Rabu, 18.35 — Rumah Amalia
Pintu rumah terbuka dengan bunyi klik lembut.
Amalia baru melangkah masuk ketika aroma bawang putih, jahe, dan kaldu ayam hangat menyambutnya. Aroma itu menabrak wangi cendana yang biasanya menjadi satu-satunya identitas rumahnya.
Ia menutup pintu perlahan.
Amalia tidak langsung bergerak lebih jauh. Ia berdiri beberapa detik di foyer, membiarkan suara dapur mencapai tubuhnya lebih dulu.
Sendok menyentuh panci. Air mendidih kecil. Bi Inah mengomel tentang sesuatu yang tidak terdengar jelas. Sekar menjawab dengan suara yang lebih ringan daripada beberapa hari terakhir.
Untuk rumah yang dulu selalu terdengar seperti ruang tunggu pribadi, suara-suara itu terasa asing. Tidak rapi, tetapi tidak salah.
Dari arah dapur, suara Bi Inah terdengar lebih jelas.
“Daun bawangnya jangan tebal-tebal begitu, Den. Nanti bukannya jadi taburan, malah jadi pagar.”
Tawa Sekar pecah.
“Lho, kalau Tante Lia lihat, dia bakal ukur juga nggak, Bi? Harus tiga milimeter tiap irisan?”
“Wah, kalau Non Lia sudah pegang penggaris, Bibi menyerah saja.”
Sekar kembali tertawa. Amalia berdiri diam di tepi koridor.
Di bawah lampu dapur, Sekar mengenakan celemek abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya. Ada sedikit tepung di pelipisnya. Di atas meja island, potongan wortel yang ukurannya tidak seragam berserakan di atas talenan. Bi Inah memegang sendok sayur sambil masih tertawa kecil.
Rumah itu sedikit berantakan, hangat, dan hidup.
Sekar menoleh lebih dulu.
“Tante!” katanya, sedikit terkejut. “Aku sama Bi Inah bikin sup. Tapi wortelnya agak—”
Kalimatnya terputus.
Dari jalur servis sempit di sisi timur rumah, sorot lampu sebuah kendaraan melintas pelan, menembus kisi-kisi gerbang baja yang tidak sepenuhnya masif, lalu menyapu kaca dapur.
Mata Amalia menangkap sesuatu yang salah. Tirai blackout pada jendela sisi timur tidak menutup sempurna. Ada celah selebar telapak tangan.
Jalur itu memang bukan jalan utama. Hanya akses sempit yang sesekali dilalui mobil servis kompleks, kurir, atau kendaraan penghuni yang mengambil pintasan keluar. Dan tepat di sana, di bawah cahaya dapur yang terang, siluet Sekar berdiri jelas.
Darah Amalia seperti jatuh sekaligus ke telapak kakinya. Tas kulitnya terlepas dari genggaman.
BRAK.
“Sekar. Mundur dari jendela. Sekarang.” Nada suaranya membuat tawa di dapur mati seketika.
Sekar tersentak. Pisau kecil di tangannya terlepas dan membentur talenan, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi logam nyaring.
Amalia sudah bergerak sebelum benda itu berhenti bergetar. Ia menarik tubuh Sekar menjauh dari garis cahaya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyentak tirai hingga menutup rapat seluruh celah.