Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #27

BAB 27: DUA PINTU MASUK

Kamis, 08.15 — Rumah Amalia

Pagi setelah telepon Bimo, rumah Amalia tidak kembali normal.

Panci sup masih tersimpan di kulkas dalam wadah kaca tertutup. Wortel-wortel yang semalam tidak sempat dipotong rapi telah dibuang Bi Inah sebelum Sekar turun sarapan, tetapi jejak tepung tipis masih tertinggal di salah satu sudut meja island.

Amalia melihatnya sejak pukul enam pagi. Ia tidak membersihkannya.

Di ruang kerjanya, laptop Amalia terbuka pada satu dokumen baru.

CATATAN INSIDEN — KOMUNIKASI BIMO MAHARDHIKA

Pukul 18.43. Pihak terkait menelepon nomor pribadi saya. Nada komunikasi tenang tetapi mengandung tekanan moral, ancaman reputasi, dan indikasi penggunaan jalur hukum untuk memperoleh akses terhadap Sekar.

Di bawahnya, Amalia menambahkan satu baris lagi.

Pihak tersebut menggunakan pernyataan bernada merendahkan status hidup dan pilihan personal saya sebagai dasar untuk mempertanyakan kapasitas saya melindungi Sekar.

Ia membaca ulang kalimat itu.

Dingin. Kering. Tercatat.

Kalimat seperti itu tidak meminta orang percaya. Kalimat seperti itu menunggu bukti.

Ponselnya bergetar.

DIAN

Bu, sekretariat baru menerima surat elektronik dari kuasa hukum Bapak Bimo Mahardhika. Mereka menindaklanjuti permintaan akses CCTV dan daftar tamu hari Kamis, sekaligus meminta konfirmasi apakah Ibu mengetahui keberadaan Sekar Mahardhika.

Amalia menatap pesan itu lama.

Besok, kata Bimo semalam. Ia bahkan tidak menunggu matahari benar-benar naik.

Balasan Amalia singkat.

AMALIA

Jangan jawab substansi apa pun. Teruskan ke legal counsel firma. Tidak ada rekaman, daftar tamu, data kendaraan, atau informasi pribadi yang diberikan tanpa tinjauan legal tertulis. Minta seluruh staf tidak menjawab pertanyaan informal.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan:

Saya akan datang pukul sepuluh.

Pesan terkirim.

Penolakan itu benar secara prosedur. Tetapi Amalia tahu prosedur yang terlalu rapi juga meninggalkan bentuknya sendiri. Orang seperti Bimo tidak perlu mendapatkan data untuk memahami bahwa data itu sedang dijaga.

Di sisi meja, tablet desain Banyu masih terbuka pada sketsa awal massa bangunan. Cahaya alami. Studio kedap suara. Rumah yang akan menyimpan kehidupan orang lain.

Amalia membuka kontak Banyu. Jempolnya berhenti sejenak di atas layar. Ada banyak hal yang bisa ia tulis. Rasa takut yang masih tertinggal sejak telepon Bimo. Cara suara laki-laki itu menembus rumahnya semalam. Wajah Sekar ketika hampir menawarkan diri masuk ruang arsip karena merasa keberadaannya membahayakan semua orang.

Amalia menghapus semua kemungkinan itu dari kepalanya, lalu mengetik pesan yang bisa dipertanggungjawabkan.

AMALIA

Bimo sudah mengirim kuasa hukum. Hari ini aku mulai jalur legal. Kalau dokumen Nusantara Grid akan dipakai sebagai pendukung pola, aku perlu daftar sumber, kronologi, dan batas keterpakaian hukumnya. Bukan data mentah yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

Balasan Banyu masuk tiga menit kemudian.

BANYU

Noted. Aku datang sebagai klien pukul sebelas sesuai jadwal desain. Kita bahas rumah dulu. Setelah itu, aku serahkan daftar dokumen yang bisa masuk jalur legal. Tidak ada yang keluar dari tanganku tanpa kamu tahu asalnya.

Amalia membaca kalimat itu dua kali.

Banyu tetap datang pada jam yang sudah tercatat di agenda. Ia menempatkan dirinya di jalur yang sama dengan dokumen-dokumen itu, sesuai jadwal, sesuai batas, dan dengan asal yang bisa diperiksa.

Bantuan itu terasa rapi. Cukup dekat untuk membantu, cukup jauh untuk tidak mengambil alih.

Napas Amalia turun sedikit lebih dalam.

***

Kamis, 11.17 — Ciptaningrum Atelier

Satu jam sebelumnya, Amalia sudah menyerahkan email kuasa hukum Bimo kepada legal counsel firma dan memberi instruksi singkat kepada seluruh staf front office. Semua pertanyaan informal diarahkan ke jalur hukum. Rekaman, daftar tamu, dan data kendaraan tetap terkunci sampai ada tinjauan tertulis.

Sesi pukul sebelas bersama Banyu tercatat sebagai pertemuan desain. Amalia sudah memberi instruksi kepada Dian agar sesi itu tidak disela oleh tamu tanpa agenda. Semua kiriman, telepon, atau permintaan mendadak cukup ditahan di meja depan sampai Amalia keluar sendiri.

Di ruang kerja kaca Amalia, dua layar terbuka bersamaan.

Di layar pertama: sketsa awal ADITAMA RESIDENCE. Massa bangunan rendah, bukaan utara, void tengah yang menerima cahaya tanpa membuat ruang utama terlalu panas.

Di layar kedua: dokumen kosong berjudul KRONOLOGI NUSANTARA GRID — SUMBER DAN BATAS KETERPAKAIAN.

Banyu duduk di seberang meja sebagai klien yang tercatat dalam agenda. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Di samping cangkir kopinya, sebuah map hitam terletak tertutup.

“Untuk rumah,” kata Amalia, menandai bagian fasad dengan stylus, “kalau kamu ingin cahaya pagi masuk tanpa membuat ruang keluarga terlalu panas, bukaan utama jangan sepenuhnya menghadap timur. Kita perlu geser orientasi sedikit ke utara.”

Banyu mengangguk. “Hanna dulu akan memilih jendela sebesar mungkin tanpa peduli panas.”

“Dan kamu?”

“Aku ingin bisa tinggal di dalamnya,” jawab Banyu, “bukan hanya mengenangnya.”

Stylus Amalia berhenti sepersekian detik.

Lalu ia mencatat. Bukaan besar, tetapi tetap layak dihuni.

Lihat selengkapnya