Dua minggu setelah gerbang Amalia dijebol, taman belakang menjadi bagian pertama dari rumah itu yang kembali bisa digunakan.
Bagian depan masih ditutup terpal. Rel pagar belum selesai diganti. Pintu jati utama masih menyisakan bekas benturan yang sengaja belum dipoles seluruhnya. Lobi tidak lagi dipenuhi pecahan kristal, tetapi di beberapa bidang lantai, goresan halus masih tertinggal seperti garis-garis kecil yang menolak dihapus terlalu cepat.
Rumah itu belum pulih. Mungkin memang tidak perlu kembali persis seperti semula.
Di belakang rumah, jauh dari garis masuk yang dulu dipaksa terbuka, angin sore menggesek daun-daun ketapang kencana. Gemerisiknya membungkus taman dengan ritme pelan. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan ke permukaan rumput. Di sudut taman itu, garis-garis kaku dari beton dan kaca rumah Amalia tampak lebih lunak. Selama beberapa jam, rumah itu tidak perlu menjadi benteng.
Mereka tidak datang untuk bersembunyi.
Vira dan Widya tahu kunjungan itu. Lokasi sementara Ratih dan Sekar tetap tidak berubah. Jadwal datang dan pulang mereka sudah diatur. Pengemudi yang mengantar adalah orang baru, di luar semua kebiasaan lama yang pernah bisa dibaca Bimo.
Dua petugas keamanan tambahan berjaga di sisi luar pagar sementara. Kamera perimeter sudah aktif kembali. Kunjungan itu dibatasi dua jam, dicatat, dan disetujui oleh kuasa hukum pendamping. Perlindungan itu tidak lagi dibangun dari rahasia Amalia seorang diri.
Kali ini, ada saksi.
Di atas meja teras berpelitur matte, empat cangkir porselen berisi teh chamomile masih mengepul tipis. Tepat di sebelah cangkir Amalia, sebuah kotak kayu jati berukir duduk membisu. Lapisan debu tipis di permukaannya menjadi bukti bahwa benda itu telah lama dibekukan oleh waktu, jauh sebelum gerbang rumah ini patah, jauh sebelum nama Bimo masuk ke berkas yang tidak bisa ia atur sendiri.
Amalia duduk di kursi kayunya dengan punggung tidak setegang biasanya.
Tidak sepenuhnya rileks. Tubuhnya belum sampai ke sana.
Tetapi kedua tangannya tidak mengepal di pangkuan. Bahunya tidak naik sampai mendekati leher. Matanya tidak terus-menerus memeriksa sudut taman, arah pintu, posisi kamera, atau jarak antara Sekar dan gerbang servis.
Di seberang meja, Ratih tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali Amalia melihatnya di Solo. Tulang pipinya menonjol tajam. Kulit di bawah matanya menggelap. Ada sesuatu yang berubah di wajah adiknya itu. Rasa takut masih ada, tetapi tidak lagi selalu berdiri paling depan setiap kali Ratih hendak bicara.
Tangan Ratih menyeberangi meja, menggenggam telapak tangan Sekar. Ibu jarinya mengusap punggung tangan putrinya berulang kali, pelan dan konstan. Sentuhan itu seperti cara paling sederhana untuk memastikan bahwa mereka berdua masih berada di tempat yang sama, pada jam yang sama, tanpa perlu menebak suara langkah siapa pun di koridor.
Sekar membiarkannya. Sesekali, jari-jari remaja itu membalas genggaman ibunya. Sebentar saja, tetapi cukup untuk membuat Ratih kembali bernapas.
“Berita pemeriksaan Mas Bimo muncul di televisi kemarin pagi,” kata Ratih. Suaranya parau. Matanya memerah saat menatap Amalia. “Belum penangkapan. Belum selesai. Tapi kemarin, dia yang harus menjawab pertanyaan.”
Amalia tidak menyela.
Ratih menelan ludah.
“Nusantara Grid diminta klarifikasi. Beberapa dokumen perusahaan diperiksa. Ruang kerja Mas Bimo di Solo dipasangi garis polisi sementara.” Ia tertawa kecil, patah dan hampir tanpa suara. “Aneh ya, Mbak. Semua masih belum selesai. Tapi tadi malam aku bisa tidur tanpa menunggu suara langkahnya di koridor.”
Ratih mengatakannya tanpa nada menang. Tubuhnya seperti baru belajar bahwa malam bisa lewat tanpa ancaman.
Amalia merespons dengan satu anggukan tenang.
“Untuk sementara, kamu dan Sekar tetap di tempat yang disiapkan Widya dan Vira,” katanya. “Kontraknya bukan atas namaku. Aksesnya terbatas. Sekolah baru Sekar kita urus setelah pendamping hukumnya bilang waktunya aman.”
Ratih mengangguk pelan.
Gerakannya tidak lagi secepat orang yang takut keliru. Untuk beberapa detik, rencana itu terasa seperti sesuatu yang boleh ia terima tanpa diperintah.
“Terima kasih, Mbak Lia,” katanya. Air matanya jatuh juga, tetapi ia tidak buru-buru menghapusnya.
Sekar menatap ibunya, lalu menatap Amalia. “Jadi aku belum sekolah dulu?”
“Belum,” jawab Amalia. “Sampai kamu siap, dan sampai jalurnya aman.”
“Kalau aku ketinggalan?”
“Kita cari guru sementara.”
“Kalau teman-teman nanya?”
“Kamu tidak wajib menjelaskan apa pun sebelum kamu ingin.”
Sekar menunduk ke cangkirnya.
“Enak ya,” gumamnya pelan.
Ratih menoleh. “Apa?”
“Tidak wajib menjelaskan.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Di ujung meja, terpisah oleh jarak yang tidak sekadar diukur dengan sentimeter melainkan oleh puluhan tahun kebisuan, Ibu Laksmi duduk dengan kedua tangan di atas pangkuan.
Wanita itu mengenakan tunik sutra berwarna gading yang jatuh sempurna di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi. Selendang batiknya tersampir di bahu kiri. Dari luar, ia masih dapat dikenali sebagai perempuan Cokroningrat yang tahu cara duduk, cara menahan dagu, cara meletakkan cangkir, dan cara membuat luka terlihat seperti tata krama.
Tetapi Amalia melihat perubahan kecil itu. Jari-jari Ibu Laksmi tidak lagi memelintir ujung selendang tanpa henti. Sesekali ia masih menyentuh kain itu, lalu melepaskannya lagi, seolah sedang melatih tangannya untuk tidak kembali diam di tempat lama.
“Bapakmu menolak datang,” kata Ibu akhirnya. Kalimat itu keluar pelan, aus oleh usia dan terlalu banyak hal yang pernah ia telan.
“Katanya, rumah ini sudah cukup membuat nama keluarga menjadi tontonan.”
Amalia mengangkat cangkirnya, menyesap teh hangat itu pelan.
Dulu, kalimat seperti itu akan memasuki tubuhnya seperti paku. Nama keluarga. Malu. Tontonan. Semua kata yang selama puluhan tahun dipakai untuk membuat perempuan di rumah itu menurunkan suara.
Sore itu, kata-kata itu jatuh di atas meja dan tidak menemukan tempat untuk berakar.
“Bapakmu marah kepada Bimo,” lanjut Ibu. “Tapi lebih marah lagi karena urusan ini tidak bisa ia atur.”
Ratih menunduk. Sekar menggenggam tangan ibunya lebih erat. Amalia meletakkan cangkirnya.
“Bapak selalu lebih takut kehilangan kendali daripada kehilangan anak,” katanya.
Kalimat itu keluar datar. Amalia tidak mengangkat suara. Ia hanya menyebut sesuatu yang selama ini terlalu lama diputar dengan bahasa keluarga.
Ibu menutup mata sebentar. Ketika ia membukanya kembali, mata tua itu tampak lebih merah daripada tadi.
“Ibu tahu.” Dua kata itu membuat angin sore terasa lebih pelan.