Hari Minggu habis untuk hal-hal yang tidak terdengar heroik. Sekar dipindahkan ke lokasi sementara, barang bukti dicatat, nomor komunikasi diganti, Ratih dipastikan tiba dengan pendamping, dan semua orang dipaksa makan sesuatu meski tidak ada yang benar-benar lapar.
Rumah Amalia belum dibersihkan.
Pecahan kristal masih menunggu dicatat. Rel pagar masih miring di luar jalur. Pintu jati masih ditahan palang darurat. Untuk sementara, rumah itu berhenti menjadi tempat berlindung dan menjadi arsip terbuka dari segala yang dilakukan Bimo malam itu.
Sekar dan Ratih tidak berada di gedung Ciptaningrum Atelier pagi itu. Widya menempatkan mereka di lokasi sementara dengan pendamping, sementara Amalia diminta datang ke atelier untuk memastikan semua yang terjadi tidak lagi hidup sebagai cerita lisan.
***
Senin, 09.17 — Ruang Rapat Kecil, Ciptaningrum Atelier
Ruang rapat kecil di lantai dua Ciptaningrum Atelier berubah menjadi ruang penyusunan perang yang tidak terlihat seperti perang. Map berlabel berjajar di atas meja kaca. Laptop terbuka. Dua gelas kopi sudah dingin. Di tengah meja, satu hard drive eksternal hitam diletakkan seperti benda paling berbahaya di ruangan itu.
Amalia duduk di ujung meja.
Luka di tulang pipinya sudah mengering di balik plester tipis. Rambutnya diikat rapi, tetapi wajahnya masih menyimpan sisa kurang tidur yang tidak bisa ditutup oleh bedak tipis. Kemeja putihnya bersih. Mansetnya terkancing. Punggungnya tegak.
Sekilas, ia tampak seperti Amalia Ciptaningrum yang lama. Bedanya, kali ini tangannya tidak menyentuh hard drive itu sendirian.
Di sebelah kanannya, Vira Satwika membuka folder digital yang berisi rekaman perimeter rumah Amalia, log SOS, foto gerbang bengkok, dan transkrip awal keterangan Sekar. Di sisi lain meja, seorang pengacara pendamping untuk Ratih dan Sekar bernama Widya Larasati membaca catatan dari Solo. Di dalamnya ada pernyataan Ratih, daftar barang pribadi yang ia bawa, dan konfirmasi bahwa ia telah meninggalkan rumah Cokroningrat dengan pendamping.
Banyu duduk di kursi paling ujung.
Rusuknya sudah diperiksa dokter panggilan pagi sebelumnya; tidak retak, hanya memar dalam yang membuat setiap tarikan napas tampak terlalu dihitung.
Jarak itu ia pilih sendiri. Dari sana, ia masih bisa menjawab jika diminta, tanpa membuat kehadirannya menguasai meja. Di depannya, map hitam Nusantara Grid terletak tertutup. Belum ada yang menyentuhnya.
“Urutannya harus jelas,” kata Vira. Ia memutar laptop sedikit ke arah Amalia. “Perkara pertama: perusakan, masuk tanpa izin, intimidasi, dan percobaan membawa paksa anak di rumah Ibu. Ini berdiri sendiri.”
Amalia mengangguk.
“Perkara kedua,” lanjut Vira, “posisi Sekar sebagai anak yang menyatakan takut kepada ayahnya dan meminta perlindungan. Ini harus ditangani lewat jalur keluarga dan perlindungan anak. Bukan lewat firma Ibu.”
Widya mengangkat wajah. “Saya sudah koordinasi awal dengan pihak yang bisa mendampingi Sekar untuk keterangan lanjutan. Tidak hari ini. Anak itu perlu tidur dulu.”
Amalia menahan dorongan untuk bertanya berapa jam, di mana, dengan siapa, dalam format apa.
Ia hanya mengangguk. “Baik.”
Banyu melihatnya sekilas. Ia tidak tersenyum, tetapi Amalia tahu ia melihat usaha itu.
“Perkara ketiga,” kata Vira, suaranya sedikit berubah, “Nusantara Grid.”
Ruangan menjadi lebih tenang.
Banyu membuka map hitam itu. Ia melepas karet pengikatnya, mengeluarkan ringkasan sumber yang sudah disusun ulang, lalu mendorongnya ke tengah meja.
“Ini belum bukti final,” katanya. “Dan aku tidak mau ini diperlakukan seperti peluru.”
Vira menatapnya.
Banyu melanjutkan, “Ini peta. Term sheet. Kronologi tekanan setelah penolakan akuisisi. Salinan korespondensi sebelum gangguan operasional. Nama vendor yang muncul setelah aset Nusantara Grid berpindah. Beberapa transaksi yang perlu ditelusuri ulang oleh orang yang punya wewenang.”
Widya membaca halaman pertama.
“Dan hubungan dengan kejadian Sekar?”
“Pola,” jawab Amalia.
Semua mata beralih kepadanya. Amalia menatap dokumen di tengah meja. Ia tidak menyentuhnya.
“Bimo menutup jalan keluar,” katanya. “Dalam bisnis, dia membuat target terlihat bermasalah sampai kepatuhan menjadi pilihan paling mudah. Di rumah, dia membuat Sekar terlihat sebagai anak bermasalah sampai pulang kepadanya tampak seperti penyelesaian.”
Vira mengetik beberapa kata.
“Pola intimidasi lintas konteks,” gumamnya. “Bukan bukti langsung untuk perkara anak, tapi bisa menjadi dasar memperluas pemeriksaan reputasi dan risiko.”
“Dan bisa berbahaya kalau dipakai sembarangan,” kata Banyu.
Amalia menoleh kepadanya.
Banyu menahan pandangannya.
“Aku tidak mau Sekar jadi pintu masuk untuk balas dendam lamaku,” katanya pelan.
Kata itu membuat sesuatu di dada Amalia bergerak.
Balas dendam.
Banyu menyebutnya lebih dulu sebelum orang lain bisa menuduhnya.
“Karena itu,” lanjut Banyu, “yang masuk hari ini hanya ringkasan sumber. Dokumen asli tetap di tempat terpisah. Legal boleh menilai mana yang bisa dibawa ke regulator, investor, atau pihak berwenang. Kalau belum cukup, kita tidak pakai.”
Vira memandangnya beberapa detik.
“Baik,” katanya. “Kita jaga pemisahan. Perkara rumah Amalia tidak bergantung pada Nusantara Grid. Nusantara Grid tidak ditarik semata-mata karena Bimo menyerang rumah Amalia. Tapi insiden rumah Amalia memberi konteks perilaku.”
“Dan memberi alasan orang lain mulai mendengar,” kata Widya.
Ruangan itu menerima kalimat tersebut tanpa perlu menyukainya.
Amalia menatap hard drive di tengah meja. Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa bukti terbaik adalah bukti yang ia simpan sendiri sampai waktunya tepat. Lemari baja, kode akses, folder tersembunyi yang hanya ia tahu letaknya.
Pagi itu, bukti-bukti itu mulai keluar dari wilayahnya. Hard drive berpindah ke tangan Vira. Catatan Sekar masuk ke berkas Widya. Rekaman pagar disalin ke sistem yang tidak bisa ia kunci sendiri.
Tubuh Amalia ingin menegang. Ia membiarkannya. Lalu ia melepaskan napas perlahan.
“Berapa lama sampai ada respons?” tanyanya.
Vira menatap layar.
“Untuk laporan perusakan dan invasi rumah, prosesnya berjalan. Untuk perlindungan Sekar, kita bergerak hari ini. Untuk Nusantara Grid...” Ia berhenti sebentar. “Kalau kita kirim ringkasan sumber ke pihak yang tepat, respons awal bisa datang cepat. Tapi prosesnya tidak akan bersih, tidak akan pendek, dan tidak akan sepenuhnya dalam kendali kita.”
Amalia hampir tertawa. Kalimat itu terdengar seperti semua hal yang ia benci.
“Baik,” katanya. Satu kata itu keluar lebih tenang daripada yang ia rasakan.
Banyu menatapnya lagi.
Kali ini Amalia membiarkannya.
***
Senin, 11.20 — Kantor Cabang Nusantara Grid, Jakarta
Bimo Mahardhika menerima panggilan pertama yang tidak bisa ia abaikan.
Ia sedang berada di ruang kerja sebuah kantor cabang Nusantara Grid di Jakarta, bukan di rumah Cokroningrat. Ruangan itu terlalu modern untuk tubuhnya yang semalam belum tidur. Kaca buram. Meja hitam mengilap. Layar besar yang menampilkan grafik pertumbuhan. Satu vas anggrek putih yang terlalu mahal untuk terlihat hidup.
Di layar ponselnya, nama seorang komisaris independen muncul. Bimo menatap nama itu selama tiga dering.