Kamis, 15.30 — Rumah Amalia
Rumah Amalia Ciptaningrum berada dalam mode terkunci.
Tirai blackout tebal menutup seluruh bidang kaca dari lantai hingga langit-langit. Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi cahaya putih Jakarta kini tenggelam dalam remang kebiruan dari enam feed CCTV pada panel smart home di dinding.
Pagar depan. Sisi taman. Garasi. Pintu servis. Jalan kompleks. Gerbang baja.
Semuanya kosong.
Di atas meja makan, sebuah kotak logam berlapis material peredam sinyal tergeletak tertutup rapat. Di dalamnya tersimpan ponsel dan laptop Sekar. Di samping kotak itu, kartu SIM mungil berada dalam wadah bening, terlalu kecil untuk benda yang hampir meruntuhkan seluruh perlindungan mereka.
Di sofa panjang berlapis linen abu-abu, Sekar tertidur meringkuk. Rambutnya masih acak-acakan. Kedua tangannya terlipat di bawah pipi, seperti anak kecil yang tertidur sebelum sempat memastikan mimpi buruknya benar-benar selesai.
Di meja rendah dekat sofa, mangkuk sop hangat buatan Bi Inah tinggal separuh. Sekar hanya sempat menyuap beberapa sendok sebelum tubuhnya menyerah pada lelah dan tangis yang terkuras habis.
Dari arah dapur, terdengar bunyi piring diletakkan sangat pelan. Bi Inah bergerak tanpa menyalakan lampu tambahan, seolah suara sendok yang terlalu keras pun dapat memberi tahu dunia luar bahwa rumah ini sedang menyembunyikan seseorang.
Amalia duduk di kursi tunggal tepat di seberang sofa.
Blazer charcoal-nya belum dilepas. Rambutnya masih tersanggul rapi, tetapi beberapa helai telah terlepas dan menempel pada pelipis yang lembap. Di pangkuannya, sebuah tablet menampilkan daftar yang ia susun sejak telepon Dian berakhir.
RISIKO AKTIF
1. Bimo — mengetahui titik terakhir Sekar di Ciptaningrum Atelier.
2. Dua pria tidak dikenal — mencoba mengakses lobi dan rekaman gedung.
3. Dinda — kontak terakhir Sekar. Belum diketahui tingkat paparan.
4. Banyu Aditama — wajah dipotret oleh pihak Bimo.
Nama terakhir itu membuat ujung jarinya berhenti di layar.
Banyu tidak seharusnya berada di daftar tersebut.
Ia datang ke kantornya sebagai calon klien. Datang pada jadwal yang Amalia sendiri setujui. Lalu dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia berubah menjadi saksi intimidasi, penghalang di lobi, dan wajah baru yang dibawa pergi dalam kamera ponsel orang-orang Bimo.
Amalia menarik napas perlahan.
Panel CCTV masih menunjukkan jalan kompleks tetap kosong. Mobil lewat tanpa melambat. Pagar depan tidak menyimpan sosok apa pun. Tembok hanya memantulkan remang lampu luar.
Belum.
Tablet di pangkuannya berbunyi lirih. Satu pesan masuk dari Dian.
DIAN
Laporan insiden sudah dikirim ke pengelola gedung dan kuasa hukum kantor, Bu. Rekaman lobi sudah disalin terpisah. Pak Banyu masih berada di kantor untuk memberikan pernyataan saksi. Semua staf sudah aman.
Amalia membaca pesan itu dua kali.
Di sofa, Sekar bergerak kecil dalam tidurnya. Bibir gadis itu mengeluarkan suara tak utuh, lalu kembali diam.
Amalia menatap wajah pucat keponakannya.
Yang membuat mereka datang adalah pilihan bapakmu untuk memburumu.
Kalimat yang ia ucapkan di mobil tadi masih tinggal di kepalanya. Benar. Sepenuhnya benar.
Ada bagian lain yang tidak bisa ia bantah. Ia membawa Sekar ke kantor. Ia membuka pintu menuju dunia profesionalnya karena tidak ingin gadis itu merasa dikurung. Ia memberi udara, tetapi lupa bahwa udara terbuka selalu memiliki mata.
Ponsel titanium yang tergeletak di sisi kursinya bergetar satu kali.
Layar menyala.
BANYU ADITAMA (Calling...)
Nama itu belum pernah muncul di layar pribadinya sebelum hari ini.
Pagi tadi, Banyu hanya sebuah agenda di kalender kantor. Siang tadi, ia menjadi suara di ujung telepon Dian yang berdiri di antara lobi dan ancaman. Setelah itu, Amalia sendiri yang mengizinkan Dian menyerahkan satu jalur yang selama bertahun-tahun ia tutup rapat.
Sekarang nama Banyu berdiri di layar pribadinya.
Pintu itu sudah ia buka sendiri. Tetap saja, melihat seseorang benar-benar mengetuk dari seberangnya membuat dadanya menegang.
Amalia tidak langsung menjawab.
Matanya terlebih dahulu bergerak ke panel CCTV, lalu ke tubuh Sekar yang tertidur, lalu ke lorong menuju dapur tempat Bi Inah masih berjaga dalam diam. Baru setelah itu ia menggeser ikon hijau.
“Halo.”
Suara Amalia terdengar lebih parau daripada yang ia inginkan.
Di seberang sana, Banyu tidak langsung berbicara. Hanya ada bunyi samar pintu kaca tertutup dan dengung pendingin udara sebuah ruangan besar.
“Kamu aman bicara?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu begitu sederhana hingga Amalia membutuhkan satu detik lebih lama untuk menjawab.
“Ya.”
“Sekar ada bersamamu?”
Tatapan Amalia jatuh pada tubuh kecil di sofa.
“Ya. Dia tidur.”
“Baik.” Suara Banyu tetap rendah, terkendali. “Aku sudah memberikan pernyataan kepada pengelola gedung dan security. Dian menyimpan salinan rekaman lobi di penyimpanan terpisah. Dua orang tadi tidak kembali ke kantor.”
“Belum,” jawab Amalia.
Jeda pendek muncul di antara mereka.
“Belum,” ulang Banyu. “Salah satu dari mereka mengambil fotoku sebelum pergi. Jadi kemungkinan besar sekarang mereka tahu aku ikut menghalangi akses mereka.”
Amalia memejamkan mata.
“Seharusnya kamu tidak terseret ke dalam ini, Nyu.”
“Aku datang atas jadwal yang sudah kita sepakati.”
“Itu tidak membuatmu wajib berdiri di depan dua orang kiriman Bimo.”
“Tidak, Lia,” kata Banyu. “Aku memilih melakukannya.”
Kata memilih itu membuat Amalia membuka mata kembali.