Minggu, 03.00 — Rumah Amalia
Angka digital merah di atas nakas berkedip tanpa suara.
Amalia menatap bayangan ranting pohon yang bergerak tipis di langit-langit kamarnya. Aroma terpentin dari galeri Sari sore tadi masih melekat samar di ujung hidungnya, bercampur dengan kalimat yang belum juga berhenti menggores pikirannya.
Lo nggak bisa jadi pusat dari semua jalur perlindungan Sekar, Li.
Lalu kalimat lain yang lebih sulit dibungkam.
Lo takut karena sekarang ada sesuatu yang benar-benar pengen lo pertahanin.
Amalia menyingkap selimutnya. Kain sutra abu-abu itu meluncur ke lantai tanpa ia pedulikan.
Ia butuh air.
Atau setidaknya satu aktivitas sederhana yang tidak menuntutnya memikirkan Bimo, Ratih, Banyu, dokumen Nusantara Grid, dan anak tujuh belas tahun yang kini tidur di bawah atapnya karena rumah asalnya tak lagi aman.
Langkah telanjangnya menuruni tangga oak menuju ruang tengah. Di undakan terakhir, ia berhenti.
Cahaya kuning redup menyala di sisi sofa. Sekar tertidur meringkuk di sana, masih mengenakan kaus kebesaran dan celana piyama katun. Selimut kasmir hanya menutupi separuh tubuhnya. Satu lengannya terkulai ke bawah, hampir menyentuh lantai.
Di bawah jemarinya, sebuah sketchpad abu-abu terbuka. Amalia mengenali sketchpad itu. Benda yang ia berikan di ruang kerjanya dua hari lalu. Sketchpad pertama yang dipakai Sekar karena ia sendiri ingin menarik garis.
Pandangan Amalia bergerak ke meja kopi. Ponsel titanium miliknya terbaring di atas bantalan pengisi daya nirkabel. Layarnya gelap. Sekar tahu ponsel itu ada di sana. Tahu bahwa satu permintaan, satu panggilan, atau satu percobaan saja mungkin cukup untuk mendengar suara ibunya.
Tetapi ia tidak menyentuhnya.
Amalia mendekat tanpa suara. Di atas kertas, Sekar menggambar sebuah pintu kamar sederhana. Pintu itu tertutup. Di baliknya, hanya tampak bayangan seorang perempuan duduk di lantai dengan kedua tangan memeluk lutut.
Di bagian bawah halaman, tertulis tiga baris kalimat. Tulisan tangan Sekar menekan begitu keras hingga guratannya meninggalkan lekukan pada lembar berikutnya.
Bu, aku aman.
Ibu aman nggak?
Aku pengin dengar suara Ibu.
Dada Amalia terasa menyempit.
Di sofa itu, ada seorang anak yang sedang menahan rindu karena ia mulai memahami bahwa setiap jalan menuju ibunya bisa berubah menjadi pintu masuk bagi Bimo.
Amalia menarik napas pelan. Ia mengambil ujung selimut kasmir yang jatuh ke lantai, lalu menutupkannya kembali ke bahu Sekar. Gerakannya masih canggung, terlalu hati-hati, seolah tubuh gadis itu adalah material rapuh yang bisa retak oleh tekanan salah sedikit saja.
Sekar tidak bangun.
Tatapan Amalia jatuh sekali lagi pada ponsel di atas meja, lalu pada tulisan di sketchpad. Kotak peredam sinyal bukan masalah sebenarnya. Masalahnya adalah Ratih masih berada di sisi pintu yang lain.
Amalia mematikan lampu baca kecil itu. Ruang tengah kembali remang, menyisakan cahaya merah tipis dari panel keamanan di dinding.
Ia tidak jadi mengambil air.
***
Minggu, 06.15 — Dapur Rumah Amalia
Cahaya pucat menembus skylight, jatuh di atas coffee bar marmer yang masih bersih dari sidik jari. Satu cangkir keramik putih berdiri di bawah mesin espresso. Tetesan kopi hitam jatuh dengan ritme terukur. Amalia melepaskan portafilter, merapikan kembali gagangnya, lalu membuka kulkas.
Ia mengeluarkan kotak nasi semalam, dua butir telur, irisan dada ayam, dan satu wadah kecil daun bawang yang biasa ia gunakan hanya sebagai garnish.
Wajan berdenting di atas kompor induksi. Mentega mencair. Bawang putih menyentuh panas. Aroma gurih perlahan memenuhi dapur, mengalahkan wangi diffuser cendana yang biasanya mendominasi pagi-pagi di rumah itu.
Terdengar gesekan langkah di lantai parket.
Sekar berdiri di ambang dapur dengan rambut acak-acakan dan wajah sembap karena tidur yang tidak benar-benar utuh. Tangannya menggenggam sisi kausnya, seperti belum yakin apakah ia boleh berada di ruangan itu sepagi ini.
“Pagi, Tante.”
Amalia tidak menoleh dari wajan.
“Telurnya ceplok atau dadar?”
Sekar berkedip. “Eh... ceplok, Tan. Setengah matang.”
“Ambil dua piring dari laci bawah.”
Sekar segera bergerak. Ia mengambil dua piring keramik dari laci bawah dan meletakkannya di atas meja island dengan hati-hati, hampir tanpa suara.
Tidak lama kemudian, nasi goreng sederhana, telur ceplok setengah matang, dan potongan ayam hangat tersaji di hadapan mereka.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Hanya bunyi garpu yang menyentuh piring, desis kecil kompor yang belum sepenuhnya padam, dan napas Sekar yang perlahan kembali teratur.
“Asinnya pas?” tanya Amalia tanpa mengangkat wajah.
Sekar mengangguk cepat. “Pas, Tan.”
Ia mengambil dua suapan lagi. Lalu gerakannya melambat.
“Tante.”
“Ya?”
Sekar menatap kuning telur di piringnya. Ujung garpunya menusuk nasi tanpa benar-benar mengambilnya.
“Kalau HP-ku nggak boleh dinyalain karena bisa dilacak...” Ia menarik napas pendek. “Aku bisa telepon Ibu pakai HP Tante, kan?”
Tangan Amalia yang sedang meraih cangkir kopi berhenti.
Sekar buru-buru menggeleng kecil. “Aku nggak ambil HP Tante semalam. Aku lihat ada di meja, tapi aku nggak ambil. Aku cuma... kepikiran.”
Amalia meletakkan kembali cangkirnya.
“Bisa,” katanya.
Kepala Sekar langsung terangkat. Untuk satu detik, ada cahaya yang hidup kembali di wajahnya.
“Tapi masalahnya bukan hanya ponselmu,” lanjut Amalia.
Cahaya itu menahan diri. Tidak padam sepenuhnya, tetapi berhenti berkembang.
“Ibumu masih berada serumah dengan bapakmu,” kata Amalia. “Kalau Tante meneleponnya sekarang, panggilan itu akan muncul di perangkatnya. Kalau bapakmu memeriksa riwayat telepon, dia tahu ibumu berkomunikasi dengan kita.”
Sekar menelan ludah.
“Kalau dia memaksa ibumu menelepon kembali,” lanjut Amalia, “kita tidak akan tahu apakah ibumu berbicara sendirian atau dengan seseorang berdiri di belakangnya.”
Wajah Sekar perlahan memucat.
“Waktu Ibu telepon kita di mobil...” katanya pelan.
“Dia mengambil celah yang sangat sempit. Dan dia hampir ketahuan.”
Sekar menunduk. Jari-jarinya merapat pada gagang garpu.
“Jadi aku nggak boleh dengar suara Ibu sama sekali?”
Pertanyaan itu jatuh begitu pelan, tetapi membuat dada Amalia kembali menegang.
“Boleh,” jawabnya akhirnya. “Tapi bukan lewat cara yang membuat ibumu menanggung bahayanya sendirian.”
Sekar tidak menjawab.
“Tante sedang mencari jalur yang lebih aman.”
“Jalur apa?”
Amalia menatapnya.
“Belum tahu.”
Sekar tampak terkejut. Bukan karena jawaban itu menenangkan, tetapi karena Amalia tidak berusaha menutupi ketidaktahuannya dengan instruksi baru.
“Tapi Tante akan cari,” lanjut Amalia.
Sekar mengangguk kecil.
Ia kembali makan, jauh lebih pelan daripada sebelumnya.
Setelah piringnya kosong, Sekar membawanya ke wastafel. Tangannya membilas piring dengan gerakan diam-diam, seperti berusaha tidak menambah satu pun masalah baru ke dalam rumah itu. Amalia memandangi punggung kurus gadis itu. Di kepalanya, satu daftar baru mulai terbentuk.
Jalur komunikasi aman untuk Ratih. Prioritas.
Beberapa menit kemudian, daftar lain menyusul, jauh lebih domestik.
Susu cokelat. Sereal. Pembalut. Sampo. Sketchpad tambahan. Pensil 2B. Penghapus.
Tak lama setelah itu, pesan Bi Inah masuk.
BI INAH
Bu, ini mau Bibi pesankan antar ke rumah saja?
Amalia menatap kalimat itu.
Ke rumah.
Selama ini, belanja rumahnya nyaris tidak pernah berubah. Kopi. Bahan makanan. Pembersih lantai. Deterjen dengan merek yang sama. Pesanan seperti itu bisa datang tanpa menarik perhatian siapa pun.
Daftar baru di layar terasa berbeda. Pembalut, susu cokelat, dan alat gambar akan membuat rumahnya tampak tiba-tiba dihuni remaja perempuan.
Pengiriman langsung juga berarti alamat rumahnya kembali tercatat di aplikasi, di struk, atau di ingatan kurir yang terlalu memperhatikan pagar baja dan kotak tanaman rapi di depan rumah.
Amalia mengetik balasan.
AMALIA