Jejak lumpur itu berhenti di tengah foyer.
Sekar berdiri beberapa langkah dari pintu, masih memeluk ranselnya erat-erat, seolah tubuhnya belum percaya bahwa kali ini tidak ada yang menyuruhnya kembali keluar. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, meluncur melewati lengan kaus, lalu jatuh ke lantai semen poles Amalia.
Amalia memandangi gadis itu. Tangannya tetap di sisi tubuh. Pelukan tidak datang dari tubuhnya, bahkan ketika ia tahu Sekar mungkin membutuhkannya.
Bibir membiru. Tangan gemetar. Pakaian basah. Perut kosong, kemungkinan besar.
Urutannya jelas. Keringkan. Hangatkan. Beri makan. Pertanyaan bisa menunggu.
“Lepas sepatumu di sini,” kata Amalia.
Sekar tidak merespons. Tangannya terlalu kaku karena dingin.
Amalia melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, ia berlutut di atas lantai yang telah ternoda lumpur. Jari-jarinya membuka simpul tali sepatu kets Sekar yang basah dan kotor, lalu menariknya lepas satu per satu.
“Jaket,” lanjut Amalia sambil berdiri.
Ia melepas jaket basah itu dari bahu Sekar tanpa basa-basi. “Tante taruh di ruang servis.”
Amalia menuntun keponakannya menaiki tangga menuju lantai dua. Ia tidak menggandeng tangan Sekar, hanya berjalan setengah langkah di depan, cukup dekat untuk menunjukkan arah.
“Kamar mandi.”
Amalia membuka pintu kayu tanpa gagang di lorong. Tangannya bergerak ke lemari tanam, menarik selembar handuk katun putih tebal, lalu menyodorkannya ke dada Sekar.
“Air panas diatur otomatis. Sabun cair di dispenser dinding. Mandi, bilas rambutmu. Baju ganti Tante taruh di luar pintu.”
Sekar menerima handuk itu dengan tangan bergetar. “Makasih, Tan.”
Gadis itu masuk. Pintu ditutup.
Tiga puluh detik kemudian, bunyi shower terdengar dari dalam, mengisi koridor yang terlalu sunyi.
Amalia berputar haluan. Ia menyusuri lorong menuju walk-in closet-nya, menarik satu set piyama katun abu-abu paling longgar dari rak bawah—piyama yang biasa ia kenakan saat tidak ada siapa pun yang perlu ia hadapi, lalu menyangkutkannya di gagang pintu kamar mandi. Setelah menggantungkan baju ganti di gagang pintu, Amalia menyeberang ke kamar tamu.
Ia mendorong pintu di seberang lorong itu. Ruangan itu luas, presisi, dan beku. Perabotannya ditutupi kain pelindung debu berwarna putih.
Amalia menarik kain pelindung itu dalam satu sentakan. Ia membuka lemari built-in, mengeluarkan set seprai katun Mesir yang terbungkus plastik vakum. Ujung kuku Amalia merobek plastiknya.
Hsssh.
Desis udara menyerbu masuk, melepaskan aroma linen baru yang sangat steril. Ia membentangkan seprai itu ke atas kasur queen-size. Sudut demi sudut ditarik kencang, diselipkan ke bawah matras sampai permukaannya rata.
Ia mundur satu langkah, memindai ruangan. Secara fungsional, sempurna. Secara psikologis, mengintimidasi. Ia butuh sesuatu untuk membuat kamar itu terasa tidak seperti ruang tunggu. Masalahnya, rumah Amalia hampir tidak punya benda yang bisa disebut hangat.
Amalia membalikkan badan, mengambil sebuah buku hardcover tebal karya Tadao Ando dari rak koridor, dan meletakkannya tepat di tengah meja nakas. Ia menatap sampul bergambar dinding beton simetris itu sejenak, lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram.
Pintu kamar mandi terbuka.
Sekar melangkah keluar. Piyama katun abu-abu milik Amalia kedodoran membungkus tubuhnya, lengan bajunya harus digulung dua kali agar telapak tangannya terlihat. Wajahnya telah bersih dari lumpur dan jejak air mata, pucat dan rapuh di bawah cahaya koridor.
“Selesai?” Amalia menatapnya. Nadanya turun satu oktaf. “Turun. Ayo makan.”
***
Pulau dapur berbahan marmer itu biasanya hanya menjadi panggung ritual kopinya. Malam ini, di atas permukaannya, Amalia menyiapkan makanan untuk orang lain.