Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #7

BAB 7: BLUEPRINT YANG RETAK

Bandung, 1998

Asap kretek menggantung di bawah lampu neon kamar kos berukuran tiga kali empat meter di sebuah gang sempit Dago.

Lia duduk bersila di atas tikar pandan. Di sela telunjuk dan jari tengah kirinya, sebatang kretek menyala merah, menyebarkan bau tembakau dan cengkih yang menempel di dinding. Tangan kanannya memegang pensil mekanik Rotring 0,5 mm, menarik garis lurus mengikuti tepi penggaris segitiga di atas kertas kalkir. Garis demi garis muncul, membentuk fasad perpustakaan tanpa sekat.

Sesekali, matanya terangkat ke dinding kamar yang catnya mengelupas. Di sana, poster karikatur Soeharto berdampingan dengan selembar kertas buram berisi kutipan Wiji Thukul bertinta merah, baru ditempel semalam dengan lem kanji yang belum benar-benar kering.

Di luar kamar, gang Dago sesekali dilewati langkah orang yang cepat-cepat pulang. Sejak beberapa minggu terakhir, suara sepatu di malam hari selalu membuat sebagian penghuni kos menahan napas. Ada yang bilang polisi mulai sering berhenti di mulut gang. Ada juga yang bilang beberapa anak kampus tidak kembali setelah rapat selebaran.

Lia mendengar semuanya. Ia tetap menggambar.

Di sisi kiri kalkir, dua halaman buletin belum selesai dikoreksi. Di sisi kanan, cangkir kopi hitam sudah dingin sejak entah jam berapa. Matanya perih, tapi tangannya terus bergerak. Garis lurus memberi tubuhnya sesuatu yang bisa dipercaya, sementara di luar sana, kota seperti sedang menunggu sesuatu pecah.

Tok. Tok.

Lia tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada titik lenyap di gambar perspektifnya. “Masuk. Enggak dikunci.” Ia menekan ujung kreteknya ke dalam asbak seng bermotif kaleng biskuit hingga baranya mati.

Pintu kayu berderit terbuka. Banyu melangkah masuk. Bau bawang putih dari bungkusan nasi goreng di tangannya langsung masuk ke kamar, bercampur dengan asap kretek yang belum sempat hilang.

“Permisi. Numpang lewat di zona perang,” suara bariton Banyu mengalun santai.

Pemuda berambut pendek dengan kumis tipis itu melangkah masuk dengan ujung kaki, bermanuver menghindari tumpukan tabung gambar yang berserakan. Ujung sepatunya nyaris menyapu sebuah buku bersampul cokelat pudar.

Banyu membungkuk. “Hati-hati, Madilog jangan diinjak,” gumam Banyu, mengusap debu dari sampul Madilog karya Tan Malaka itu dengan gerakan hati-hati, lalu menumpuknya perlahan di atas Bumi Manusia yang diselipkan di bawah kaki meja.

“Awas kualat sama sejarah, Li,” ucap Banyu, senyum manis melengkung di bibirnya—senyum yang entah bagaimana selalu berhasil menurunkan kewaspadaan Lia.

Lia mendengus geli, memutar pensil di jarinya. “Taruh di lantai saja. Meja penuh draf buletin.”

Banyu tidak langsung menurut. Ia menatap meja itu sebentar, seperti orang yang sudah hafal peta kekacauan Lia. Tabung gambar digeser dua senti. Tumpukan kertas ditahan dengan siku. Sebuah penggaris T yang hampir jatuh ia selamatkan dengan ujung jari.

“Kalau aku taruh di lantai, nanti kamu lupa makan lagi,” katanya.

Lia mendengus, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Banyu selalu tahu cara masuk ke ruangnya tanpa membuatnya merasa diserbu. Banyu selalu tahu cara masuk ke ruangnya tanpa membuatnya merasa diserbu. Ia datang membawa nasi goreng, memilih duduk di lantai, lalu membiarkan Lia tetap memegang pensilnya sendiri. Kamar sempit itu, dengan semua kertas dan asap kreteknya, mendadak terasa sedikit lebih bisa dihuni.

Banyu meletakkan bungkusan nasi goreng itu di satu-satunya celah kosong, tepat berbatasan dengan pisau cutter dan tumpukan naskah stensilan yang ditandatangani “Esther”. Ia melirik tajam ke arah kertas-kertas itu.

“Tulisan 'Esther' bulan ini bahaya, Li,” komentar Banyu. Ia menurunkan tubuhnya, duduk bersila di belakang Lia dan menyandarkan punggung ke dinding. “Anak-anak sipil tadi siang ribut bahas 'feodalisme gaya baru' gara-gara baca pamfletmu. Kamu jago membangunkan orang tidur.”

“Biar bangun sekalian,” sahut Lia cepat. Matanya menyipit kembali ke kertas kalkir. “Kalau rezim ini sudah rata sama tanah, aku mau bangun perpustakaan ini, Nyu. Langit-langit ekspos. Ruang baca terbuka. Pikiran orang harus punya tempat untuk bergerak.”

Banyu tertawa pelan. Ia mencondongkan tubuh ke depan. Kedua lengannya melingkar dari belakang, memeluk pinggang Lia tanpa mengganggu posisi tangannya di atas meja.

Lihat selengkapnya