Jumat, 07.04 — Rumah Amalia
Matahari baru menembus celah kerai blackout, tetapi layar ponsel di atas meja makan marmer Amalia sudah menyala menyilaukan.
DIMAS WIRATMAJA (Calling...)
Amalia membiarkan ponsel itu bergetar panjang.
Bzzzt.
Ia berdiri bersandar kaku pada konter dapur. Wajahnya pucat, dengan bayangan gelap di bawah mata. Ia baru tidur kurang dari dua jam setelah pulang dari rumah Banyu dengan napas patah-patah dan tangan yang sulit berhenti gemetar.
Di sudut dapur, Bi Inah menata sepotong roti panggang, telur rebus, dan segelas susu hangat ke atas nampan kayu.
“Biar sarapan Den Sekar saya antar ke ruang tengah, Non,” bisik Bi Inah. “Non Lia istirahat saja. Wajah Non pucat sekali.”
Amalia hanya mengangguk lemah. Ia meneguk setengah gelas air hangat, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
“Amalia. Pagi.” Suara Dimas terdengar jernih, tetapi kehilangan kehangatan ringan yang biasa ia pakai untuk melunakkan percakapan. “Saya rasa kita perlu bicara sebentar.”
Amalia diam.
“Semalam, nama Bimo Mahardhika muncul dalam percakapan yang cukup sensitif. Pagi ini saya mendengar namamu ikut disebut dalam konteks yang sama.”
Jari Amalia mengerat pada gelas.
“Saya tidak akan bertanya apa yang terjadi. Itu bukan hak saya. Tapi sebagai partner firma yang sedang dalam proses merger, saya harus berhati-hati terhadap setiap asosiasi yang bisa dibaca sebagai keterlibatan pribadi.”
“Tentu,” jawab Amalia.
Hening singkat.
“Untuk sementara, proyek rumah ini sebaiknya kita tahan dulu. Setidaknya sampai situasimu lebih jelas dan semua komunikasi bisa tetap murni profesional melalui firma.”
Sebuah pintu menutup sendiri. Sopan. Bersih. Tanpa suara bantingan.
“Sebuah kalkulasi yang sangat logis, Dimas,” kata Amalia. “Saya akan meminta sekretariat menandai proyek Anda sebagai pending.”
“Saya harap kamu mengerti.”
“Sangat.”
“Amalia—”
“Selamat pagi, Dimas.”
Ia memutus sambungan sebelum laki-laki itu sempat menambahkan kalimat yang terdengar seperti simpati. Stabilitas Dimas akhirnya bekerja sesuai bentuk aslinya. Begitu risiko muncul, ia mundur dengan rapi. Amalia baru saja terhindar dari satu kemungkinan hidup yang terlalu mudah disetujui semua orang.
Kelegaan itu datang, lalu pergi hampir seketika.
Pantulan wajahnya di kaca hitam pintu microwave menatap balik. Pucat. Salah tidur. Terlalu kosong. Di belakang pantulan itu, bayangan lain datang tanpa diminta. Perempuan bercelemek tepung. Anak laki-laki dengan stik drum. Rumah kayu yang penuh suara. Banyu yang berhenti sebelum menyentuh bahunya.
Dada Amalia kembali sesak.
Ia menoleh ke panel CCTV. Gerbang depan kosong. Jalur samping kosong. Pak Budi sudah berada di pos garasi. Bi Inah berada di dapur, dan suara pensil Sekar sesekali terdengar dari sofa ruang tengah.
Amalia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat.
AMALIA
Tante keluar sebentar ke rumah Ibu Elara. Bi Inah dan Pak Budi ada di rumah. Kalau kamu butuh apa pun, panggil Bi Inah atau telepon Tante lewat ponsel rumah.
Pesan itu terkirim.
Selama beberapa jam, rumah itu bisa bertahan tanpa dirinya. Pikiran itu seharusnya menenangkan. Yang terjadi justru sebaliknya.
Ia butuh dinding yang bisa bernapas. Ia butuh Ibu Elara.
Di walk-in closet-nya yang steril dan sedingin es, Amalia menyambar kemeja linen putih dan celana bahan lurus berpotongan presisi. Pagi ini, jemarinya terlalu kaku. Ia salah memasukkan kancing kedua ke lubang ketiga, membiarkan kerahnya terlipat asimetris, lalu melewati cermin tanpa mematut wajah atau mengambil riasan apa pun.
Tangannya menyambar kunci mobil di atas nakas.
***
Jumat, 07.42 — Rumah Ibu Elara
Sedan listrik Amalia berhenti nyaris tanpa suara di pelataran rumah bergaya Indische Empire di kawasan rimbun Jakarta Selatan.
Amalia melangkah keluar. Kemeja linen putihnya yang salah kancing bergesekan dengan udara pagi. Di sudut pagar kayu ulin yang memudar, sulur bougainvillea fuchsia menaungi jalan masuk, membentuk kanopi organik yang tidak tunduk pada garis lurus mana pun.
Fasad rumah itu menua tanpa meminta maaf. Cat putih di kusen jendelanya menunjukkan retak rambut yang dibiarkan tetap ada. Lumut tipis tumbuh di sela batu pijakan. Beberapa pot tanah liat berdiri tidak sama tinggi di dekat beranda. Rumah itu tidak berusaha menang melawan waktu. Ia hidup berdampingan dengannya.
Langkah Amalia yang terburu-buru membawanya ke depan pintu utama dari kayu jati berukir. Tangannya yang masih bergetar mengangkat pengetuk pintu dari kuningan pudar.
Tok. Tok. Tok.
Suara logam beradu kayu menggema pelan.
Sepuluh detik berlalu sebelum terdengar putaran kunci dari dalam. Daun pintu bergeser terbuka perlahan.
Ibu Elara berdiri di ambang pintu. Rambut peraknya disanggul rendah, beberapa helai lepas di dekat pelipis. Ia mengenakan sweter rajut longgar dan celana katun rumahan, dengan gunting dahan masih berada di tangan kanan.
“Lia?” Suara Ibu Elara mengalun lembut, penuh tanda tanya.
“Ibu... maaf.” Amalia menelan ludah. Suaranya parau. Ia memeluk lengannya sendiri, tiba-tiba merasa sangat telanjang dan rapuh di hadapan mentornya. “Maaf saya datang tidak bilang-bilang. Saya mengganggu?”