Mesin espresso baru saja berhenti mendesis ketika Sekar muncul di ujung tangga.
Piyama katun abu-abu milik Amalia kedodoran di tubuhnya. Rambutnya masih lembap, tergulung asal dengan karet tipis. Di tangannya, buku Tadao Ando yang semalam ditaruh Amalia di meja nakas dipeluk rapat ke dada, seperti barang pinjaman yang belum yakin boleh ia miliki.
Amalia meletakkan cangkir kopi hitamnya di atas meja island.
“Siang nanti Bi Inah akan ada di rumah. Kamu tetap di kamar tamu. Jangan membuka gerbang. Jangan menyalakan HP. Jangan menghubungkan perangkat apa pun ke internet.”
Sekar yang baru menuruni anak tangga terakhir berhenti.
“Tante mau pergi?”
“Tante bekerja.”
“Terus aku di sini seharian?” Suara Sekar belum meninggi, tetapi jari-jarinya mulai mencengkeram tepi buku. “Di kamar? Nggak boleh keluar, nggak boleh telepon siapa-siapa, nggak boleh buka internet?”
“Untuk keselamatanmu.”
Sekar tertawa pendek. Tidak lucu.
“Bapak juga selalu bilang begitu.”
Kalimat itu jatuh tepat di tengah dapur. Amalia tidak bergerak. Kopi delapan belas gram di tangannya mendadak terasa terlalu pahit.
Di belakang mereka, Bi Inah muncul dari pantri membawa mangkuk berisi irisan buah. Ia berhenti begitu menangkap ketegangan yang menggantung di udara.
Sekar menunduk cepat. “Maaf. Aku cuma... aku nggak sanggup kalau harus dikunci lagi, Tan.”
Amalia menatap pintu kaca besar di sisi ruang tengah. Di luar sana, taman indoor-nya tetap serapi kemarin. Tidak ada yang berubah selain keberadaan seorang gadis yang kini takut pada kalimat-kalimat yang dulu juga membuatnya lari.
“Lima belas menit,” kata Amalia akhirnya.
Sekar mendongak.
“Kamu ikut Tante ke kantor. Di sana kamu berada di ruang Tante dan tidak keluar tanpa izin.” Suara Amalia kembali datar, tetapi keputusan itu sudah berubah bentuk. “Kalau ada yang bertanya, kamu sedang melakukan observasi studio untuk portofolio masuk DKV.”
Mata Sekar membesar. “Tante serius?”
Keputusan itu buruk dari sisi keamanan. Kamera menempel di setiap sudut. Mata orang terlalu banyak. Satu nama di daftar yang salah sudah cukup untuk membawa bahaya sampai ke pintu rumah.
Mengunci gadis itu di kamar setelah mendengar ketakutannya barusan terasa lebih buruk lagi.
“Jangan membuat Tante menyesal.”
Sekar mengangguk terlalu cepat.
Amalia mengangkat telunjuk sebelum kegembiraan itu berkembang terlalu jauh. “Satu aturan tetap berlaku. HP-mu mati. Akun pribadi jangan dibuka. Kontak dengan siapa pun menunggu sampai kita menentukan jalur yang aman.”
Kegembiraan Sekar meredup, tetapi ia tetap mengangguk.
“Paham.”
Amalia mengambil cangkirnya kembali. Di layar tablet di ujung coffee bar, agenda pukul dua masih menyala redup.
14.00–15.30 — Konsultasi Awal Hunian Privat
Klien: Banyu Aditama
Hari itu baru dimulai, dan ia sudah mengizinkan terlalu banyak hal masuk ke dalam garis pertahanannya sendiri.
***
Perjalanan menuju Senopati dibungkus dalam keheningan. Kabin sedan Amalia memutus sebagian besar suara Jakarta di luar sana, menyisakan dengung mesin yang halus dan sesekali bunyi sein yang terdengar terlalu jelas.
Sekar duduk di kursi penumpang dengan buku Tadao Ando di pangkuannya. Kini ia telah berganti mengenakan blus hitam sederhana dan celana jeans dari ranselnya yang telah dikeringkan Bi Inah. Kedua tangannya terus memeluk sampul hardcover itu seolah benda tersebut adalah satu-satunya bukti bahwa ia benar-benar diizinkan ikut.
Amalia tidak menoleh kepadanya. Matanya terkunci pada jalan, pikirannya membelah hari menjadi tiga urusan yang harus dipatuhi. Sekar harus masuk tanpa mengundang perhatian, rapat pagi harus selesai, dan anak itu harus tetap offline.
Kesalahan sekecil apa pun bisa membuka jejak.
Ketika sedan itu memasuki basement Ciptaningrum Atelier, Sekar perlahan mengangkat wajahnya. Mereka naik menggunakan lift privat. Begitu pintunya terbuka, Sekar berhenti setengah langkah di belakang Amalia.
Dinding beton ekspos menjulang tanpa ornamen. Panel-panel kaca membelah ruang kerja terbuka tempat puluhan drafter duduk di depan layar masing-masing. Di sisi lobi, maket-maket bangunan berwarna putih berdiri di balik kotak kaca, diterangi lampu sorot seperti kota-kota kecil yang belum diizinkan disentuh manusia.
Aroma sandalwood tipis melayang di udara, bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan dan bau samar kertas cetak biru. Sejak tiba di Jakarta, baru kali ini langkah Sekar melambat karena ia ingin melihat, bukan karena takut.
Dian baru saja keluar dari ruang diskusi sambil membawa gulungan gambar ketika pandangannya menangkap Amalia bersama seorang gadis remaja.
“Pagi, Bu Amalia.”
“Pagi.” Amalia tidak memberinya waktu untuk memperpanjang rasa ingin tahu. “Ini keponakan saya. Hari ini dia melakukan observasi studio untuk persiapan portofolio DKV.”
Sekar menoleh cepat kepada Amalia.
Kalimat itu terdengar formal, nyaris administratif. Tetap saja, dadanya terasa seperti baru dibukakan sebuah jendela.
“Dia bersama saya sepanjang hari,” lanjut Amalia. “Tidak perlu akses gedung tambahan. Tidak perlu akses jaringan internal.”
Dian mengangguk. “Baik, Bu.”
Amalia membawa Sekar menuju ruang kerjanya—sebuah kotak kaca besar di sudut lantai, menghadap lurus ke puluhan meja drafter di luar sana.
Di satu sisi ruangan berdiri sofa kulit hitam. Di sisi lainnya, sebuah meja diskusi dipenuhi katalog material, sampel panel aluminium, gulungan kertas kalkir, dan maket gedung setengah selesai.
“Duduk di sofa itu,” kata Amalia. “Kamu boleh membaca. Jangan keluar dari ruangan ini tanpa memberi tahu Tante. Jangan menyalakan HP. Jangan membuka akun pribadi melalui perangkat kantor.”
Sekar mengangguk. “Iya, Tan.”
Amalia menatapnya satu detik lebih lama, memastikan tidak ada satu kata pun yang terlewat. Setelah itu, ia meletakkan tote bag kulit hitamnya di atas meja kaca dekat sofa, lalu berbalik menuju meja kerja utama.
Pagi bergerak cepat.
Sekar mencoba membaca buku di pangkuannya. Lima menit. Sepuluh menit. Lalu perhatian gadis itu ditarik oleh suara-suara dari luar dinding kaca.
Amalia berdiri di depan layar presentasi besar bersama beberapa arsitek muda. Blazer charcoal-nya terpasang rapi di atas blus putih berkerah kaku. Sebuah penggaris logam tipis bergerak mengikuti gambar potongan bangunan di layar.
“Kolom ini mengganggu distribusi beban. Geser grid struktur satu modul dan hitung ulang bentang baloknya.”
Seorang drafter buru-buru mencatat.
“Detail tangga darurat ini terlalu sempit. Dalam keadaan darurat, manusia tidak bergerak serapi simbol di gambar. Hitung ulang kapasitas arus keluarnya.”
Semua orang mendengarkan. Tidak terdengar tawa kecil, interupsi, atau suara laki-laki yang mengambil alih penjelasannya.
Sekar memeluk buku di pangkuannya sedikit lebih erat.
Di Solo, nama Amalia diucapkan seperti peringatan tentang perempuan yang gagal memahami tempatnya. Di ruangan ini, nama itu adalah otoritas.
Sekar perlahan meletakkan buku Tadao Ando di atas sofa. Tatapannya jatuh pada maket setengah selesai di meja diskusi. Di samping maket itu, selembar kertas kalkir dan sebuah pensil mekanik tergeletak, mungkin tertinggal dari rapat sebelumnya.
Ia berdiri. Ujung jarinya baru menyentuh batang pensil ketika suara Amalia terdengar dari belakang.
“Kamu sedang melakukan apa?”
Sekar tersentak. Ia buru-buru menarik tangannya. “Maaf. Aku cuma lihat-lihat.”
Amalia berdiri di ambang pintu kaca. Pandangannya turun pada maket, kertas kalkir, lalu wajah Sekar yang seketika kembali tampak seperti anak yang tertangkap menyentuh sesuatu yang tidak boleh dimiliki.
“Kalau hanya melihat, jangan menyentuh alat kerja orang lain.”