Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #20

BAB 20: PATINA

Jumat sore, hujan deras menggempur Jakarta ketika sedan listrik Amalia merayap masuk ke garasi privat rumahnya. Pintu baja menutup di belakang bumper mobil, memutus pandangan ke jalan luar. Di atas atap, ribuan tetes air beradu rapat, menenggelamkan suara kota menjadi satu dengung kelabu yang panjang.

Amalia mematikan mesin. Ia tidak langsung keluar.

Pertemuan di Dharmawangsa telah berakhir berjam-jam lalu. Ia tidak membawa Sekar pulang melalui rute terpendek. Dua kali ia memutar masuk ke basement gedung berbeda. Sekali ia berhenti di bawah kanopi minimarket yang sepi, membiarkan sebuah SUV hitam melaju lebih dulu sebelum kembali bergerak. Ketika hujan Jumat mulai melumpuhkan jalanan dan tidak ada kendaraan yang bertahan di belakang mereka lebih dari tiga persimpangan, barulah ia mengarahkan mobil menuju rumah.

Di kursi belakang, map tipis bertanda NUSANTARA GRID terbaring di dalam tas dokumen kulit hitam. Diam. Tidak lebih tebal dari beberapa sentimeter. Keberadaannya tetap memenuhi seluruh kabin.

Di kursi penumpang, Sekar duduk memeluk ransel kecil tanpa perangkat elektronik di dalamnya. Wajah gadis itu pucat oleh hari yang terlalu panjang.

Pertemuan siang tadi tidak memberi mereka rasa aman. Pertemuan itu hanya memberi nama pada sesuatu yang sejak awal sudah memburu mereka.

“Turun,” kata Amalia akhirnya.

Sekar mengangguk kecil.

Begitu pintu samping terbuka, aroma kuah hangat menyambut mereka dari arah dapur. Bi Inah muncul dari balik pantri dengan celemek masih terpasang di pinggangnya.

“Non Lia? Den Sekar?” Matanya berpindah cepat dari wajah Amalia ke Sekar yang basah oleh sisa hujan dan kelelahan. “Bibi panaskan sopnya lagi, ya.”

Sekar tampak hendak menolak, tetapi Amalia sudah meletakkan tas dokumennya di atas meja island.

“Makan dulu,” katanya.

Nada itu tetap datar. Tetapi kali ini Sekar tidak mendengarnya sebagai perintah yang menutup jalan.

Dua puluh menit kemudian, setengah mangkuk sop bening di hadapan Sekar telah habis. Gadis itu memegang sendok dengan kedua tangan, seolah benda kecil itu membantunya tetap berada di tempat.

“Kamar tamu tetap kamarmu selama kamu di sini,” kata Amalia. “Besok Tante tunjukkan ruang arsip basement dan cara membukanya dari dalam. Bukan untuk tempat tinggal. Hanya kalau keadaan benar-benar darurat.”

Sekar mengangkat wajahnya.

“Bukan untuk tidur kan, Tan?”

“Bukan.”

Bahu Sekar turun sedikit.

“Iya, Tan.”

Ia bangkit perlahan dan berjalan menuju tangga. Di anak tangga pertama, langkahnya berhenti.

“Makasih sopnya, Bi.”

Bi Inah tersenyum kecil. “Inggih, Den. Tidur yang nyenyak.”

Sekar menghilang ke lantai dua.

Amalia tidak segera memeriksa pintu atau panel CCTV. Ia mengambil tas dokumen dari meja island dan membawanya masuk ke studio.

Di dalam laci meja kerjanya terdapat buku log bersampul hitam yang selama ini ia gunakan untuk mencatat arsip desain fisik yang tidak boleh masuk server kantor. Amalia membuka halaman kosong dan menulis dengan tinta hitam:

Jumat, 17.58 — Salinan kerja dokumen Nusantara Grid diterima dari Banyu Aditama. Tidak didigitalisasi. Disimpan di kabinet baja studio, laci tiga.

Ia menandatangani catatan itu, lalu memasukkan map ke dalam kabinet baja di balik panel kayu. Kunci mekanis diputar dua kali.

Klik.

Baru setelah dokumen itu berada di tempat yang dapat ia pertanggungjawabkan, Amalia kembali ke ruang tengah. Selama hampir satu jam, ia memeriksa ulang perimeter rumahnya. Pintu utama. Pintu servis. Feed CCTV. Sensor gerak. Setiap celah di antara tirai blackout.

Semuanya kosong. Semuanya terkunci. Sistem keamanan bekerja sempurna.

Anehnya, dada Amalia tidak terasa lebih ringan.

Menjelang pukul delapan malam, Bi Inah telah mundur ke area servis. Di dapur bersih, Amalia menyiramkan air mendidih ke atas bunga chamomile kering, lalu berdiri dalam remang cahaya pantri dengan cangkir hangat di kedua tangannya.

Biasanya, kesunyian rumah ini adalah obat.

Malam ini, kesunyian itu terasa terlalu rapat.

Di kabinet terkunci studionya, ponsel dan laptop Sekar tersimpan di dalam wadah peredam sinyal atas persetujuan gadis itu sendiri. Secara logika, keputusan itu benar. Perangkat-perangkat tersebut adalah jalur tercepat Bimo untuk menemukan mereka kembali.

Tetapi keputusan yang benar tidak otomatis terasa ringan bagi gadis tujuh belas tahun yang selama ini tidur, berteman, belajar, dan melarikan diri dari pikirannya sendiri melalui sebuah layar.

Sret.

Sret.

Lihat selengkapnya