Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #32

BAB 32: DARAH DI SALEMBA

Sabtu, 23.31 — Rumah Amalia

Lampu belakang SUV Bimo telah lama lenyap ditelan hujan, tetapi sisa badainya masih tertinggal di rumah Amalia.

Sepuluh menit pertama setelah mereka pergi habis untuk memastikan rumah itu tidak kembali diterobos. Banyu mengunci pintu jati yang engselnya rusak dengan palang darurat. Amalia, dengan tangan yang masih gemetar, memastikan rekaman perimeter tersalin ke server cadangan firma dan legal counsel sudah menerima notifikasi. Pak Budi tiba dari pos jaga kompleks dengan wajah pucat, lalu berdiri di sisi gerbang yang bengkok sambil menunggu petugas keamanan lingkungan.

Bi Inah duduk di kursi dapur, menggenggam handuk kecil dengan dua tangan. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak terluka. Pecahan vas dibiarkan tersebar di lobi. Malam itu, reruntuhan tidak boleh dirapikan terlalu cepat. Setiap serpihannya bisa menjadi bukti.

Hujan menebal di atas skylight. Di dalam, udara tak lagi steril. Aroma anyir darah, debu semen yang terkelupas dari dinding, dan ozon lembap dari malam menyusup lewat celah pintu jati yang rusak.

Lobi yang biasanya presisi seperti galeri kini penuh serpihan. Kristal bertebaran di atas lantai semen ekspos, memantulkan pendar lampu halogen kuning dalam pecahan kecil yang tajam.

Amalia duduk bersila di tengahnya.

Di pangkuannya, kotak P3K putih terbuka. Bau tajam alkohol dan povidon iodin menusuk hidung, mendominasi udara.

Banyu duduk berhadapan dengannya. Kedua kaki panjangnya berselonjor di lantai dingin. Kemeja hitamnya basah dan berantakan; tiga kancing teratasnya terlepas paksa, memperlihatkan memar merah yang mulai menggelap di dadanya.

Saat ia sedikit menggeser posisi duduk, napasnya tertahan. Satu tangannya refleks menekan sisi rusuk, lalu cepat-cepat ia turunkan lagi, seolah tidak ingin menambah daftar yang harus diurus Amalia malam itu.

“Tahan sedikit,” bisik Amalia. Suaranya serak, lebih mirip permintaan izin daripada instruksi.

Tangan Amalia memegang kapas berlumur antiseptik. Perlahan, ujung kapas itu menyentuh sudut bibir Banyu yang robek. Banyu mendesis pelan. Otot rahangnya mengeras, tetapi ia tidak memalingkan wajah.

Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat dada Amalia naik-turun terlalu cepat. Ujung jemarinya gemetar hebat hingga kapas di tangannya nyaris terlepas.

Langkah kaki terdengar ragu dari arah dapur. Sekar muncul membawa segelas air hangat dan segulung perban bersih. Ia tidak berlari kembali ke sofa atau turun ke ruang perlindungan. Dengan kepala menunduk, ia melipat kakinya dan duduk di lantai semen yang kotor, tepat di samping kanan Amalia.

“Minum, Tante,” katanya pelan. Ia meletakkan gelas kaca itu di dekat lutut Amalia.

Ting.

Bunyi dasar gelas yang beradu dengan semen memecah keheningan lobi. Amalia meletakkan kapas kotor ke tutup kotak P3K. Tangannya tetap jauh dari gelas. Matanya turun perlahan, terkunci pada serpihan kristal tajam yang tergeletak dua jengkal dari ujung sepatunya.

Di ujung runcing kristal itu, noda merah pekat mulai mengering. Darahnya sendiri.

“Kacanya pecah,” gumam Amalia.

Banyu menunduk mengikuti arah pandangnya.

“Lia...”

Amalia tidak menjawab. Matanya sudah berada di tempat lain.

“Salemba,” bisiknya. Satu kata itu membuat hujan di luar terasa lebih jauh.

Sekar menahan napas. Banyu tetap diam.

Amalia memejamkan mata.

“Bandung memang awalnya,” katanya. “Dago. Kamar kos. Rencana-rencana besar yang semuanya masih terdengar mungkin.”

Ia menarik napas pendek. Dadanya bergetar.

“Waktu kamu bilang mau jagain aku di kosan Dago...” Bibirnya bergerak pelan, seolah setiap kata harus ditarik dari tempat yang terlalu gelap. “Di telingaku, kata menjaga itu kedengaran kayak gembok yang dikunci, Nyu.”

Banyu menunduk. “Aku kira aku tahu.”

“Belum.” Amalia membuka mata, tetapi tatapannya masih kosong. “Kamu belum tahu.”

Banyu diam.

“Aku takut pensil Rotring-ku diganti melati di dapur. Aku takut Esther mati pelan-pelan dalam rumah yang semua orang sebut nyaman.” Tawa kecil keluar dari tenggorokannya, patah dan tak sampai menjadi suara. “Aku takut disayang dengan cara yang membuatku berhenti bergerak.”

Sekar menggeser tubuhnya sedikit, tetapi tidak sampai menyentuh Amalia.

“Aku lari ke Jakarta,” lanjut Amalia. “Ke Salemba. Kukira kalau aku memilih sendiri, ruangku akhirnya aman.”

Keningnya berkerut. Tatapannya terlepas dari serpihan kristal di lantai. Ingatan itu datang terlalu cepat. Jemarinya mencengkeram kain celana di lutut.

“Bau ban terbakar,” katanya. “Langit hitam. Sirine. Orang berlari di jalan. Jendela kos ditutup, tapi asap tetap masuk lewat celah-celah kecil. Kamar itu panas sekali.”

Banyu menutup mata sebentar.

Mei 1998.

Sekar menunduk. Di dapur, suara Bi Inah hilang beberapa detik.

“Wulan sekamarku,” kata Amalia. “Jaket almamaternya selalu kebesaran. Kalau dia jalan, lengan jaketnya nutup sampai separuh telapak tangan.”

Suaranya melemah. “Dia mau keluar.”

Sekar akhirnya menyentuh tepi celana Amalia. Hanya dua jari. Ringan sekali. Seperti anak yang meminta izin untuk tetap berada di sana. Amalia tidak menepisnya.

“Dia bilang ada mahasiswa yang kejebak di jalan. Ada yang butuh dibawa masuk. Aku tahan dia.” Napas Amalia mulai terputus-putus. “Aku kunci pintu kamar dari dalam. Aku pikir, kalau pintunya terkunci, dia aman. Kalau dia tetap di dalam, dia nggak akan lecet.”

Jemarinya meremas lutut celana kargo.

“Dia ketawa. Masih sempat ketawa. Dia bilang, ‘Kalau kita cuma sembunyi, siapa yang mau jagain mereka, Li?’”

Kalimat itu jatuh di antara mereka. Banyu menatap lantai. Sekar menutup mulut dengan punggung tangan.

“Lalu kacanya pecah.” Suara Amalia tetap datar.

“Kaca nako depan. Keras sekali. Pecahannya masuk ke kamar. Aku ingat bunyinya. Sampai sekarang, aku selalu ingat bunyinya dulu sebelum ingat wajah siapa pun.”

Hujan menghantam skylight. Amalia menatap serpihan kristal di lantai.

Lihat selengkapnya