Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #21

BAB 21: PERSPEKTIF LUAR

Sabtu, 14.00 — Sari Gallery, Kemang

Sinar matahari jatuh tajam melalui skylight kaca, menerangi partikel debu halus yang melayang lambat di dalam galeri. Aroma terpentin, minyak linseed, dan kopi arabika dari bar kecil di sudut bercampur di udara. Klakson lalu lintas Kemang yang macet tertahan oleh dinding beton.

Sret.

Pintu kaca geser terbuka. Ketukan stiletto Amalia menghantam lantai semen poles dengan ritme yang terlalu cepat untuk Sabtu siang.

Ia membelah ruang pameran. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram tali tas di bahunya hingga kulitnya meregang. Matanya lurus ke depan, tidak memedulikan sekeliling.

Di tengah ruangan, Sari berdiri di samping tangga aluminium, sibuk mengarahkan posisi instalasi lampu. Sebatang pensil grafit 2B terselip mengunci rambut keritingnya. Mendengar derap stiletto itu, Sari menoleh.

Lengannya yang menjulur perlahan turun. Senyumnya pudar. Mata Sari yang terlatih membaca proporsi visual langsung menangkap rahang Amalia yang terkunci kaku dan jejak keunguan di bawah kantung matanya.

“Astaga.” Sari menepuk tangga, memberi kode pada pekerjanya. Ia menyongsong langkah sahabatnya. “Lihat siapa yang keluar dari sarkofagus betonnya di weekend.”

Langkah Sari terhenti tepat setengah meter. Matanya memicing.

“Muka lo kayak mayat hidup, Li.”

Sari menunjuk lorong belakang. “Ayo. Lo butuh dosis yang lebih kuat dari sekadar kafein.”

Ruang studio kerja Sari di belakang galeri adalah antitesis dari Ciptaningrum Atelier. Di sini, bau cat akrilik mendominasi. Gulungan kanvas kasar bertumpuk menyandar pada susunan batu bata merah.

Sari menyapu kasar setumpuk katalog lelang dari atas kursi armchair kulit bertekstur retak.

“Duduk.”

Amalia menjatuhkan dirinya. Tulang punggungnya merosot, kepalanya bersandar lemas pada bantalan kulit dingin. Matanya terpejam.

Sebelum meninggalkan rumah, Amalia telah mengulang instruksinya kepada Bi Inah dua kali. Jangan buka pintu untuk siapa pun, jawab gerbang hanya melalui interkom, dan pastikan Sekar tetap di lantai atas bila ada kendaraan asing berhenti di depan pagar.

Sekar sendiri masih berada di kamar tamu, dengan buku Tadao Ando dan sketchpad abu-abu di atas kasurnya. Pagi tadi, Amalia telah menunjukkan ruang arsip basement kepadanya—pintu baja, ventilasi mandiri, tombol buka dari dalam. Ruangan itu hanya akan dipakai bila keadaan benar-benar darurat. Sekar tidak akan tidur di sana, dan hidupnya tidak akan disembunyikan di balik pintu baja.

Amalia hanya mengatakan ia akan keluar sebentar.

Ia tidak datang langsung ke Kemang. Dua kali ia memutar rute, sekali masuk ke basement gedung komersial dan keluar melalui jalur berbeda, memastikan tidak ada kendaraan yang bertahan di belakangnya. Baru setelah itu ia mengarahkan sedan menuju galeri Sari.

Ia tidak mengatakan bahwa ia keluar karena kalau satu jam lagi tetap berada di dalam rumah itu sambil memikul seluruh ketakutannya sendiri, ia tidak yakin masih mampu membedakan perlindungan dari kepanikan.

Di sudut pantry kecil, terdengar gesekan panci baja disusul suara mendesis susu segar yang menyentuh panas tungku. Sepuluh menit kemudian, aroma cokelat artisan Belgia yang dilelehkan merajai ruangan.

Sari meletakkan cangkir keramik tebal berwarna terracotta di atas meja kayu buram, lalu menarik bangku rotan di seberang Amalia.

Amalia membuka matanya perlahan. Ia mengusap seluruh wajahnya dengan telapak tangan, menarik napas panjang, lalu melepaskannya dalam satu helaan gemetar.

“Otak gue rasanya mau meledak, Sar.”

“Kelihatan.” Sari duduk di bangku rotan seberangnya, menyesap cokelat panasnya sekali. “Dan gue kenal lo cukup lama untuk tahu lo nggak dateng ke Kemang di Sabtu siang cuma karena pengin minum cokelat.”

Amalia menatap permukaan minumannya. Selaput tipis mulai terbentuk di atas cairan cokelat yang terlalu panas untuk segera disentuh.

“Keponakan gue dateng ke rumah Rabu tengah malem.”

Alis Sari terangkat. “Keponakan yang mana?”

“Sekar. Anaknya Ratih.”

Cangkir Sari berhenti di tengah jalan menuju bibirnya.

“Dia kabur dari rumah,” lanjut Amalia. “Basah kuyup. Bawa ransel. Berdiri di depan gerbang gue hampir tengah malem dan bilang dia nggak mau pulang.”

Seluruh sisa nada bercanda di wajah Sari lenyap. “Sekarang dia di mana?”

“Di rumah gue. Sama Bi Inah.”

“Ratih gimana?”

“Tahu. Dia sempat telepon gue diam-diam dari kamar mandi.” Jari Amalia menekan badan cangkirnya. “Tapi gue belum yakin dia bisa bergerak bebas.”

Sari menurunkan cangkirnya pelan-pelan. “Suaminya?”

“Nyari dia.” Jari Amalia menekan badan cangkirnya. “Sekar sempat nyalain HP-nya dari kantor gue. Ternyata masih ada aplikasi pemantau yang dipasang bapaknya. Lokasinya terkirim.”

“Sial.”

“Siangnya dua orang datang ke lobi kantor. Mereka minta daftar tamu dan rekaman CCTV. Waktu ditolak, mereka mulai nekan staf gue.”

Sari mengembuskan napas pelan. “Mereka tahu rumah lo?”

“Belum. Seenggaknya belum.”

“Dan Sekar?”

“Masih ketakutan.” Suara Amalia turun. “Pagi tadi gue tunjukkin ruang arsip basement di rumah gue. Pintu baja. Ventilasi mandiri. Bisa dibuka dari dalam. Cuma untuk keadaan darurat.”

Sari menatapnya tanpa berkedip.

“Pertanyaan pertama dia bukan gimana cara masuk,” lanjut Amalia. “Dia tanya, itu bukan untuk tidur, kan?”

Sari memejamkan mata sebentar.

“Gue bilang bukan. Gue bilang dia nggak akan dipindahkan atau dikunci tanpa tahu alasannya.”

“Bagus,” kata Sari pelan. “Buat anak yang hidupnya selalu diputuskan orang lain, dikasih tahu kalau dia masih bisa membuka pintunya sendiri itu bukan hal kecil.”

Amalia tidak menjawab.

Untuk beberapa detik, hanya suara samar pekerja galeri di luar studio yang terdengar: gesekan tangga aluminium, gulungan kabel ditarik, dan dentingan logam yang jauh.

“Semalem,” kata Amalia tiba-tiba, “dia nyalain TV.”

Sari mengerutkan kening. “TV?”

“HP sama laptopnya gue simpen di wadah peredam sinyal. Akses digitalnya gue tutup dulu. Malamnya dia malah milih siaran TV biasa.” Sudut bibir Amalia bergerak kecil. “Terus dia nemu tayangan ulang stand-up-nya Radit.”

“Raditya Dika?”

“Radit siapa lagi, Sar?”

Sari tidak tertawa. Ia hanya menunggu.

“Materinya soal keluarga. Hajatan. Orang-orang yang merasa hidup perempuan lain boleh mereka audit seenaknya.” Amalia mengusap ibu jarinya pada badan cangkir. “Ada bagian ‘kapan kawin’. Gue pikir gue bakal matiin tuh TV-nya.”

“Tapi?”

“Sekar ketawa.”

Amalia terdiam sejenak, seolah suara itu masih berada di ruang tengah rumahnya.

“Awalnya kecil. Kayak orang yang hampir nangis. Terus lama-lama dia beneran ngakak. Popcorn jatuh ke karpet. Kaleng sodanya ninggalin lingkaran air di meja kopi. Bantal sofa gue miring.”

Sari menunggu.

“Dan gue duduk di sebelahnya.”

Mata Sari membesar sedikit.

Lihat selengkapnya