Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #28

BAB 28: RUMAH YANG BERNAPAS

Kamis, 20.10 — Rumah Banyu

Sekar berada di rumah bersama Bi Inah. Pak Budi sudah menerima instruksi untuk tetap standby sampai Amalia kembali. Kuasa hukum firma baru akan mengirim tanggapan awal besok pagi.

Dua jam ke depan hanya berisi ruang kosong yang tidak bisa ia kendalikan dari layar. Surat dari kuasa hukum baru bisa dijawab besok pagi. CCTV rumah hanya akan menunjukkan apa yang sudah terjadi. Ancaman Bimo pun tidak akan berhenti lebih cepat hanya karena ia duduk menatap panel keamanan.

Maka ia datang ke rumah Banyu untuk mengambil map lahan.

Banyu sempat menawarkan mengirimkannya melalui kurir. Amalia memilih mengambilnya sendiri, atas nama efisiensi desain. Alasan lain di balik keputusan itu ia biarkan tetap tidak bernama.

Sedan listrik itu berhenti di depan rumah bergaya tropis milik Banyu. Begitu Amalia mematikan sistemnya, dengung halus AC di dalam kabin ikut padam.

Amalia duduk di balik kemudi selama beberapa belas detik, menatap rumah itu dari balik kaca depan mobilnya. Fasadnya jauh dari beton presisi dan pagar baja minimalis yang biasa ia rancang. Di halaman, pot-pot monstera dan pakis tumbuh saling menumpuk, berebut ruang, sebagian daunnya menjulur melewati tepi teras.

Berantakan, tetapi hidup.

Tangannya mendorong pintu mobil terbuka. Udara malam Jakarta yang lembap dan berat langsung membungkus kulitnya, menyingkirkan sisa suhu dingin kabin.

Ujung sepatu wedges Amalia memijak ubin terakota teras yang masih menyimpan sisa panas matahari sore. Tangannya refleks menyapu lipatan blus sutranya, sebuah gestur sterilisasi otomatis.

Lalu getaran ritmis merambat dari lantai ke telapak kakinya.

BUM. BUM. TAK.

Getaran itu berdenyut, menembus pori-pori pintu kayu jati berlapis pelitur di hadapannya.

Sebelum telunjuk Amalia menekan bel tembaga yang pudar, daun pintu bergeser terbuka. Banyu berdiri di ambang pintu, berbalut kaus oblong abu-abu dengan kerah yang sedikit melar dan celana training katun. Aroma tajam sabun mandi sandalwood bercampur jejak tumisan kecap langsung menyergap wajah Amalia, membunuh sisa wangi diffuser serai yang menempel di blus sutranya.

Udara di depan pintu itu seolah pecah. Hantaman suara bass drum dan cymbal meledak langsung, menghantam gendang telinga Amalia.

Banyu menyingkir, memutar bahu lebarnya untuk membuka jalan. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Amalia agar suaranya tak tertelan bising. “Maaf. Jadwal latihan malam.”

Amalia melangkah masuk melewati ambang pintu.

Cahaya warm white dari lampu gantung menyapu interior yang didominasi elemen kayu solid. Matanya terbiasa memindai cacat struktural, tetapi kali ini yang tertangkap justru kekacauan yang hidup. Di meja, tumpukan majalah otomotif berserakan. Di dekat rak, sepasang sneakers bersol kotor ditinggalkan begitu saja. Sebuah hoodie katun tersampir lunglai di lengan sofa.

“Aku ambil map lahannya sebentar,” kata Banyu, menunjuk konsol kayu di sisi ruang tengah. “Tunggu di sini. Ada beberapa foto site dan catatan soal kebiasaan Saka yang belum sempat kukirim ke kantor.”

Amalia mengangguk.

Banyu berbalik, punggungnya menghilang menyusuri lorong menuju ruang kerja.

Amalia berdiri sendirian. Rumah itu tidak diam.

Bahkan ketika drum berhenti, bunyi-bunyi lain masih tertinggal. Dengung kulkas. Tetes air dari wastafel. Gesekan daun pakis di luar jendela. Suara sendok yang entah diletakkan siapa di dalam bak cuci.

Matanya turun pada hoodie di lengan sofa. Kain katunnya kusut, satu lengannya menjuntai hampir menyentuh lantai. Di dekat rak sepatu, sepasang sneakers bersol kotor ditinggalkan begitu saja, dengan tali yang belum dilepas sempurna.

Kemarin, benda-benda seperti itu akan membuat tangannya gatal untuk merapikan. Malam ini, ia hanya berdiri.

Di rumah ini, benda-benda tidak ditempatkan untuk menjaga komposisi. Mereka tertinggal karena seseorang baru saja memakainya.

BUM. TAK. CRASH.

Hantaman cymbal terakhir memecah ruang, lalu berhenti mendadak. Pintu studio kedap suara di ujung ruang tengah terbuka. Seorang remaja jangkung melangkah keluar dengan kaus hitam yang basah oleh keringat. Di tangannya, sepasang stik drum berputar pelan di antara jari-jari panjangnya.

Langkahnya berhenti ketika melihat Amalia.

Lihat selengkapnya