Sabtu, 23.08 — Rumah Amalia
Rasa anyir darah di dinding pipi bagian dalam Amalia sudah memudar, tetapi sisa kebasnya masih tertinggal sepanjang hari. Lebih dari sehari berlalu sejak ia pulang dari rumah Ibu Elara. Kalimat sang mentor terus bergerak di kepalanya, pelan dan sulit dibungkam.
Kamu ketakutan karena merasa dirimu tidak pantas ikut membuat rumah laki-laki dan anak itu hidup.
Di luar, rintik hujan mulai mengetuk atap kaca skylight. Amalia berdiri sendirian di lobi yang remang. Kepalanya berdenyut. Ia butuh sesuatu yang bisa diukur. Sesuatu yang tidak membawa foto Hanna, suara drum Saka, pesan Ratih, atau rumah Banyu yang terlalu hidup.
Kendali.
Layar sentuh Smart Home di dinding memancarkan pendar biru. Ujung telunjuknya menggeser panel menu.
Perimeter Infrared: ON.
CCTV: ACTIVE.
Main Steel Gate: LOCKED.
Service Door: LOCKED.
Basement protection room: STANDBY.
Indikator hijau berjajar rapi.
Untuk beberapa detik, rumah itu kembali tampak seperti sesuatu yang bisa ia pahami. Sistem bekerja. Pintu terkunci. Data masuk ke tempatnya.
Sejak pesan Dian malam sebelumnya, satu kalimat terus bergerak di belakang kepalanya.
Mereka tidak lagi mencari satu kejadian. Mereka mencari kebiasaan.
Ia sudah menghentikan semua pickup. Pak Budi tidak keluar sejak sore. Titik belanja dibekukan. Sekretariat diminta menahan seluruh permintaan informal. Legal counsel sudah menerima ringkasan awal. Ia telah menutup semua pintu yang masih bisa ia lihat.
Masalahnya, rumah tidak pernah hanya dibaca dari pintunya. Rute Pak Budi, titik pickup, dan belanja-belanja kecil itu mungkin sudah cukup untuk membuat seseorang menebak arah, meski belum cukup untuk menuliskan alamat di atas kertas.
Amalia menekan tombol standby.
BZZZT! BZZZT!
Layar dinding menyala merah. Alarm frekuensi tinggi merobek lobi. Panel berkedip satu kali.
PERIMETER BREACH — FRONT GATE IMPACT DETECTED.
Kamera gerbang bergetar hebat sebelum gambarnya pecah menjadi garis-garis statis. Sedetik kemudian, dentuman logam meledak dari arah jalan.
BRAK!
KRAAAK!
Ancaman itu tidak datang dari sistem. Ia datang dari baja yang dihantam langsung.
Deru mesin diesel menderu kasar. Kerikil pelataran bergemeretak tergilas ban SUV hitam besar yang mengerem paksa setelah menghajar sisi gerbang. Baja utamanya belum runtuh sepenuhnya, tetapi rel bawahnya terangkat, motor penguncinya pecah, dan satu daun pagar miring keluar dari jalurnya seperti tulang yang terkilir.
Tiga pasang lampu halogen kuning menebas kaca fasad rumah. Cahaya menyilaukan itu melukis bayangan furnitur yang memanjang seperti monster di lantai semen ekspos. Bantingan pintu mobil terdengar beruntun.
Di dapur, piring keramik menghantam marmer.
PRANG!
Disusul jeritan tertahan Bi Inah. Pecahan putih berserakan di atas meja island. Tubuh perempuan paruh baya itu bergetar hebat, merapat ke sudut kabinet, kedua tangannya menutup mulut.
Amalia memutar tubuh.
Sekar berdiri membeku di ruang tengah, sketchpad terlepas dari pangkuannya. Wajahnya tidak lagi pucat. Ia kosong. Seolah suara benturan gerbang baru saja menyeretnya kembali ke rumah lain, ke malam lain, ke pintu-pintu yang selalu lebih kuat daripada tubuhnya.
Amalia menyambar pergelangan tangannya.
“Ke bawah. Sekarang.”
Mereka berlari menyusuri lorong gelap. Napas Sekar memburu, jemarinya mencengkeram kemeja Amalia.
“Tante, itu Bapak—”
“Dengar.” Amalia berhenti tepat di ambang ruang perlindungan. Suaranya tajam, tetapi tidak menusuk. “Kamu masuk karena perimeter ditembus. Bukan karena kamu salah.”
Mata Sekar bergerak kacau mencari wajahnya.
“Kalau Tante panggil, baru keluar. Kalau ada suara lain, jangan buka.”
“Tante—”
“Sekar.”
Satu kata itu membuat Sekar diam.
Amalia mendorong bahunya melewati ambang. “Kamu berhak aman dulu.”
KLANG.
Tuas besi seberat tiga kilogram ditarik turun. Mekanisme luar terkunci, sementara tombol buka dari dalam tetap menyala hijau di sisi Sekar.
Amalia menyandarkan punggungnya ke daun pintu baja itu. Tangan kanannya merogoh saku celana, mencengkeram ponsel. Ibu jarinya menekan tombol power lima kali berturut-turut.
Bzzzt.
Pesan S.O.S beserta koordinat, akses rekaman perimeter terakhir, dan potongan audio alarm melesat ke protokol darurat yang baru ia susun dua malam lalu. Arsip legal counsel, server cadangan firma, dan satu nomor pribadi yang ia pilih dengan sadar.
Banyu Aditama.
Gedoran brutal mengguncang pintu jati utama. Kepalan tangan menghantam kayu, keras dan telanjang.
“MBAK LIA! BUKA!” Suara bariton Bimo menggelegar menggetarkan kusen.
Amalia berjalan menuju lobi.
Langkah kakinya ritmis. Urat di pelipisnya berdenyut kencang, tetapi postur punggungnya tegak sempurna, bagai pilar baja yang belum diberi izin untuk retak. Ia memutar kunci slot ganda. Menarik gagang pintu.
Baru terbuka setengah, dorongan kasar dari luar menghantam kayu jati itu. Amalia terdorong mundur. Sol sepatunya memekik di lantai semen ekspos.
Bimo berdiri di ambang pintu, diapit tiga pria berbadan tegap berjaket gelap. Napasnya terengah. Rambutnya basah oleh hujan, tetapi wajahnya terlalu terang oleh amarah untuk disebut kacau. Bau tembakau, hujan, dan keringat masam langsung merusak sterilisasi udara di lobi.
“Mana anak saya?!” bentak Bimo.
Amalia maju selangkah, menempatkan tubuhnya persis di tengah lorong. “Keluar dari rumah saya, Bimo.”
Bimo tertawa pendek, kering dan tanpa humor. “Rumah Mbak akhirnya bicara juga.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Alamat bisa disembunyikan. Kebiasaan tidak.”
Amalia tidak berkedip.
“Rumah sebesar ini selalu butuh orang untuk membuatnya tetap berjalan. Ada yang mengambil belanja. Ada yang memutar jalan. Ada yang berhenti terlalu sebentar di tempat yang sama.” Senyum tipis muncul di wajah Bimo. “Kamu terlalu rapi, Mbak Lia. Masalahnya, kerapian juga meninggalkan bentuk.”