Kamis pagi, pukul 06.15, Amalia melangkah keluar dari kamarnya. Piyama sutra abu-abunya jatuh rapi mengikuti tubuh yang berusaha tidak memberi tempat pada sisa malam.
Ritual kopi pagi selalu menjadi fondasi. Pendingin udara berdengung halus. Cahaya matahari jatuh dengan sudut yang bisa ia kenali. Grinder baru akan menyala setelah delapan belas gram biji kopi mencapai timbangan.
Namun pagi ini, sebelum ia mencapai tangga, Amalia melihat pintu kamar tamu terbuka selebar tiga jari.
Ia berhenti.
Di balik celah pintu, seprai putih yang semalam ia tarik tanpa satu lipatan pun kini tergulung kusut di ujung kasur. Handuk putih yang ia siapkan tergantung asal pada gagang pintu, salah satu ujungnya menyapu lantai.
Anak remaja. Hanya sementara.
Refleks pertamanya adalah masuk, menarik seprai itu kembali rata, menggantung handuk dengan sudut yang benar, lalu menutup pintu sampai celahnya hilang. Tubuhnya bahkan sudah condong setengah langkah ke arah kamar.
Namun dari dalam, terdengar napas tidur yang berat dan tidak teratur.
Amalia berhenti.
Sekar masih tidur. Mungkin baru setelah berjam-jam di kereta, setelah hujan, setelah pintu rumah ini akhirnya terbuka. Seprai kusut itu bukan kekacauan. Belum. Pagi ini, benda itu adalah bukti bahwa seseorang sedang mencoba merasa aman di ruang yang bukan miliknya.
Amalia menarik tangannya kembali dari udara kosong.
Di atas sandaran kursi Wishbone kayu oak rancangan Hans Wegner, tersampir jaket jeans lusuh yang belum sepenuhnya kering. Lengan-lengannya menjuntai lemas, nyaris menyentuh lantai semen poles.
Jari-jari Amalia berkedut.
Abaikan.
Ia memutar pandangannya menuju coffee bar.
Di atas meja island, sebuah mangkuk keramik putih menunggunya. Genangan yoghurt yang mulai mencair merendam sisa granola lembek. Serpihan oat berhamburan di atas marmer. Sebuah sendok tergeletak miring, meninggalkan jejak madu kuning yang lengket.
Otot rahang Amalia terkunci.
Rekaman suara Ratih melintas di kepalanya.
Mas Bimo sudah menelepon polisi.
Mangkuk itu kotor, jaket itu basah, dan keduanya memberi tahu Amalia hal yang sama. Rumah ini tidak lagi hanya menyimpan dirinya sendiri.
Satu pandangan Bi Inah, satu pertanyaan kepada petugas keamanan depan, satu percakapan yang sampai ke orang yang salah—dan keberadaan Sekar tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Telapak tangan Amalia menekan pinggiran meja marmer. Pagi itu, kekacauan di rumahnya tidak lagi bisa ia rapikan hanya untuk menenangkan diri. Setiap jejak yang ia hapus berarti ada seseorang yang sedang ia sembunyikan.
Desis kompresor kulkas Smeg menyentaknya.
Dari arah lorong pantri belakang, terdengar bunyi decit keran air ditutup. Bi Inah. Dalam hitungan detik, asisten rumah tangga itu akan muncul ke dapur bersih ini dengan lap microfiber-nya.
Ia harus melenyapkan barang bukti. Sekarang.