Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #33

BAB 33: SETELAH GERBANG PECAH

Pagi tidak membuat rumah itu terlihat lebih baik.

Cahaya matahari masuk dari skylight dengan kejam, menyingkap semua yang malam berusaha sembunyikan. Jejak sepatu basah di lantai semen ekspos. Serpihan kristal yang masih berkilau seperti gigi patah. Pintu jati yang miring beberapa milimeter dari engselnya. Rel pagar depan yang terangkat keluar dari jalur, menyisakan luka besi di sepanjang pelataran.

Rumah Amalia tidak lagi tampak seperti benteng. Rumah itu tampak seperti tempat kejadian.

Pukul enam lewat dua puluh, petugas keamanan lingkungan kembali berdiri di depan gerbang dengan jas hujan plastik yang menggantung basah di bahunya. Di belakangnya, dua polisi berseragam mencatat sesuatu di dekat pagar yang bengkok. Seorang petugas lain mengambil foto plat kendaraan yang tertangkap kamera perimeter dari tablet milik Amalia.

Garis polisi kuning belum melintang di lobi. Meski begitu, sejak semalam tidak satu pun benda di ruang depan boleh disentuh tanpa dicatat.

Bi Inah berdiri di mulut dapur dengan wajah pucat. Tangannya terus bergerak memegang ujung celemek, lalu melepasnya, lalu memegangnya lagi. Beberapa kali ia menatap pecahan piring di dekat meja island seperti ingin mengambil sapu. Setiap kali itu pula Amalia berkata, pelan tetapi tegas, “Jangan dulu, Bi.”

Pagi itu, kerusakan punya fungsi.

Pak Budi berdiri di sisi pintu servis, kemeja batiknya kusut dan matanya merah oleh kurang tidur. Sejak dini hari ia belum duduk. Ia membuka gerbang untuk petugas, mengantar legal counsel masuk, menunjukkan rekaman CCTV kompleks, dan menjawab pertanyaan petugas keamanan lingkungan dengan suara serak.

Setiap kali matanya bertemu Amalia, ia menunduk, seolah rel pagar yang bengkok itu adalah kesalahan pribadinya.

Amalia melihatnya untuk ketiga kali sebelum akhirnya berkata, “Pak Budi.”

Pria tua itu langsung menegakkan badan. “Iya, Bu.”

“Duduk.”

“Tidak apa-apa, Bu. Saya—”

“Pak Budi.”

Nada itu membuat Pak Budi diam.

Amalia berdiri di tengah lobi dengan plester tipis di tulang pipinya. Rambutnya diikat rendah, tidak serapi biasanya. Kemeja linen yang ia kenakan sejak malam telah berganti menjadi kemeja putih bersih, tetapi bagian lengan kanannya masih terlipat tidak simetris. Ia tahu. Ia membiarkannya.

“Bimo membaca rute karena kita semua sedang berusaha melindungi Sekar,” katanya. “Bapak tidak ceroboh.”

Pak Budi tidak langsung menjawab. Kerutan di sekitar matanya mengeras.

“Saya yang ambil barang-barang itu, Bu.”

“Sesuai instruksi saya.”

“Saya yang putar rute.”

“Sesuai instruksi saya.”

“Saya yang tidak sadar kalau—”

“Tidak.” Suara Amalia turun, tidak meninggi. “Kita tidak akan membantu Bimo dengan menyalahkan orang yang melakukan tugasnya.”

Pak Budi menunduk lebih dalam.

Amalia melihat sesuatu yang rapuh di wajahnya. Rasa gagal seorang laki-laki tua yang selama ini bangga karena tahu bagaimana membuat majikannya tiba dan pulang tanpa gangguan.

“Bapak tetap di sini,” lanjut Amalia. “Bantu security lingkungan kalau mereka butuh akses rekaman gerbang. Tapi setelah itu duduk. Minum. Makan.”

Pak Budi membuka mulut.

Amalia menatapnya.

Pak Budi menutup mulut kembali. “Inggih, Bu.”

Di sisi lain lobi, Banyu duduk di sofa panjang dengan posisi tubuh yang terlalu tegak untuk orang yang rusuknya baru saja dipukul. Kemeja hitamnya sudah diganti dengan kaus abu-abu milik Pak Budi yang terlalu longgar di bahunya. Sudut bibirnya masih bengkak. Ketika ia bernapas terlalu dalam, rahangnya bergerak menahan sakit.

Amalia memperhatikan itu tanpa komentar. Komentar hanya akan membuatnya berdiri lagi.

Di hadapannya, seorang perempuan berusia empat puluhan dengan blazer navy dan rambut dicepol rendah sedang membuka laptop di atas meja konsol yang sudah digeser menjauh dari pecahan kristal. Namanya Vira Satwika. Legal counsel firma. Orang yang selama ini lebih sering berbicara dengan Amalia melalui e-mail dingin dan lampiran PDF yang diberi penomoran presisi.

Pagi itu, Vira duduk di lobi rumah Amalia dengan sepatu datarnya menyentuh lantai yang masih bernoda darah.

“Rekaman perimeter, audio alarm, log SOS, foto gerbang, dan rekaman ponsel sudah disalin ke dua storage terpisah,” kata Vira. “File asli tetap di sistem rumah. Jangan dihapus, jangan dipindahkan manual.”

Lalu tatapannya berpindah ke Banyu. “Pak Banyu.”

Banyu menoleh.

“Anda juga perlu membuat keterangan tertulis terpisah. Karena Anda menerima SOS, tiba di lokasi, dan meneruskan paket rekaman ke kami.”

“Sudah saya siapkan draft kronologi,” jawab Banyu.

Amalia menoleh kepadanya.

Banyu menyerahkan map itu tanpa menatap Amalia. Wajahnya lelah, suaranya habis, tetapi kronologinya rapi sampai ke menit-menit kecil. Disiplin semacam itu, asingnya, membuat Amalia sedikit lebih mudah bernapas.

Vira membaca cepat halaman pertama.

“Bagus,” katanya. “Faktual. Tidak terlalu banyak opini.”

“Saya belajar dari orang yang akan membunuh saya kalau kronologi saya terlalu dramatis.”

Amalia menatapnya datar.

Banyu menunduk sedikit. “Maaf.”

Vira tidak tersenyum, tetapi sudut matanya bergerak setengah milimeter. “Simpan candaan untuk nanti, Pak. Pagi ini kita masih butuh semua orang terlihat waras.”

Dari ruang tengah, terdengar suara langkah pelan.

Sekar muncul. Ia mengenakan sweater abu-abu pinjaman yang terlalu besar. Rambutnya diikat asal. Wajahnya pucat, tetapi matanya tidak kosong. Di tangannya, ia membawa sketchpad yang sampulnya sedikit kusut.

Amalia langsung berdiri.

Sekar berhenti.

Amalia baru sadar tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia berhenti dua langkah dari sofa, menahan diri agar tidak langsung berjalan, tidak langsung menyentuh, tidak langsung menentukan bentuk aman yang harus dipakai Sekar pagi itu.

“Kamu tidak harus keluar sekarang,” kata Amalia.

Sekar memandang lobi. Matanya berhenti pada pecahan vas. Pada pintu rusak. Pada sofa tempat Banyu duduk dengan bibir bengkak. Pada Vira dengan laptop terbuka. Pada dua polisi yang masih berbicara dengan petugas keamanan di luar.

“Aku tahu.” Suaranya kecil, tetapi tidak hilang.

“Aku mau dengar.”

Vira menutup laptop setengah.

“Sekar,” katanya, suaranya langsung berubah lebih lembut tanpa menjadi manis. “Saya Vira. Saya kuasa hukum firma Tante Amalia. Untuk kamu, saya belum akan bertindak sebagai pengacara pribadi, tapi pagi ini tugas saya memastikan tidak ada orang yang mengambil keteranganmu dengan cara yang merugikanmu.”

Sekar mengangguk. Gerakannya cepat, rapi, nyaris otomatis.

Amalia melihatnya.

“Kar,” kata Amalia.

Sekar menoleh.

Lihat selengkapnya