Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #10

BAB 10: TAMU TAK DIUNDANG

Selasa, 14.00 — Ruang Rapat Utama Ciptaningrum Atelier

Pendingin udara menunjukkan delapan belas derajat Celsius. Di ujung meja, Gomgom tetap berkeringat.

Arsitek junior itu berdiri mematung, kedua tangannya menggenggam folder presentasi terlalu erat. Di tengah meja marmer hitam, maket masterplan apartemen skala 1:100 terbentang dengan rapi.

Amalia berdiri di sisi maket. Blazer charcoal berpotongan tajam membuat tubuhnya tampak lebih tegas daripada biasanya. Di tangan kanannya, sebuah penggaris besi panjang bergerak pelan di atas permukaan balsa.

Tak. Tak. Tak.

Ujung penggaris itu mengetuk atap clubhouse dalam maket.

“Ini apa?” Suara Amalia mengalun datar, hampir seperti bisikan.

Gomgom menelan ludah. “I-itu area drop-off, Bu. Rencananya kami bikin alurnya lebih terbuka, supaya mobil tidak numpuk di lobby—”

“Railing balkon lantai tiga.” Penggaris besi Amalia bergeser cepat, menunjuk celah setinggi sembilan milimeter di maket itu. “Kenapa hanya sembilan puluh sentimeter?”

“Itu... sudah sesuai standar minimal, Bu.” Gomgom merapatkan folder ke dadanya. “Kami cek dari regulasi. Tapi kalau Ibu mau naikkan, bisa kami revisi.”

“Standar minimal adalah bahasa para amatir.” Matanya berhenti pada railing itu lebih lama dari yang seharusnya. Sembilan puluh sentimeter. Terlalu rendah untuk tubuh kecil yang sedang belajar memanjat dunia. “Lantai tiga. Lima belas meter di atas aspal beton. Satu anak kecil memanjat, dia jatuh. Lima belas meter ke aspal. Itu kelalaian, Gomgom.”

Jari tangan kiri Amalia menekan pelipisnya, mencoba meredam denyut nyeri yang mendadak naik. Ketidaksempurnaan ini bukan sekadar kesalahan teknis; di kepalanya yang masih penuh sisa Solo, segala bentuk celah adalah ancaman.

“Bongkar.” Amalia melepaskan penggaris besinya.

KLANG!

Benturan logam dengan marmer meledak nyaring. Bahu Gomgom terlonjak.

“Naikkan railing menjadi seratus dua puluh sentimeter. Rapatkan secondary skin. Celah maksimal sepuluh sentimeter. Area ini harus tertutup. Paham?”

“Paham, Bu. Kami kerjakan sekarang.” Gomgom mengangguk cepat, lalu menelan ludah lagi. “Maaf, Bu.”

“Kosongkan ruangan ini. Bawa sampah kalian.”

Tim arsitek muda itu bergerak serempak, terlalu cepat untuk terlihat tenang. Mereka mengangkat maket besar itu dengan tangan hati-hati, lalu bergegas keluar.

Amalia membuang napas perlahan lewat mulut. Punggungnya ditegakkan. Kendali telah kembali.

Namun, sebelum pintu kaca tanpa bingkai itu menyatu sepenuhnya, sesosok tubuh menerobos masuk.

Seorang wanita melenggang santai, membawa kantong kertas cokelat. Ia mengenakan terusan linen asimetris berwarna terracotta terang, dipadu dengan kalung tembaga etnik yang bergemerincing pelan. Sebuah anomali warna yang menabrak seluruh palet monokrom geometris di ruangan ini.

Hanya Sari Saraswati yang bisa melakukan itu—masuk tanpa mengetuk, membawa warna, makanan, dan komentar tidak diminta ke ruang yang biasanya membuat orang lain menahan napas. Ia tidak pernah mengenal Lia dari Solo. Mungkin karena itu ia tidak pernah belajar takut pada Amalia.

“Gue ketemu Gomgom di luar,” kata Sari, menjatuhkan kantong salad ke atas meja marmer. “Mukanya pucat banget. Gue kira anak itu habis salah kirim file tender ke kompetitor.”

Amalia tidak menoleh. Ia menjatuhkan diri ke kursi kulitnya, jemarinya memijat pangkal hidung. “Detail mereka berantakan. Safety hazard.”

Lihat selengkapnya