Rumah Cokroningrat tidak pernah benar-benar sepi.
Bahkan ketika tidak ada orang yang berbicara, rumah itu tetap bersuara. Kayu jati tua memuai pelan di bawah panas Solo. Langkah pelayan ditahan agar tidak terlalu terdengar. Porselen diletakkan dengan hati-hati di atas nampan perak. Kipas angin langit-langit berputar lambat seperti napas orang sakit.
Pagi setelah kabar dari Jakarta datang, semua suara itu terasa lebih keras.
Ratih duduk di tepi ranjang kamar utama dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Tirai krem di jendela belum dibuka. Cahaya matahari masuk sebagai garis tipis, menimpa lantai tegel tua dan ujung koper kecil yang terbuka di dekat lemari.
Koper itu belum diisi.
Sejak pukul lima pagi, Ratih sudah tiga kali berdiri di depannya, membuka laci, menyentuh pakaian, lalu menutupnya kembali. Ia tahu apa yang harus dibawa. Tubuhnya saja belum percaya bahwa ia boleh pergi.
Di atas meja rias, ponselnya tergeletak dengan layar menghadap bawah. Sepanjang malam benda itu seperti bernapas sendiri, menyimpan semua yang tidak sanggup ia tanyakan.
Tadi subuh, pesan dari nomor asing masuk ke ponsel Ibu Laksmi.
VIRA SATWIKA.
Ratih belum pernah mendengar nama itu. Isi pesannya membuat lututnya kehilangan kekuatan.
Rumah Ibu Amalia diserbu semalam. Sekar selamat. Keterangan awal akan diambil pagi ini dengan pendamping. Kami perlu mengatur komunikasi aman dengan Ibu Ratih.
Ratih membaca pesan itu sekali.
Lalu sekali lagi. Selama beberapa detik, ia lupa cara bernapas.
Sekar selamat. Rumah Ibu Amalia diserbu.
Dua kalimat itu tidak bisa duduk berdampingan dengan damai di kepalanya.
Di luar kamar, suara berat Bapak terdengar dari ruang tengah. “Ini sudah melewati batas.”
Ratih menutup mata. Sejak pesan itu datang, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang benar-benar menyebut Sekar sebagai anak yang ketakutan.
Mereka menyebutnya masalah. Nama baik. Urusan keluarga. Perkara yang harus ditutup sebelum melebar.
Ratih berdiri. Lututnya terasa lemah, tetapi ia tetap berjalan ke pintu. Saat tangannya menyentuh gagang kuningan yang dingin, ingatan malam sebelumnya datang kembali, lengkap dengan bau minyak kayu putih di koridor dan suara roda koper kecil yang ditarik terlalu cepat.
Malam sebelum gerbang Amalia pecah, Bimo keluar dari ruang kerja belakang dengan kemeja putih yang masih terlalu rapi untuk disebut panik.
Ratih berdiri di ujung koridor. Dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna, ia sempat mendengar pecahan kata. Jakarta. Kuasa hukum. Investor. Malam ini.
Nama Sekar tidak disebut. Nama Amalia juga tidak. Tetapi selama bertahun-tahun hidup bersama Bimo, Ratih tahu bahaya sering datang justru dari kata yang sengaja dilewati.
Bimo memasukkan ponsel kedua ke saku dalam jasnya. Amplop cokelat tipis terselip di tas kulit hitamnya.
“Mas mau ke mana?” tanya Ratih.
“Jakarta.”
“Sekarang?”
“Urusan kuasa hukum.”
“Mas Bimo...” Ratih menelan ludah. “Ini soal Sekar?”
Bimo menoleh. Wajahnya tetap rapi, terlalu bersih untuk seseorang yang pergi mendadak di malam hari.
“Semua hal sekarang soal Sekar karena kamu membiarkan anak itu menjadi senjata orang lain.”
Dari ruang tengah, Ibu berdiri tanpa suara. Matanya tidak berpindah dari ponsel kedua di saku Bimo.
“Pertemuan apa yang harus dilakukan malam-malam?” tanya Ibu.
“Pertemuan yang tidak bisa menunggu besok, Bu.”
“Dengan kuasa hukum?”
“Dan investor.”
“Di Jakarta?”
“Ya.”
Ibu menatapnya lama.
“Kalau ini urusan hukum,” kata Ibu, “surat bisa dikirim.”
Bimo tersenyum tipis. “Tidak semua pintu bisa dibuka dengan surat, Bu.”
Kalimat itu tinggal di udara.
Ratih ingin berlari ke kamar, mengambil ponsel, menelepon Mbak Lia, dan mengirim pesan apa pun. Mas Bimo ke Jakarta. Aku tidak tahu untuk apa. Hati-hati.
Tetapi ia hanya punya rasa takut yang belum berbentuk. Jika ia salah, Bimo akan tahu ia masih mencoba memperingatkan Amalia. Jika ia benar, mungkin ia sudah terlambat.
“Kita tidak punya alamat rumah Lia,” kata Ibu pelan setelah suara mobil Bimo menjauh.
“Saya bisa telepon Mbak Lia.”
“Dan berkata apa?”
Ratih terdiam. Di kepalanya, semua tanda itu benar. Tetapi tidak satu pun cukup konkret untuk melindungi Amalia, sementara semuanya cukup berbahaya untuk menghancurkan Ratih kalau Bimo tahu.
“Kalau kamu menelepon sekarang dan Bimo tahu,” lanjut Ibu, “kamu tidak akan bisa menelepon siapa pun lagi setelah itu.”
“Jadi kita diam saja?”
Ibu menatapnya. Baru malam itu, Ratih melihat ibunya tidak punya jawaban.
Beberapa jam kemudian, kabar dari Jakarta datang. Sejak saat itu, diam tidak lagi terdengar seperti tata krama. Diam terdengar seperti keterlambatan.
Ratih membuka pintu kamar.
Koridor panjang rumah itu menyambutnya dengan hawa lembap dan wangi bunga sedap malam yang mulai busuk di vas-vas besar. Di dinding, foto keluarga berbingkai emas menatapnya dari masa lalu yang terlalu lama dipertahankan: Bapak dalam beskap hitam, Ibu dengan kebaya hijau tua, Suryo berdiri tegak sebagai putra pertama, Amalia dengan wajah kaku yang nyaris tidak tersenyum, dan Ratih kecil yang menggenggam ujung selendang ibunya.
Ratih berhenti di depan foto itu.
Dulu ia mengira rumah adalah tempat orang pulang. Sekarang ia tahu rumah juga bisa menjadi tempat orang belajar tidak bersuara.
Di ruang tengah, Bapak duduk di kursi kayu besar dengan sandaran tinggi. Tongkatnya terletak melintang di atas pangkuan. Di sebelahnya, Ibu duduk dengan punggung lurus, kedua tangan bertumpu di atas tas kecilnya.
Bimo tidak ada di ruang tengah. Tetapi ruangan itu belum terasa lega. Semua orang duduk seperti sedang menunggu amarahnya kembali melewati pintu.
“Duduk,” kata Bapak tanpa menoleh.
Ratih tetap berdiri. Perintah itu lewat begitu saja, tidak langsung menemukan tempat di tubuhnya seperti biasanya.
Bapak mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, tetapi bagian bawahnya tampak lelah oleh kurang tidur.
“Kamu dengar yang terjadi di Jakarta.”
Ratih mengangguk. “Rumah Mbak Lia diserbu.”
“Jangan pakai kata itu.”
Ratih terdiam.
Bapak mengetukkan ujung tongkat ke lantai. Satu kali. Cukup untuk membuat pelayan di ujung koridor menunduk dan mundur.
“Ini urusan keluarga yang memburuk karena semua orang bertindak sendiri-sendiri. Sekar kabur. Lia menyembunyikan. Bimo kehilangan kendali. Sekarang polisi ikut masuk.”
Ibu menatap cangkir teh di hadapannya. Ratih merasakan sesuatu di dadanya bergerak. Pelan. Panas. Berbahaya.
“Mas Bimo menabrak pagar rumah Mbak Lia.”