Menjelang pukul sebelas malam, rumah Cokroningrat sudah sunyi.
Di atas ranjang berukuran king-size, Amalia berbaring telentang. Matanya menatap ukiran kayu di langit-langit yang remang, tetapi pikirannya tidak ikut diam.
Kamu tidak banyak berubah.
Bahu Amalia menyentak. Selimut sutra abu-abunya terdorong hingga menumpuk di ujung kasur. Ia bangkit dan duduk dengan punggung tegak. Rahangnya terkatup.
Tangannya meraih ponsel titanium di atas nakas. Layar menyala sebentar, memantulkan wajahnya yang pucat, lalu ia mematikannya lagi.
Amalia berdiri. Kakinya yang telanjang menapak lantai tegel dingin. Piyama sutranya berdesir pelan saat ia keluar dari kamar.
Di laci terbawah lemari arsip kayu jati di perpustakaan rumah ini, tersembunyi tumpukan kertas kalkir dan draf tugas akhirnya dari tahun 1998. Sketsa-sketsa amatir dengan garis yang ragu dan rapuh. Ia perlu bukti bahwa garis-garis rapuh dari kamar kos Dago itu tidak lagi punya kuasa atas dirinya.
Langkah Amalia tidak bersuara menyusuri koridor sayap barat. Berhenti di depan pintu ganda berukir relief pewayangan.
Jemarinya mencengkeram gagang kuningan yang dingin. Ia memutarnya lambat-lambat.
KRIET.
Udara pengap beraroma kertas lapuk dan kapur barus langsung masuk ke hidungnya.
Amalia mengangkat ponsel, ibu jarinya melayang di atas ikon senter. Namun, gerakannya membeku di udara.
Di sudut ruangan, tepat di balik kaki meja baca raksasa, sebuah pendar cahaya putih kebiruan memantul tak beraturan di atas karpet Persia yang berdebu.
Cahaya itu berkedip pelan. Terlihat pergerakan bayangan di dinding rak buku.
Napas Amalia tertahan. Matanya menyipit. Otot betisnya menegang.
Ia melangkah masuk. Karpet tebal meredam total suara langkahnya. Ia mengitari sisi meja kayu jati itu dan menunduk.
Di atas karpet, bersandar pada kaki meja berukir, seorang gadis remaja duduk melipat kaki.
Sekar.
Keponakannya itu mengenakan kaus oblong hitam kebesaran yang kerahnya sudah melar, berlogo band Arctic Monkeys yang memudar, dipadu celana pendek bokser katun. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas, ditusuk dengan sebatang pensil kayu yang catnya sudah terkelupas.
Di lantai di hadapannya, diterangi oleh senter ponsel yang disandarkan miring pada tumpukan ensiklopedia, terbentang sebuah buku sketsa bersampul hitam murah. Halamannya keriting dan bergelombang akibat terlalu sering dihapus. Di sebelahnya, majalah arsitektur tergeletak terbuka.
“Gambar apa?” tanya Amalia.
“Ya ampun!”
Bahu Sekar melonjak hebat. Tangan kanannya refleks menghantam buku sketsa itu hingga tertutup rapat. Senter ponselnya terguling, menyorot ke langit-langit dan menciptakan bayangan raksasa yang liar.
Amalia tidak beringsut. Ia berdiri menjulang di samping meja, melipat kedua tangannya di depan dada.
“Tante Lia...” Sekar mencengkeram kausnya tepat di atas dada kiri, napasnya tersengal. “Sumpah, jantungku mau copot. Aku kirain Eyang Kakung.”
“Kalau Eyangmu yang buka pintu, kamu tidak akan sempat bernapas,” potong Amalia dingin. Matanya turun, menyorot paha Sekar yang terekspos. “Celana pendek, jam sebelas malam, di Dalem Ageng.”
Sekar meringis. Tangan kirinya buru-buru menarik ujung kaus hitamnya ke bawah, berusaha menutupi lututnya. “Gerah, Tan. Seharian dililit stagen rasanya kayak dipiting. Tadi pas kulepas, pinggangku sampai lecet merah.”
Lirikan Amalia bergeser pada buku sketsa yang kini didekap protektif oleh kedua lengan Sekar.
“Buka bukunya. Tante mau lihat.”