, Ibu Laksmi menoleh. Senyumnya rapi, tipis, dan berhenti jauh sebelum mencapai matanya.

Susunan kursi di meja itu tidak pernah berubah.

Bapak selalu di kepala meja, punggung menghadap lemari kaca berisi piring-piring warisan. Ibu duduk di kanan Bapak, cukup dekat untuk melayani tanpa perlu diminta. Suryo menempati sisi yang paling mudah menjangkau percakapan. Ratih duduk di seberang Amalia, di posisi yang membuat wajahnya terlihat jelas oleh semua orang, tetapi suaranya jarang sampai ke ujung meja.

Sendok di tangan Bapak bergerak pelan, teratur, seolah tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berhak mengganggu ritmenya.

“Sugeng dalu, Pak, Bu,” sapa Amalia, suaranya dijaga sedatar mungkin.

Bapak tidak merespons. Hanya ada gerakan rahangnya yang mengunyah pelan. Ibu memberi isyarat kecil dengan dagunya. “Duduk, Nduk. Keburu mengendap lemak galantin-nya.”

Amalia duduk. Di seberang meja, pandangannya bertemu dengan Ratih.

Adiknya tampak lebih kecil dari yang Amalia ingat. Tubuh Ratih mungkin tidak banyak berubah, tetapi cara ia mengambil ruang membuatnya terlihat menyusut. Bahunya sedikit masuk ke dalam. Lehernya ditegakkan terlalu hati-hati. Di bawah taplak meja linen, kedua tangannya memuntir serbet putih sampai ujung kainnya kusut.

Piring Ratih masih rapi. Galantin di hadapannya belum tersentuh.

Di sebelah Ratih, ibu jari Suryo bergerak cepat di atas layar ponsel yang disembunyikan di atas paha.

Dari balik bayangan pilar, seorang abdi dalem sepuh melangkah tanpa suara, memiringkan teko perak. Air putih jatuh ke dasar gelas kristal Amalia. Bunyinya terlalu jelas di ruang makan yang sejak tadi menahan napas.

Denting sendok perak menyentuh piring porselen. Makan malam dimulai.

“Anjani tidak ikut turun?” tanya Amalia. Matanya tetap pada kuah bening di piringnya, mencari suara lain untuk menutup bunyi kunyahan Bapak.

“Sedang di kamar, mengurus suvenir tedak siten untuk besok,” suara Ibu mengalun lembut, beriringan dengan pisau peraknya yang memotong galantin. “Anjani itu teliti. Tidak banyak bicara, tapi semua beres. Suryo beruntung punya istri yang paham cara menjaga rumah.”

Sret.

Ujung pisau Ibu menggores porselen sedikit terlalu keras.

Suryo mematikan layar ponselnya. Ia menaruh benda itu pelan, lalu memiringkan wajah ke arah Ratih. “Bimo belum pulang, Tih?” tanyanya ringan. Matanya tidak ikut ringan. “Kok absen makan malam?”

Jari Ratih berhenti memuntir serbet. Beberapa detik lewat sebelum ia menjawab.

“Mas Bimo masih... ada tinjauan ke luar kota, Mas. Urusan kantor. Mungkin subuh baru sampai.”

Lihat selengkapnya