Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #23

BAB 23: DEVIASI DUA MILIMETER

Senin, 08.10 — Rumah Amalia

Cahaya matahari pagi menebas lantai parket melalui celah kerai.

Sekar berdiri di dekat pintu akses basement dengan ransel kanvas kecil menempel di dadanya. Ia mengenakan kemeja katun sederhana dari ranselnya sendiri, celana jeans gelap, dan sepatu kets yang talinya tampak telah diikat ulang lebih dari sekali.

Di tangannya, sketchpad abu-abu pemberian Amalia dipeluk lebih erat daripada ransel itu sendiri. Amalia berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ponsel di tangannya baru saja menampilkan satu pesan pendek.

PAK BUDI

Saya sudah di basement, Bu.

Jempol Amalia bergerak cepat.

AMALIA

Antar sesuai rute yang sudah disepakati. Gunakan MPV, bukan sedan saya. Tetap standby sampai saya memberi instruksi berikutnya.

Pesan terkirim.

“Sudah siap?” tanya Amalia.

Sekar mengangguk terlalu cepat. “Siap.”

Amalia menatap tali ransel yang diremas Sekar hingga berkerut. Jawaban itu terlalu rapi untuk disebut tenang. Gadis itu sedang berusaha memastikan rasa takutnya tidak berubah menjadi alasan untuk tetap dikurung di rumah.

“Kalau berubah pikiran—”

“Aku bilang ke Tante Sari,” potong Sekar cepat, lalu tampak menyesal karena menyela. “Atau pakai telepon studio buat hubungi Tante. Pak Budi masih nunggu di parkir servis. Aku ingat.”

Amalia terdiam. Semua instruksi tambahan berhenti di belakang giginya.

Sekar sudah tahu dunia di luar sana berbahaya. Ia tidak perlu diberangkatkan dengan ketakutan tambahan di punggungnya.

Amalia melangkah mendekat. Ujung kerah kemeja Sekar terlipat sedikit ke dalam. Ia merapikannya dengan dua jari, gerakan singkat yang membuat Sekar membeku.

“Bawa sketchpad-mu pulang lagi,” kata Amalia. “Dan tidak ada kewajiban menghasilkan apa pun hari ini.”

Sudut bibir Sekar bergerak samar. “Cuma lihat-lihat?”

“Cuma lihat-lihat juga sudah cukup.”

Sekar menarik napas. “Aku berangkat.”

Amalia mengangguk sekali. Sekar berjalan menuju pintu basement. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika ia menoleh.

“Tante.”

“Ya?”

“Makasih udah tetap ngebolehin aku pergi walaupun Tante takut.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dada Amalia tersentak halus.

“Hati-hati,” katanya.

Sekar tersenyum kecil, lalu membuka pintu. Bunyi klik magnetik terdengar pelan ketika pintu basement itu menutup kembali.

Amalia tetap berdiri di sana, mendengarkan langkah Sekar turun menuju garasi sampai hilang. Lampu indikator di panel akses kembali menyala hijau. Rumah itu terkunci seperti biasa, tetapi pagi ini kuncinya bekerja untuk menjaga jalur keluar, bukan menutupnya.

Ia kembali ke meja kerjanya. Di layar laptop, tabel Rencana Anggaran Biaya Sudirman Tower terbuka pada lembar yang sama sejak pagi. Angka-angka, formula, dan kolom persentase seharusnya cukup untuk membuat pikirannya kembali berada di wilayah yang ia pahami.

***

Senin, 08.45 — Pintu Servis Sari Gallery, Kemang

Di pintu servis Sari Gallery, Pak Budi menghentikan langkahnya.

“Silakan, Mbak Sekar. Saya menunggu di area parkir servis. Kalau Mbak ingin pulang kapan saja, hubungi Ibu Amalia melalui Ibu Sari.”

Sekar mengangguk pelan. “Makasih, Pak.”

Pintu di hadapannya terbuka. Sari berdiri di baliknya dengan rambut keriting yang dijepit asal menggunakan pensil, kaus hitam longgar, dan celana kerja yang terkena noda cat di salah satu lututnya.

“Sekar?” tanyanya.

Sekar mengangguk.

“Gue Sari.” Ia tidak mengulurkan tangan, tidak mendekat terlalu cepat. Hanya membuka pintu sedikit lebih lebar. “Masuk aja. Galerinya belum buka. Jadi hari ini lo nggak wajib bersikap kayak manusia yang tahu harus berdiri di mana.”

Sekar menatapnya ragu. Sari menunjuk sepatunya sendiri yang terkena noda cat. “Gue sendiri masih sering salah berdiri.”

Sudut bibir Sekar bergerak kecil.

Ia masuk.

Lorong servis membawa mereka ke ruang pamer yang masih setengah siap. Beberapa lampu sorot belum diarahkan sempurna. Satu tangga aluminium berdiri di sudut. Di tengah dinding utama, sebuah kanvas merah besar tergantung tanpa label.

Sekar berhenti.

Sari yang sudah berjalan dua langkah lebih jauh menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Tan.”

“Di tempat gue, ‘nggak apa-apa’ boleh berarti belum mau ngomong.” Sari menyelipkan kedua tangan ke saku celananya. “Tapi boleh juga berarti ada sesuatu yang ganggu mata lo.”

Sekar kembali menatap kanvas merah itu.

“Lampunya...” katanya akhirnya.

Sari menunggu.

“Kalau dari atas begitu, bagian gelapnya jadi kelihatan kayak noda darah kering.” Sekar buru-buru menunduk. “Maaf. Aku nggak bermaksud jelek-jelekin lukisannya.”

Sari tidak tertawa. Ia justru berjalan menuju panel pengatur lampu portabel di sisi dinding.

“Kalau menurut lo, harus dari mana?”

Sekar terdiam, tampak tidak percaya pertanyaannya sungguh ditunggu.

“Dari bawah sedikit,” katanya pelan. “Biar merahnya terasa naik, bukan jatuh.”

Sari menggeser salah satu sorot lampu lebih rendah, lalu memiringkan kepala. Warna merah pada kanvas berubah. Bagian gelapnya tidak lagi menggumpal berat di tengah, melainkan tampak seperti bergerak keluar dari dasar bidang.

Sari bersiul pendek.

“Wah.”

Sekar menahan napas. “Lebih jelek ya?”

“Lebih hidup.”

Sari menoleh kepadanya. “Lo ngeliat sesuatu yang gue nggak liat.”

Sekar tidak segera menjawab. Namun bahunya, yang sejak turun dari mobil masih terangkat dekat leher, perlahan turun.

Untuk beberapa menit berikutnya, ia lupa bahwa Pak Budi sedang menunggu di luar. Lupa bahwa ponselnya disimpan dalam kotak logam di rumah Amalia. Lupa bahwa seseorang di Solo mungkin masih sibuk mencarinya.

Di ruangan itu, sebuah lampu dipindahkan karena ia mengatakan apa yang dilihatnya. Pendapatnya tidak perlu dibela atau ditarik kembali.

***

Senin, 09.02 — Rumah Amalia

Di rumahnya, Amalia duduk di meja makan dengan laptop kerja terbuka di hadapannya. Sejak Pak Budi membawa Sekar keluar melalui akses basement, halaman Rencana Anggaran Biaya di layar hanya bergeser dua baris.

Ponselnya bergetar.

PAK BUDI

Bu, Mbak Sekar sudah masuk melalui akses servis. Tidak ada kendaraan yang bertahan mengikuti setelah rute verifikasi. Saya standby di area parkir servis.

Amalia membaca pesan itu dua kali.

Lihat selengkapnya