Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #19

BAB 19: MEJA PERUNDINGAN

Jumat, 12.20 — Private Dining Room, hotel butik di kawasan Dharmawangsa

Sedan listrik Amalia menyelinap masuk melalui jalur basement yang telah dikonfirmasi Banyu tiga puluh menit sebelumnya. Sejak mobil operasional kantor bergerak menuju site kosong di Cibubur kemarin sore, tidak ada satu kendaraan asing pun yang tertangkap berhenti di depan gerbang rumahnya. Itu belum berarti aman. Hanya berarti kamuflase mereka belum terbukti gagal.

Sepanjang perjalanan dari rumah, mata Amalia tidak berhenti memindai spion tengah, mencatat setiap kendaraan yang mengikuti mereka melewati lebih dari dua persimpangan.

Di kursi penumpang, Sekar mengenakan topi baseball hitam dan masker medis. Kedua tangannya memeluk ransel kecil tanpa perangkat elektronik apa pun di dalamnya.

“Kita aman, Tan?” tanyanya pelan.

“Belum ada istilah aman,” jawab Amalia. Ia mematikan mesin. “Hanya rute yang sejauh ini belum bocor.”

Sekar menelan ludah.

“Dekat dengan Tante. Jangan lepaskan masker sebelum pintunya tertutup.”

Sekar mengangguk.

Mereka turun dari mobil dan bergerak menuju lift privat yang langsung membawa mereka ke koridor private dining.

Di ujung koridor, seorang pramusaji menunduk dan membukakan pintu kayu oak bertanda Brawijaya.

Di dalam, Banyu Aditama telah menunggu. Ia berdiri di sisi meja bundar, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Di atas meja, sebuah teko teh, tiga cangkir yang telah terisi tetapi belum disentuh, dan sebuah tas dokumen kulit hitam tersusun rapi.

Ia tidak bergerak mendekati mereka.

“Terima kasih sudah datang,” katanya.

Tatapannya terlebih dahulu berhenti pada Amalia, menunggu.

“Ini Sekar,” kata Amalia.

Sekar membuka maskernya sendiri. “Siang, Om.”

“Aku Banyu.” Suaranya rendah, tidak memaksa akrab. “Kamu tidak perlu menjawab apa pun yang belum siap kamu jawab.”

Sekar melirik Amalia sebentar, lalu menarik kursinya sendiri.

Banyu menunjuk pintu kecil di sisi kanan ruangan. “Akses keluar kedua menuju koridor servis. Koridor utama dan basement tetap terpantau kamera hotel. Menurut manajer private dining, ruangan ini tidak memiliki kamera internal.”

Amalia belum duduk. Matanya tetap menelusuri kisi ventilasi, panel dinding, pintu servis, dan jarak meja menuju kedua akses keluar.

Baru setelah pemeriksaannya selesai, ia mengambil kursi di samping Sekar.

“Kamu bilang punya dokumen,” kata Amalia.

Banyu membuka tas kulit hitamnya. Ia mengeluarkan sebuah map tipis bersegel transparan dan meletakkannya di tengah meja.

Di halaman paling atas, tercetak nama perusahaan dalam huruf kapital.

NUSANTARA GRID.

Amalia tidak menyentuh map itu.

“Mulai dari awal.”

Banyu mengangguk pelan.

“Dua tahun lalu, aku pernah berhadapan langsung dengan Bimo Mahardhika,” kata Banyu. “Di meja bisnis. Dari sana aku tahu satu hal, dia tidak suka kehilangan kendali.

Ia membuka halaman pertama. Sebuah salinan term sheet dengan beberapa angka valuasi diberi tanda stabilo kuning.

“Sekitar tiga tahun lalu, aku menjadi angel investor untuk sebuah start-up cloud computing lokal. Perusahaannya kecil, tetapi teknologinya bagus. Infrastruktur mereka mulai menarik perhatian beberapa pemain besar.”

“Nusantara Grid?” tanya Amalia.

“Ya.” Jari Banyu berhenti pada sebuah angka. “Bimo datang membawa tawaran akuisisi yang nilainya bahkan tidak cukup untuk menutup putaran investasi terakhir kami. Founder-nya menolak.”

Sekar menatap nama perusahaan di atas kertas itu. “Terus Bapak ngapain?”

Banyu menoleh kepadanya. Ia tidak segera menjawab, seolah memilih bentuk kalimat yang tidak perlu lebih kejam daripada kenyataannya.

“Tiga hari kemudian, kantor start-up itu didatangi sekelompok orang yang menuduh perizinan mereka bermasalah. Tidak lama setelah itu, server mereka disita dalam pemeriksaan. Pasokan listrik ke pusat operasional mereka diputus. Perusahaan yang bergantung pada uptime tidak bisa bertahan tanpa server dan listrik.”

Ia membalik halaman berikutnya. Kronologi tanggal, nomor laporan, potongan korespondensi, dan salinan dokumen lelang tersusun rapi di sana.

“Founder-nya adalah kawan baikku,” lanjut Banyu. “Dia mengalami serangan jantung ketika berusaha mempertahankan perusahaannya. Beberapa minggu setelah itu, perusahaan dinyatakan tidak mampu bertahan. Dalam lelang tertutup, sebagian besar asetnya dibeli Nusantara Grid dengan harga jauh di bawah valuasi awal.”

Tangan Sekar di atas pangkuannya mengepal.

“Om punya bukti Bapak yang menyuruh semua itu terjadi?”

“Belum cukup untuk mengatakan itu di pengadilan,” jawab Banyu jujur. “Aku punya urutan kejadian, bukti transaksi, korespondensi sebelum akuisisi, dan nama-nama pihak yang diuntungkan setelah perusahaan itu jatuh. Cukup untuk menunjukkan pola kerjanya. Belum cukup untuk menjatuhkannya sendirian.”

Sekar menatap map itu seolah benda tersebut baru saja membuka pintu ke ruangan lain dalam hidup ayahnya.

“Kalau Bapak bisa melakukan itu ke perusahaan...” Suaranya mengecil. “Apa yang akan dia lakukan ke aku?”

Banyu tidak menjawab lebih dulu.

Amalia meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Yang sama dalam bentuk berbeda,” katanya.

Sekar menoleh.

“Dia menutup jalan keluar. Membuat semua orang percaya targetnya adalah masalah. Lalu menawarkan kepatuhan sebagai satu-satunya jalan agar keadaan kembali tenang.”

Wajah Sekar memucat.

Lihat selengkapnya