Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #24

BAB 24: PILIHAN LOGIS

Selasa, 09.10 — Studio Kaca Ciptaningrum Atelier

Hembusan AC sentral menderu rendah di studio kaca Amalia.

Di atas meja kerjanya, tiga berkas terbuka bersamaan. Laporan legal mengenai permintaan akses rekaman CCTV kantor. Catatan inspeksi panel kaca Sudirman yang sehari sebelumnya ia terima bersyarat. Dan sebuah halaman kosong pada tablet desain hunian Banyu Aditama.

Pada sudut kanan layar, tertulis dua catatan singkat dari pertemuan mereka di Dharmawangsa:

Cahaya alami — penghormatan untuk Hanna.

Studio kedap suara — Saka, drum.

Stylus Amalia menggantung di atas bidang putih. Ia seharusnya mulai menarik garis fasad utara. Menentukan posisi bukaan, kedalaman overhang, serta sudut datang matahari pagi agar cahaya masuk tanpa membuat ruang utama terlalu panas.

Ujung stylus itu tidak juga menyentuh layar. Pikirannya justru kembali pada satu gambar lain yang tidak tersimpan di tablet profesionalnya.

Sebuah ruang beton. Sebuah pintu yang tidak tertutup rapat. Seiris cahaya yang sengaja dibiarkan masuk oleh Sekar.

Ponsel titanium di sisi laptopnya bergetar. Nomor tak dikenal. Amalia menatap layar selama dua detik sebelum mengangkatnya.

“Amalia Ciptaningrum.”

“Halo, Amalia?” Suara laki-laki di seberang terdengar tenang, terlatih, dan terlalu santai untuk nomor yang tidak ia kenal. “Saya Dimas Wiratmaja. Maaf menghubungi langsung pagi-pagi.”

Jari Amalia yang memegang stylus berhenti bergerak.

Dimas Wiratmaja.

Putra Tante Rini. Pengacara yang baru pulang dari Den Haag. Duda tanpa anak. Nama yang dilemparkan Ibu Laksmi kepadanya melalui sambungan telepon di tengah debu proyek Rumah Aman, seolah seorang laki-laki mapan dapat dimasukkan ke agenda hidupnya seperti pemesanan katering dan tiket kereta.

Ibu sudah kasih nomor teleponmu ke dia.

Waktu itu Amalia mengira kalimat tersebut hanya satu bentuk tekanan lain yang dapat ia biarkan berlalu tanpa respons.

Rupanya tidak.

“Selamat pagi, Pak Dimas.” Suara Amalia kembali menjadi datar. Profesional. “Dari mana Anda memperoleh nomor ini?”

Pertanyaan itu membuat tawa kecil di seberang terputus sebelum sempat berkembang.

“Dari Tante Laksmi,” jawab Dimas akhirnya. “Beliau bilang kamu sudah tahu saya sedang mencari arsitek untuk rumah pribadi di Jakarta. Saya sungguh mengira kamu tidak keberatan dihubungi langsung.”

Tentu. Ibunya memang sudah memberitahukan hal itu.

Amalia menatap meja kerjanya. Nomor pribadi itu tidak pernah tercetak di proposal firma, tidak muncul di kartu nama, dan tidak diserahkan kepada klien tanpa alasan jelas.

Baru beberapa hari lalu, ia sendiri memilih membuka jalur itu kepada Banyu, lengkap dengan syarat dan batas yang ia tentukan sendiri.

Ibu Laksmi menyerahkannya semudah menyebut nama vendor katering di meja arisan.

“Untuk kebutuhan konsultasi desain,” kata Amalia, “saya menggunakan jalur resmi kantor. Silakan asisten Anda menghubungi sekretariat firma saya. Mereka akan membantu mengatur jadwal awal dan daftar dokumen yang perlu disiapkan.”

Di seberang, Dimas terdiam sepersekian detik.

“Tentu,” katanya kemudian. Nada suaranya berubah sedikit lebih hati-hati. “Saya minta maaf kalau saya melewati prosedur. Itu bukan maksud saya.”

“Saya paham.” Kalimat itu sopan. Tidak berarti memaafkan.

“Saya tetap berharap kita bisa bertemu,” lanjut Dimas. “Saya memang serius membutuhkan arsitek untuk rumah yang sedang saya rencanakan.”

“Sekretariat saya akan menindaklanjuti melalui jalur resmi.”

“Baik. Terima kasih, Amalia.”

Sambungan terputus.

Beberapa menit kemudian, surel dari staf administrasi masuk ke layar laptopnya.

Permintaan Konsultasi Awal — Private Residential

Klien: Dimas Wiratmaja

Referensi: Ibu Laksmi Cokroningrat

Status: Menunggu konfirmasi jadwal

Amalia menatap nama ibunya di baris referensi itu.

Satu nomor pribadi sudah berpindah tangan tanpa seizinnya. Satu nama keluarga sudah cukup untuk mengubah batas personal menjadi referensi profesional. Di atas kertas, semuanya rapi. Dalam sistem, semuanya tercatat. Justru karena itu, ia tahu betapa mudah sebuah pintu terbuka ketika orang yang mengetuk datang membawa alasan yang tampak sah.

Lihat selengkapnya