Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #15

BAB 15: GARIS PERTAHANAN

Kabin sedan listrik itu melesat keluar dari jalur basement gedung Senopati nyaris tanpa suara mesin. Di dalamnya, getaran ponsel Amalia beradu dengan konsol tengah, merobek kesunyian yang terlalu rapat.

Layar menyala.

BIMO (Calling...)

Amalia tidak menoleh. Kedua tangannya mencengkeram kemudi, matanya berpindah cepat dari jalan di depan ke spion belakang.

Di kursi penumpang, Sekar mengerut di balik sabuk pengamannya. Kedua lengannya memeluk tubuh sendiri, sementara telapak kakinya menekan lantai kabin seolah sedang mencari pijakan yang tidak bergerak.

“Tante...” Suaranya pecah. “Maafin aku.”

“Nanti.” Suara Amalia tegas, tetapi tidak meninggi. “Sekarang duduk tegak dan tetap bersama Tante.”

Sekar menutup mulutnya sendiri, berusaha menahan isak.

Getaran berhenti. Layar meredup.

Dua detik kemudian, ponsel itu menyala kembali. Nama Ratih muncul di layar.

Tangan Amalia menegang di kemudi.

Semalam, Ratih meninggalkan pesan suara dengan napas yang nyaris tak berbentuk. Itu saja sudah terasa seperti tindakan yang dibayar mahal. Menelepon langsung seperti ini, saat Bimo sedang memburu Sekar dan mungkin hanya beberapa langkah darinya, berarti sesuatu sudah berubah.

Nama itu di layar tidak lagi terbaca sebagai panggilan. Itu tanda bahaya.

Amalia menggeser ikon hijau. Panggilan tersambung ke speaker mobil.

“Tih.”

Jawaban tidak langsung datang. Hanya napas pendek yang terpantul dari ruang kecil berdinding keramik.

Kamar mandi.

“Mbak...” Suara Ratih nyaris tak lebih keras dari desis. “Sekar... Sekar di situ?”

Amalia menatap jalan di depan. “Dia di sini. Aman bersamaku.”

Di seberang, Ratih melepaskan napas patah yang berubah menjadi isak tertahan.

“Syukurlah... Ya Allah...”

“Aku cuma punya sebentar, Mbak,” bisik Ratih terburu-buru. “Mas Bimo sedang menelepon orang-orangnya di luar.”

“Dengarkan baik-baik, Sekar,” kata Amalia tanpa menoleh.

Lalu suaranya kembali mengeras kepada Ratih. “Dia tahu apa?”

“HP Sekar sempat muncul lagi di aplikasi pelacaknya.” Ratih menarik napas gemetar. “Titiknya di Senopati. Di kantor Mbak. Mas Bimo sudah menyuruh orang ke sana.”

Jari Amalia semakin mengeras di lingkar kemudi.

“Kami sudah keluar dari gedung.”

“Jangan kembali.” Suara Ratih nyaris hilang. “Mbak, Mas Bimo nggak marah. Itu yang bikin aku takut.”

Di kursi penumpang, Sekar membeku.

“Pagi ini dia masuk ke kamar Sekar. Dia merapikan kasurnya sampai licin, lalu tersenyum padaku.” Napas Ratih tersangkut. “Dia bilang, ‘Kita jemput anak kita pulang ya, Tih. Dia hanya tersesat.’”

Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Lihat selengkapnya