Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #30

BAB 30: DENAH KEBIASAAN

Selama bertahun-tahun, Amalia membangun rumah agar dunia luar tidak bisa melihat ke dalam. Tetapi rumah tidak pernah hanya dibaca dari pintunya. Kadang ia dibaca dari orang-orang yang mulai bergerak di sekelilingnya.

***

Jumat, 15.42 — Rumah Keluarga Cokroningrat, Solo

Di rumah keluarga Cokroningrat, siang tidak pernah benar-benar terang.

Tirai beludru krem dibiarkan setengah tertutup. Cahaya matahari masuk sebagai garis-garis pucat di atas lantai marmer, di antara tubuh orang-orang dewasa yang sejak pagi berbicara dengan suara rendah.

Ratih duduk di ujung sofa, kedua tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah lama dingin. Di rumah tempat ia lahir, ia terlihat seperti tamu yang tidak lagi tahu di mana harus meletakkan tubuhnya.

Di seberangnya, Raden Mas Heru berdiri dekat jendela, kedua tangan bertaut di belakang punggung. Usianya membuat tubuhnya sedikit membungkuk, tetapi suaranya masih menyimpan kebiasaan lama. Setiap kata harus turun sebagai keputusan.

Bimo Mahardhika berdiri di dekat meja konsol. Terlalu tenang untuk seorang menantu yang anaknya sedang berada di luar rumah. Kemejanya rapi. Ponselnya berada dalam genggaman. Sikapnya sopan, tetapi kehadirannya menguasai ruang seperti seseorang yang tidak perlu menjadi anak kandung untuk mengambil alih pusat kendali keluarga itu.

Di kursi panjang sebelah kanan, Ibu Laksmi duduk tegak dengan tas tangan di pangkuan. Wajahnya tenang, rapi, hampir beku. Sejak pembicaraan keluarga itu dimulai dua jam lalu, ia lebih banyak diam. Biasanya, diamnya adalah cara menunggu giliran untuk mengatur orang lain. Siang itu, diamnya terasa seperti seseorang yang mulai menghitung harga dari aturan-aturan yang pernah ia anggap benar.

“Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama,” kata Bapak.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Jam dinding tua berdetak. Satu. Dua. Tiga.

“Anak pergi dari rumah itu urusan keluarga,” lanjutnya. “Jangan sampai orang luar merasa lebih berhak atas Sekar daripada keluarganya sendiri.”

Kata orang luar jatuh tanpa perlu menyebut nama.

Amalia.

Ratih menunduk. Ibu jarinya bergerak sedikit di bibir cangkir, membuat permukaan teh dingin itu bergetar. Bimo tersenyum kecil. Senyum itu tidak membawa kesenangan. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja menemukan kalimat orang lain untuk memperkuat posisinya sendiri.

“Saya setuju, Pak,” katanya. “Karena itu saya sedang berusaha membawa Sekar pulang sebelum masalah ini semakin melebar.”

“Berusaha?” Bapak menoleh tajam. “Sudah lebih dari sepekan cucuku berada di luar rumah ini.”

Rahang Bimo mengeras sepersekian detik. Lalu wajahnya kembali datar.

“Sekar tidak pergi sendiri,” katanya. “Anak tujuh belas tahun tidak tiba-tiba punya akses ke tempat aman, kendaraan, orang kantor yang menutup mulut, dan tante yang bisa menyusun alibi secepat itu.”

Ratih mengangkat wajah. “Jangan bicara seolah Sekar tidak punya pikiran sendiri, Mas.”

Bapak berhenti bergerak. Ibu Laksmi mengangkat wajah. Bimo menoleh kepada Ratih dengan pelan.

“Aku sedang menjaga anak kita, Tih,” kata Bimo.

“Dengan membuat aku sendiri takut mencari anakku?” Suara Ratih bergetar, tetapi tidak hilang. “Dengan mengirim orang ke kantor Mbak Lia?”

“Ratih,” tegur Bapak.

Ratih menggenggam cangkirnya lebih erat. “Bapak bertanya kenapa Sekar belum pulang. Tapi kita tidak bertanya kenapa dia pergi.”

Tidak ada yang langsung bicara. Ibu yang sejak tadi lebih banyak diam dengan tas tangan di pangkuan, kini menatap Ratih lebih lama. Bimo meletakkan ponselnya di meja konsol.

“Dia pergi karena sedang labil,” katanya. “Karena ada orang yang membuat dia merasa melawan orang tua adalah keberanian.”

Ratih berdiri. Cangkir teh itu ia letakkan di meja dengan bunyi sangat pelan, tetapi di ruangan setegang itu, bunyinya seperti retakan.

“Dia pergi karena dia takut.”

Jari Bimo berhenti di permukaan meja.

“Takut?” Ia mengulangi kata itu dengan nada nyaris lembut. “Pada rumahnya sendiri?”

“Pada kamu, Mas.”

Kalimat itu keluar lebih lirih daripada bisikan. Tetapi seluruh ruangan mendengarnya. Wajah Bapak mengeras. Ibu tidak bergerak. Bimo menatap istrinya seolah baru saja melihat seseorang menyentuh barang yang tidak pernah diizinkan disentuh.

“Ratih,” kata Bimo. Satu kata, pendek dan rendah, cukup untuk menjadi peringatan.

Ratih menelan ludah. Wajahnya pucat, tetapi di bawah pucat itu ada sesuatu yang mulai menolak kembali ke tempat lama.

“Aku ibunya,” katanya. “Aku tahu suara anakku waktu dia takut.”

Bimo tersenyum tipis. “Kalau begitu kamu juga tahu suara anak yang sedang dipengaruhi.”

“Mbak Lia tidak memengaruhi Sekar untuk takut padamu.”

“Mbak Lia tidak punya anak.” Suara Bimo tetap rendah. “Dia tidak mengerti apa yang sedang dia rusak.”

Ibu akhirnya bergerak. Tas tangannya bergeser sedikit di pangkuan.

“Bimo.”

Semua mata menoleh kepadanya. Nada suara Ibu masih halus. Tetapi ada garis keras di bawahnya.

“Jangan memakai pilihan hidup Amalia untuk mengecilkan kemampuannya melindungi seseorang.”

Bimo diam. Ratih menatap ibunya, nyaris tidak percaya. Ibu sendiri tampak seperti baru menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya. Wajahnya tetap rapi, tetapi jari-jarinya menegang di atas kulit tas. Bapak mengembuskan napas pendek.

“Bu, ini bukan waktunya membela Lia.”

“Aku tidak sedang membela Lia, Pak.” Ibu menatap suaminya. “Aku sedang mengatakan bahwa kalau kita terus bicara tentang Sekar tanpa pernah mendengarkan Sekar, kita hanya mengulang kesalahan yang sama dengan nama yang lebih sopan.”

Ruangan itu hening. Bimo tersenyum lagi. Kali ini lebih dingin.

“Baik,” katanya. “Kalau begitu kita dengarkan Sekar setelah dia pulang.”

Ratih memalingkan wajah. Karena semua orang di ruangan itu tahu, dalam kamus Bimo, pulang berarti berada kembali dalam jangkauannya.

***

Jumat, 16.24 — Teras Samping Rumah Cokroningrat

Ratih menemukan Ibu di teras samping, di antara pot anggrek bulan yang terlalu putih untuk rumah yang sesak itu. Langit Solo mulai kelabu. Udara menahan hujan.

Ibu berdiri menghadap halaman, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lain merapatkan selendang tipis di bahunya. Dari belakang, tubuhnya tetap terjaga rapi, seperti biasa.

Ratih berhenti dua langkah di belakangnya.

“Bu.”

Ibu tidak langsung menoleh. “Suamimu sedang menerima telepon di ruang kerja.”

“Saya tahu.”

“Kalau kamu ingin menangis, jangan di sini.” Ibu menoleh sedikit. “Ada kamera di sudut pilar.”

Ratih membeku. Ibu memandangnya lebih lama.

“Kamu kira hanya Lia yang belajar membaca rumah?”

Suara yang hampir mirip tawa patah keluar dari tenggorokan Ratih. Sebentar saja, lalu mati.

“Saya perlu Sekar tahu saya tidak meninggalkan dia, Bu,” katanya.

Wajah Ibu berubah, sangat halus. Hampir tidak ada orang yang akan menyadarinya. Tetapi Ratih melihatnya.

“Ia tahu kamu ibunya.”

“Anak yang ketakutan tidak cukup hanya tahu,” bisik Ratih. “Dia perlu mendengar, Bu.”

Ibu menatapnya lama.

“Telepon langsung ke Sekar belum aman,” katanya.

“Saya tahu, Bu.”

“Nomor Lia sudah bukan celah baru,” lanjut Ibu. “Bimo sudah tahu dia terlibat. Menghubungi Lia tidak membuka pintu yang belum terbuka.”

Ratih menatapnya.

“Tapi kalau kamu bicara langsung dengan Sekar sekarang, kamu tidak tahu siapa yang akan mendengar dari sisi rumah ini. Kamu juga tidak tahu kalimat mana yang nanti dipakai Bimo untuk menarik anak itu pulang atau mengunci kamu lebih rapat.”

Bibir Ratih bergetar. “Saya cuma mau dengar suaranya.”

“Ibu tahu.”

Dua kata itu membuat Ratih menunduk. Gerimis mulai turun, halus seperti debu air. Ibu memandang anggrek-anggrek di depannya. Lalu ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Bimo masih di ruang kerja,” katanya. “Ibu akan masuk ke sana setelah ini.”

Ratih mengangkat wajah.

“Lima menit,” lanjut Ibu. “Tidak lebih. Jangan menyebut tempat. Jangan menyebut rencana. Jangan menyebut siapa yang membantu.”

Ratih menatap ponselnya.

“Dan jangan minta bicara dengan Sekar,” kata Ibu.

Ratih memejamkan mata.

“Ibu tahu itu kejam,” lanjut Ibu, suaranya lebih pelan. “Tapi kalau Bimo masuk di tengah panggilan dan mendengar suara anak itu, ia tidak akan melepaskanmu dari telepon berikutnya.”

Ratih menelan ludah.

“Lima menit ini untuk menyeberangkan pesan. Belum untuk membuka pintu.”

Dari dalam rumah, suara Bimo terdengar samar. Tenang. Terkendali. Sedang berbicara kepada seseorang di telepon. Ibu menoleh ke arah suara itu. Di wajah ibunya, Ratih melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah diberi tempat oleh perempuan itu.

Takut.

Ibu melangkah masuk ke rumah.

Beberapa detik kemudian, dari balik dinding, suara Ibu terdengar memasuki ruang kerja. Ia tidak perlu meninggikan nada untuk membuat Bimo menoleh. Ratih menunggu sampai bayangan tubuhnya menghilang di balik koridor. Setelah itu, ia membuka daftar kontak dengan jari gemetar.

Nomor Amalia tidak pernah ia hapal di luar kepala. Selama bertahun-tahun, kakaknya itu selalu terasa seperti pintu yang terlalu berat untuk diketuk. Hari itu, Ratih menekannya.

Panggilan tersambung pada dering ketiga.

“Mbak.” Suara Ratih keluar begitu pelan sampai ia sendiri nyaris tidak mengenalinya.

“Ratih?” Di seberang sana, suara Amalia langsung berubah. Kewaspadaan langsung merapat di suaranya.

“Aku tidak bisa bicara lama,” kata Ratih. “Jangan tanya aku di mana.”

“Bimo?”

“Di ruang kerja. Ibu sedang menahannya di sana.” Napas Ratih bergetar. “Aku cuma punya beberapa menit.”

Lihat selengkapnya