Pagi itu, rumah Cokroningrat tampak lelah.
Sisa tedak siten masih tertinggal di beberapa sudut. Kelopak sedap malam di dalam vas porselen mulai kecokelatan. Lantai tegel kunci baru dipel, meninggalkan bau karbol pinus yang tajam di bawah aroma bunga yang mulai layu.
Di ruang makan, semuanya kembali rapi. Terlalu rapi, seolah keramaian kemarin hanya boleh meninggalkan bekas yang bisa dibersihkan.
Tepat pukul tujuh, bunyi ketukan stiletto Amalia menuruni tangga kayu jati, memecah keheningan.
Tak. Tak. Tak.
Amalia tidak turun sebagai anak rumah yang baru bangun tidur. Ia mengenakan blus linen krem berkerah kaku dan celana tailored hitam, formula andalannya untuk terlihat ringan tanpa benar-benar membuka pertahanan. Riasan wajahnya matte, tanpa kilap. Rambutnya disisir ketat ke belakang, ditarik menjadi satu cepol padat yang membuat sudut matanya menajam.
Di dekat pilar pintu depan, koper Rimowa peraknya sudah berdiri tegak.
Amalia melangkah masuk ke ruang makan. Nasi liwet, serabi Solo, dan teh nasgitel mengepulkan uap panas di atas meja. Semuanya tersaji lengkap, mengepulkan uap, dan nyaris tidak disentuh siapa pun.
Bapak duduk membatu di kursi ujung, wajahnya terblokir sepenuhnya oleh lembaran koran Suara Merdeka yang dibentangkan lebar. Ibu memiringkan teko perak, menuang teh ke cangkir porselen Ratih. Ratih sendiri hanya duduk mematung, ujung sendoknya mengaduk-aduk bubur sumsum yang mulai mencair tanpa mengangkatnya ke mulut.
Di sebelah Ratih, Sekar menunduk. Kaus band lusuh dan celana pendeknya semalam telah lenyap, tergantikan oleh blus berkerah rebah warna biru pastel yang dikancingkan hingga pangkal leher. Dua lengannya bertumpu pasif di atas pangkuan. Namun, saat Amalia menarik kursi, Sekar mendongak sedetik. Pandangan mereka bertemu.
“Pagi,” suara Amalia memotong dengung lalat di ruangan itu.
Ibu menoleh. Senyum Ibu langsung tertahan saat ekor matanya menangkap koper perak di dekat pintu.
Denting sendok perak Ibu membentur bibir cangkir.
“Lho, kopermu kok sudah di depan, Nduk?” Suara Ibu merayap naik, menegang. “Ini hari Minggu. Ibu sudah jadwalkan mobil untuk antar kita ke Pasar Klewer cari bahan seragam nikahannya putranya Bu Sinta.”
Amalia meraih selembar roti tawar dari keranjang rotan. Ujung pisaunya menyendok mentega. “Saya kembali ke Jakarta pagi ini, Bu.”
“Kembali?” Ujung pisau Ibu berdenting keras ke atas piring. “Resepsi tedak siten baru selesai kemarin sore. Kamu ini menganggap rumah orang tuamu apa? Hotel transit untuk menumpang tidur?”
“Klien menuntut revisi fasad struktural. Ini mendesak.” Kebohongan itu meluncur mulus, tanpa getaran, seiring dengan mentega yang ia ratakan ke atas pori-pori roti.
Lembaran koran Suara Merdeka itu diturunkan perlahan.
“Pekerjaan lagi.” Suara berat Bapak berderak dari balik koran yang mulai turun. Mata tua itu menembus tepat ke bola mata Amalia. “Hidupmu itu sudah habis diperbudak ambisi, Lia.”
Suhu di pangkal leher Amalia memanas. Mentega di rotinya tidak lagi terlihat menggugah. Ia melirik ke seberang. Tangan Sekar meremas ujung taplak meja hingga buku-buku jarinya memutih, bahunya menegang bersiap membuka mulut. Di bawah meja, ujung sepatu kets kanvas kotor yang dikenakan Sekar—bukan selop—mengetuk-ngetuk lantai gelisah.
Amalia menatap mata gadis itu dan memberikan satu gelengan nyaris tak kasatmata.
Belum sekarang.
Amalia meletakkan rotinya utuh-utuh ke atas piring. Ia mendorong kursinya ke belakang dan bangkit berdiri. Posturnya tegak menantang tatapan bapaknya.
“Ini bukan ambisi, Pak. Ini tanggung jawab terhadap struktur yang saya bangun,” balas Amalia dingin. “Saya pamit. Mesin mobil Pak Warto sudah menyala.”
“Hati-hati di jalan, Tan.”
Suara Sekar memecah udara yang membeku. Jernih. Tidak menunduk.
Sendok Ratih berhenti berputar di mangkuk bubur sumsum.