Ban sedan listrik itu berdecit tajam di atas lantai epoksi garasi. Mobil belum berhenti sempurna, tetapi pintu baja di belakang mereka sudah beringsut turun dengan dengung motor yang berat.
Garis cahaya matahari Jakarta di lantai perlahan menyempit, lalu hilang. Garasi tenggelam dalam remang.
“Turun.”
Satu kata dari Amalia memotong udara. Suaranya serak, ditahan sekuat mungkin agar tidak pecah.
Sekar mendorong pintu mobil. Lututnya goyah saat menapak lantai. Ia mengekor rapat di belakang tantenya, menembus pintu akses samping yang terhubung langsung ke koridor pantri.
Langkah kaki mereka beradu cepat dengan lantai.
Di ruang makan, gerakan lap mikrofiber Bi Inah terhenti di udara. Perempuan itu menoleh, matanya melebar saat melihat jam dinding yang baru menunjuk pukul 14.10, lalu berganti menatap Amalia.
“Lho? Non Lia? Den Sekar?” Bi Inah mengerjap. “Tumben sekali jam segini su—”
Amalia tidak menjawab. Ia melangkah lebar menuju panel smart home di dinding ruang tengah. Telunjuknya menekan ikon gembok merah di sudut layar.
MODE PRIVACY — ACTIVE
Desis halus merambat dari balik plafon. Tirai blackout turun bersamaan, menutup seluruh jendela kaca dari lantai hingga langit-langit.
Cahaya siang terhalang. Dalam hitungan detik, rumah open-space yang biasanya terang itu berubah menjadi ruang beton yang rapat dan dingin.
Bi Inah menurunkan lapnya perlahan. “Non? Kok ditutup semua? Nanti pengap...”
“Bi.” Amalia berputar, menatap wajah perempuan itu. “Kunci pintu utama. Pasang grendel pintu servis. Jangan buka pagar untuk siapa pun.”
Alis Bi Inah bertaut. “Kalau ada tamu, Non?”
“Tidak ada tamu hari ini.” Suara Amalia tetap datar, tetapi setiap katanya bergerak cepat. “Kalau ada yang datang, jangan menjawab dari pintu. Hubungi saya lewat interkom.”
“Kalau mereka mengaku dari keluarga?”
“Terutama kalau mereka mengaku dari keluarga.”
Bi Inah menatap Sekar di dekat koridor pantri. Gadis itu pucat, kedua lengannya melingkari tubuhnya sendiri seperti perisai terakhir.
“Ada yang mencari Den Sekar?” tanya Bi Inah lirih.
“Bapaknya.”
Wajah Bi Inah berubah.
Perempuan itu mengangguk mantap. “Inggih, Non. Bibi jaga pintu depan.”
Ia berbalik menuju foyer.
Amalia menoleh kepada Sekar. “Duduk jauh dari jendela.”
Sekar bergerak ke sofa, tetapi tidak langsung duduk.
“Tante... soal tadi—”
“Nanti kita bicara.” Amalia menyalakan feed CCTV pada panel dinding. “Sekarang bantu Tante. Ingat semua perangkat dan akun yang pernah bisa diakses bapakmu. HP, laptop, email sekolah, akun media sosial. Semua yang pernah disentuh bapakmu.”
Sekar menelan ludah, lalu mengangguk. Kali ini ia duduk bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk mulai mengingat.
Getaran panjang dari saku blazer Amalia memotong ruangan.
DIAN — OFFICE (Calling…)
Amalia menggeser tombol hijau.
“Dian?”
“Bu Amalia.” Suara Dian terdengar rendah dan terburu-buru. “Mereka datang.”
Amalia menegakkan punggungnya.
“Siapa?”
“Dua pria. Batik rapi, membawa kartu nama perusahaan, mengaku diminta keluarga untuk menjemput keponakan Ibu.” Dian menarik napas cepat. “Security sudah menolak memberi akses, tapi mereka menuntut melihat rekaman CCTV dan daftar tamu pagi ini.”
Tim Bimo.
“Mereka tahu nama Sekar?”
“Mereka tidak menyebut nama. Mereka bilang mencari remaja perempuan yang dibawa Ibu dari Solo.”
Terdengar suara benturan dari seberang. Seseorang meninggikan suara. Bunyi kaki kursi terseret kasar di lantai marmer, disusul pekikan pendek seorang resepsionis.
“Bu, mereka mulai memaksa masuk ke area lift privat.”
Untuk sepersekian detik, jari Amalia membeku di atas layar panel CCTV.
Suara Dian mendadak menjauh. Yang muncul di kepala Amalia justru suara lain, lebih muda, serak oleh panas dan asap, menembus kerumunan manusia di bawah bangunan negara yang sedang limbung.
***
Jakarta, Mei 1998
“Lia! Logistik dari kawan-kawan kampus dicegat di gerbang depan!”
Di hari ketiga rombongan mahasiswa Bandung bertahan di Senayan, Lia berdiri di bawah tangga utama Gedung DPR/MPR, di antara kardus air mineral, dus mi instan, gulungan kain kasa, dan botol Betadine yang tutupnya telah menghitam oleh debu. Udara penuh keringat, asap kretek, dan teriakan mahasiswa yang berkejaran dari satu jalur ke jalur lain.
Seorang relawan muda berhenti di depannya dengan napas putus-putus. “Barikade aparat rapat. Nasi bungkus nggak bisa masuk. Tim medis di sayap utara juga hampir habis air.”
Walkie-talkie di pinggang Lia berderak.
Ia menoleh sekali ke arah gerbang depan. Lalu ke lorong belakang. Lalu ke anak tangga tempat dua mahasiswa membawa kardus perban dengan tangan gemetar.
Satu detik saja.
“Jangan paksa jalur depan,” katanya. Suaranya tidak tinggi, tetapi menembus riuh di sekelilingnya. “Pecah logistik jadi tiga regu. Air dan makanan masuk lewat celah pagar belakang. Jangan bawa kardus besar. Pakai ransel, estafet sampai pos medis.”