Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #6

BAB 6: TEDAK SITEN

Pendopo agung rumah Cokroningrat malam itu penuh cahaya kuning dan aroma cendana. Asap dupa bergerak pelan di antara rangkaian melati yang melilit kurungan ayam berlapis emas di tengah ruangan. Tabuhan saron dan bonang mengalun terus-menerus, cukup keras untuk membuat percakapan di sekitarnya terdengar seperti bisik-bisik yang harus tahu diri.

Di tengah pendopo, putra kecil Suryo dan Anjani duduk di pangkuan ibunya, dibalut beskap beludru mini yang membuat tubuh mungilnya tampak seperti boneka pewaris. Anjani berlutut di samping kurungan ayam, satu tangan menjaga punggung anak itu, tangan lainnya merapikan jarik yang terus melorot dari lututnya. Wajahnya tersenyum ke arah tamu, terlatih dan tenang, meski pelipisnya mulai basah oleh keringat.

Dua langkah di belakang mereka, Suryo menerima ucapan selamat dengan dada sedikit membusung, seolah setiap pujian untuk anaknya juga merupakan pengukuhan atas dirinya.

Di kursi utama, Bapak memperhatikan semua itu tanpa senyum, tetapi dagunya terangkat sepersekian senti lebih tinggi.

Di sudut ruangan, dekat pilar timur, Amalia berdiri menempelkan punggungnya ke kayu jati. Dari tempatnya, seluruh pendopo tampak seperti denah yang sudah ditentukan sejak lama. Pewaris di tengah, para laki-laki di belakangnya, sementara perempuan-perempuan memastikan semua yang terlihat tetap indah.

Dan ia, seperti biasa, berada di tepi garis.

Tangan kirinya memegang gelas kaca berisi es teh leci. Embun dari dinding gelas mulai menetes, membasahi jari-jarinya yang dingin.

“Lia! Ya ampun, pangling Bude!”

Sebuah tangan dengan kuku bercat merah menyambar lengan Amalia, mencubitnya tanpa ampun. Bude Lastri. Sanggul sasaknya menjulang kaku menantang gravitasi, sementara gincu merah menyala di bibirnya merenggang membentuk seringai.

“Makin sukses di Jakarta, tapi kok tulang pipimu makin menonjol? Kurus sekali,” tembak wanita itu, matanya memindai Amalia dari atas ke bawah. “Kapan nyusul Ratih? Jangan kelamaan asyik kerja, perempuan itu ada expired date-nya lho.”

Otot di sekitar rahang Amalia menegang. Ia menarik kedua sudut bibirnya. “Doakan saja, Bude. Masih banyak proyek.”

“Halah, kerja terus.” Bude Lastri mencibir remeh, mengibaskan selendangnya, lalu beralih sebelum Amalia selesai menutup mulut. Namun, belum sempat paru-paru Amalia menarik oksigen segar, seorang pria bertubuh tegap sudah berdiri di depannya.

“Amalia. Kamu ini arsitek, logikamu pasti jalan.” Pakde Hartono, sang purnawirawan, berdiri bertolak pinggang. “Pernikahan itu mirip investasi properti. Jangan cari yang over-spec. Cari yang fungsinya jalan. Mengerti?”

Amalia menelan ludah. Pahitnya naik sampai belakang lidah. “Terima kasih, Pakde. Akan saya pertimbangkan.”

Dari sisi kanan, tawa Citra yang melengking menembus suara gamelan. Sepupu jauh yang usianya bahkan belum menyentuh angka dua puluh lima itu menghambur memotong langkah Amalia. Tangannya menyodok lurus ke depan, nyaris menabrak hidung Amalia.

“Tante Lia! Lihat!”

Di bawah pendar lampu gantung, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian solitaire berkilat tajam di jari manis gadis itu.

“Mas Adi baru melamarku minggu lalu!” Citra memekik, bahunya naik turun kegirangan.

Cairan asam seketika merayap naik ke pangkal tenggorokan Amalia.

“Selamat, Citra.”

Di dekat meja suguhan, Ratih berdiri di sisi Bimo. Pria itu tertawa pelan menanggapi ucapan seorang tamu, satu tangannya terletak di punggung bawah Ratih. Dari jauh, gestur itu tampak akrab. Hanya jemari Ratih yang mencengkeram lipatan kebayanya sendiri yang merusak gambar itu.

“Bimo memang telaten sama keluarga,” terdengar seorang tante berbisik kagum. “Ratih beruntung.”

Amalia menatap mereka satu detik lebih lama. Bimo menoleh, menangkap tatapannya, lalu tersenyum sopan sambil mengangguk kecil. Senyum itu rapi. Terlalu mudah dipercaya. Itu yang membuat Amalia tidak segera membalas.

Ibu Citra mendadak muncul dari belakang tubuh putrinya, suaranya sengaja dinaikkan setengah oktaf agar terdengar oleh tamu di sekeliling mereka. “Alhamdulillah ya, Lia, laku juga anak ini akhirnya. Kamu kapan? Jangan terlalu pemilih. Nanti keburu tidak ada yang mau.”

Wangi dupa cendana menempel di kerongkongannya. Gincu merah, berlian berkilat, wajah Pakde Hartono, senyum Bimo—semuanya tumpang tindih. Di tengah pendopo, tepuk tangan untuk putra Suryo mengembang, sementara suara gamelan berubah menjadi denging panjang di telinga Amalia.

Dari tengah pendopo, seorang sesepuh memanggil keluarga inti mendekat ke tangga jadah warna-warni. Tepuk tangan mengembang. Suryo merapikan beskapnya lebih dulu sebelum menunduk mengangkat putranya dari pangkuan Anjani.

Amalia melihat semua kepala menoleh ke arah anak itu. Ke arah Suryo. Ke arah garis keturunan yang sedang dipertontonkan.

Lihat selengkapnya