Wajah Sekar bergetar di depan mata Amalia. Basah, pucat, menggigil. Lalu, untuk satu kedipan yang terlalu panjang, ambang pintu rumahnya tidak lagi berada di Jakarta.
Amalia kembali ke malam pertama ketika ia belajar bahwa rumah bisa diam saat seseorang hancur.
***
Solo, 1993
Ruang makan Cokroningrat malam itu terlalu sunyi untuk ukuran sebuah keluarga yang sedang makan bersama. Lampu gantung kristal menyebarkan cahaya kuning pucat ke atas meja trembesi. Di dinding gebyok, bayangan lima orang jatuh panjang dan hampir tidak bergerak.
Di kepala meja, koran menutupi wajah Raden Mas Heru Cokroningrat. Di sisi kanannya, Ibu Laksmi memotong daging dengan punggung tegak. Suryo makan tanpa suara. Ratih kecil menunduk dalam-dalam, seolah piringnya bisa menyembunyikannya dari ruangan itu.
Di antara mereka, Lia duduk dengan dada yang terlalu penuh untuk anak lima belas tahun.
Sejak lauk pertama diletakkan di meja, Lia sudah menghitung berapa kali sendok menyentuh porselen tanpa ada satu pun percakapan yang benar-benar dimulai. Ibu memotong daging dengan ukuran yang nyaris sama. Suryo minum air sedikit-sedikit. Ratih kecil mengaduk nasi dengan ujung sendok, membuat lingkaran kecil yang segera hilang begitu terkena kuah.
Lia menatap mereka satu per satu dan merasakan sesuatu menekan dadanya dari dalam. Di sekolah, kata-kata terasa seperti pintu. Di rumah ini, kata-kata lebih mirip benda tajam yang harus disembunyikan.
Sore tadi, ia membaca Multatuli di perpustakaan sekolah. Kata-kata di halaman itu masih panas di kepalanya. Ia belum tahu bahwa ada meja makan yang tidak dibuat untuk percakapan. Ada rumah yang hanya mengizinkan anak-anaknya bicara selama mereka tidak mengubah suhu ruangan.
“Tadi siang di kelas Sejarah, guru kami membedah catatan Multatuli, Pak,” kata Lia. Suaranya terdengar terlalu jelas di meja itu.
Koran di tangan Bapak tidak bergerak turun satu milimeter pun.
“Oh ya?”
Lia tidak menangkap bahaya di balik nada datar itu. “Ternyata Tanam Paksa itu bukan cuma soal kerja paksa, Pak. Itu cara orang berkuasa bikin orang lain merasa tidak punya pilihan. Persis seperti—”
“Kita tidak membawa politik ke meja makan.” Bapak memotong, suaranya rendah.
Otot leher Lia menegang. Di ujung matanya, ia melihat Ibu memberi isyarat tajam lewat delikan mata. Suryo berdeham pelan, ujung sepatunya menyenggol kaki Lia di bawah meja. Peringatan terakhir. Namun adrenalin telah meracuni akal sehat Lia. Ia tidak mau mundur.
“Ini sejarah, Pak.” Suara Lia naik setengah oktaf, ujungnya mulai bergetar. “Buku itu membuktikan bagaimana orang berkuasa bisa membuat penindasan terlihat wajar—”
“Cukup.”
Satu kata itu menghentikan seluruh meja. Pisau Ibu membeku di udara.
Namun, Lia yang didorong oleh keputusasaan untuk dilihat sebagai manusia yang bisa berpikir, nekat melewati garis yang tidak pernah digambar siapa pun, tapi selalu dipatuhi semua orang.
“Tapi kalau kita diam terus, Pak, orang-orang seperti itu akan selalu punya cara untuk—”