Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #18

BAB 18: BISIK DI PANTRY

Jumat, 09.00 — Pantry Ciptaningrum Atelier, Jakarta Selatan

Dengung mesin espresso dan suara susu yang dipanaskan menutupi bisik-bisik yang merambat di antara kabinet putih pantry. Bau kopi baru digiling seharusnya membuat pagi terasa normal.

Seharusnya.

Fitri berdiri dengan kedua tangan mengapit cangkir tehnya. Ujung sendok kecil di dalamnya terus berdenting pelan karena jarinya belum berhenti gemetar.

“Serius, gue masih kebayang dua orang itu berdiri di lobi kemarin,” bisiknya. “Cara ngomongnya sopan, tapi maksa masuk begitu... serem banget.”

Di depan mesin V60, Gomgom mengangkat kepala. Wajahnya memasang ekspresi seseorang yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk masuk ke percakapan.

“Seram apanya, Fit? Yang paling tak masuk akal itu bukan dua preman batik itu, bah.”

Ia memutar badan, memegang dripper V60 seperti mikrofon sidang. “Yang paling tak masuk akal itu Pak Banyu.”

Fitri mengerjap. “Lah, kok malah Pak Banyu?”

“Coba kelen pikirkan baik-baik.” Gomgom mengangkat satu telunjuk. “Dia datang sebagai klien rumah tinggal. Kemeja rapi. Jam tangan rapi. Duduk manis menunggu meeting. Lima menit kemudian, mendadak berdiri hadapi dua lelaki besar di lobi macam pemeran utama yang baru masuk di babak ketiga film.”

Agung, yang sedang mengambil espresso dari mesin otomatis, mendengus.

“Gom, pagi-pagi jangan mulai.”

“Lho, fakta itu, Gung.” Gomgom menepuk dadanya sendiri. “Kalau aku datang konsultasi rumah lalu dua orang begitu masuk, aku sudah pura-pura sakit perut di toilet. Keluar-keluar situasi selesai. Ini Pak Banyu malah pasang badan. Paten kali keberaniannya.”

Fitri menahan sudut bibirnya agar tidak naik.

“Terus, menurut teori konspirasi lo, kesimpulannya apa?”

Gomgom mengambil cangkir kopinya. Ia memandang Fitri dan Agung bergantian dengan keseriusan yang tidak pantas diberikan pada gosip pantry.

“Dia bukan klien biasa.”

Agung menghela napas. “Ya ampun.”

“Bah, dengarkan dulu.” Gomgom mengangkat telapak tangan, meminta ruang. “Itu laki-laki pasti punya sejarah. Aku tak tahu sejarah apa. Bisa utang lama. Bisa cinta lama. Bisa dulu pernah berantam gara-gara rebutan parkir kampus. Tapi tak ada laki-laki normal pasang dada di depan dua orang asing cuma karena mau bahas denah kamar mandi.”

Fitri akhirnya terkikik, buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan. “Kenapa parkir?”

“Masalah hati sering bermula dari fasilitas umum, bah.”

Fitri menunduk, bahunya berguncang menahan tawa.

Agung memutar bola matanya. “Kalian berdua emang nggak ada kerjaan.”

“Ada,” sahut Gomgom enteng. “Tapi render bisa menunggu dua menit. Informasi panas tak bisa.”

Lihat selengkapnya