Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #26

BAB 26: SERANGAN KODRAT

Rabu, 18.38 — Rumah Amalia

“Halo, Bimo.”

Dua detik berlalu tanpa jawaban.

Di belakang Amalia, suara kaldu ayam yang mendidih kecil-kecil di atas kompor terdengar terlalu jelas. Bi Inah berdiri membeku dengan sendok sayur di tangan. Sekar masih mengenakan celemek abu-abu, beberapa langkah dari jendela yang baru saja ditutup rapat, wajahnya pucat menatap ponsel di telapak tangan tantenya.

Akhirnya, suara Bimo terdengar.

“Selamat malam, Mbak Lia.”

Tenang. Halus. Hampir santun. Justru itu yang membuat tengkuk Amalia terasa dingin.

“Langsung ke maksudmu, Bim.”

Terdengar tarikan napas pendek dari seberang. Seolah Bimo sedang mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi seseorang yang sengaja memperumit urusan keluarga.

“Saya ingin bicara tentang Sekar.”

Jari Amalia mengencang pada sisi ponsel.

“Ada apa dengan Sekar?”

“Jangan begitu, Mbak.” Bimo tertawa kecil. Tidak ada kehangatan di sana. “Lokasi terakhir anak saya muncul di kantor Mbak. Orang-orang saya melihat Mbak meninggalkan gedung bersama seorang remaja. Setelah itu, kantor Mbak mendadak sangat berhati-hati menjaga rekaman dan daftar pengunjung.”

Mata Amalia bergerak cepat ke panel CCTV di ruang tengah. Enam layar kecil masih memperlihatkan pagar kosong, jalan basah oleh sisa hujan, dan taman samping yang tidak bergerak.

Bimo memiliki jejak. Belum tentu tujuan akhirnya.

“Orang-orangmu melakukan intimidasi terhadap staf saya,” kata Amalia.

“Mereka mencari anak saya.”

“Mereka memaksa meminta rekaman gedung yang bukan milikmu.”

“Karena seseorang sedang membantu Sekar menghilang.”

Di belakang Amalia, napas Sekar tertahan. Bimo melanjutkan dengan suara yang nyaris lembut.

“Kalau Sekar memang berada dalam perlindungan Mbak, sampaikan bahwa ayahnya masih menunggu dia pulang.”

Kalau.

Satu kata itu jatuh lebih dingin daripada tuduhan apa pun.

Amalia menatap layar CCTV tanpa berkedip. Ia tidak boleh memberi Bimo satu kepastian pun yang belum ia miliki.

“Saya tidak akan menyampaikan apa pun atas dasar ancaman dan intimidasi.”

“Ancaman?” Nada Bimo terdengar sedikit terhibur. “Saya seorang ayah yang mencari putrinya.”

“Seorang ayah tidak mengirim dua laki-laki untuk menekan staf kantor orang lain.”

“Seorang ayah melakukan apa yang perlu dilakukan ketika anaknya dibawa pergi oleh seseorang yang merasa lebih tahu bagaimana membesarkan perempuan muda.”

Rahang Amalia mengeras.

“Kamu sedang menggeser inti masalahnya.”

Sunyi tipis mengisi sambungan.

Bimo tertawa pelan. “Inti masalahnya sederhana, Mbak. Anak saya tidak ada di rumah. Dan Mbak tampaknya tahu lebih banyak daripada yang ingin Mbak akui.”

Amalia tidak menjawab.

“Menarik,” kata Bimo pelan. “Saya bertanya-tanya siapa lagi yang sudah membantu Mbak membangun cerita bahwa rumah kami tidak aman.”

Amalia merasakan Sekar bergerak kecil di belakangnya.

“Sekar takut pulang,” katanya akhirnya. “Itu fakta yang seharusnya kamu pikirkan sebelum menuntut siapa pun menyerahkannya kembali.”

Keheningan di seberang berubah bentuk. Lebih sempit. Lebih tajam.

Lalu Bimo tertawa pelan.

“Takut?” katanya. “Anak tujuh belas tahun bisa mengatakan banyak hal ketika sedang marah. Itu bukan alasan bagi orang dewasa untuk memanjakan pembangkangan.”

“Dia bukan aset keluarga yang bisa kamu tarik pulang begitu posisinya keluar dari kendali.”

Bimo mengembuskan napas panjang.

“Ini yang saya khawatirkan sejak awal,” katanya. “Mbak membuat Sekar melihat keluarga sebagai penjara hanya karena Mbak sendiri tidak pernah berhasil hidup di dalam keluarga.”

Jari Amalia bergetar.

“Jangan bicara tentang hidup saya.”

“Kenapa tidak? Mbak ikut campur dalam hidup istri dan anak saya.” Suaranya tetap tenang. “Ratih sudah cukup menderita sejak Sekar pergi. Tidak tidur. Tidak makan. Menangis sepanjang malam. Dan sekarang Mbak membuat anaknya percaya bahwa ibunya bagian dari masalah.”

Amalia menelan ludah.

Ratih di kamar mandi. Napasnya yang patah-patah. Suara gedoran di balik pintu.

Jangan biarkan dia menjadi sepertiku.

“Ratih takut kepadamu,” kata Amalia.

Untuk beberapa detik, tidak terdengar apa pun selain statis sambungan.

Ketika Bimo kembali bicara, kelembutannya telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Hati-hati dengan tuduhan Mbak.”

“Saya mendengar suaranya sendiri.” Amalia menyesali kalimat itu pada detik yang sama ketika ia mengucapkannya.

Di seberang, Bimo terdiam. Lalu suaranya turun menjadi sangat pelan.

“Jadi Ratih sudah menghubungi Mbak.”

Darah Amalia membeku. Ia tidak menjawab.

Bimo menarik napas kecil. Kali ini terdengar seperti seseorang yang baru saja memperoleh informasi yang sebelumnya belum ia miliki.

“Terima kasih,” katanya.

Sekar menutup mulutnya dengan satu tangan. Amalia memaksa suaranya tetap utuh. “Kalau kamu menyentuh Ratih karena percakapan ini—”

“Ratih istri saya.” Nada Bimo kembali tenang. “Tidak perlu Mbak mengajari saya bagaimana memperlakukan keluarga saya.”

“Justru itu yang membuat saya harus melakukannya.”

Hening.

Di luar rumah, sebuah kendaraan melintas di ruas jalan depan. Cahaya lampunya menyapu sebentar sisi dinding beton, lalu hilang.

Bimo mengembuskan tawa kecil yang nyaris terdengar iba.

Lihat selengkapnya