Rumah di Ujung Jalan

Angelia Claresta
Chapter #37

BAB 37: RUMAH DI UJUNG JALAN

BUM. TAK. CRASH.

Suara tabuhan drum itu menggema menembus pintu kayu berperedam ganda.

Amalia berdiri di ruang tengah rumah Banyu, tiga hari setelah sore di taman belakang ketika Sekar menerima kain Truntum dan mulai melihatnya sebagai sesuatu yang bisa ia bentuk sendiri.

Ratih dan Sekar masih tinggal di lokasi sementara yang disiapkan Widya dan Vira. Bimo masih diperiksa. Berkas Nusantara Grid masih bergerak. Rumah Amalia sendiri belum selesai diperbaiki, rel pagar depannya masih menunggu diganti, dan beberapa luka di lantai sengaja belum dipoles.

Semua urusan itu belum selesai. Tetapi sore itu, Amalia berada di rumah Banyu.

Ucapan Ibu Elara masih tertinggal di kepalanya. Ia belum tahu cara menjadi penghuni. Mungkin ia bisa mulai dari cara yang paling ia kenal. Membaca ruang, menggambar ulang, dan membiarkan rumah menunjukkan bagian mana yang terlalu lama dibiarkan diam.

Amalia tidak mengenakan blus sutra yang kaku atau celana berpotongan presisi bagai baju zirah. Ia memakai kemeja katun putih oversized dan celana jeans biru pudar. Pakaian yang tidak membuatnya tampak lebih muda, hanya membuat tubuhnya berhenti terlihat seperti sedang menghadapi sidang yang tak pernah selesai.

Rumah Banyu tetap seperti terakhir kali ia datang. Berantakan dengan cara yang tidak meminta maaf.

Di meja ruang tengah, tiga buku musik Saka bertumpuk di sebelah mug bekas kopi Banyu. Di atas piano tua, bingkai foto Hanna sedikit miring. Bantal sofa tidak pernah kembali ke sudut yang sama. Sebuah jaket denim tergeletak di lengan kursi, entah milik siapa, entah sejak kapan.

Dulu, semua itu membuat Amalia ingin merapikan napasnya sendiri. Sore itu, ia hanya melihatnya sebagai bukti bahwa rumah ini tidak pernah benar-benar berhenti dihuni.

Banyu sedang keluar membeli makan malam. Ia hanya mengambil kunci mobil, bertanya dua kali apakah pepperoni masih aman untuk semua orang, lalu pergi setelah Saka menjawab dengan gumaman pendek dari balik pintu studio.

Amalia tahu Banyu sedang memberinya ruang. Kali ini, ia tidak merasa perlu marah untuk menjaga jarak.

BUM. TAK. TAK. CRASH.

Suara drum kembali menghantam dinding.

Amalia melangkah perlahan mendekati pintu studio musik.

Di depan pintu, ia berhenti. Tangannya sudah menyentuh tuas kuningan, tetapi ia tidak langsung menekannya. Dari balik kayu berperedam ganda, suara snare dan cymbal terdengar seperti benda-benda kecil yang dilemparkan ke dinding dari dalam dada seseorang.

Amalia mengetuk.

Crash cymbal dipukul lebih keras.

Ia mengetuk lagi.

Kali ini, ritme drum berhenti setengah ketukan, lalu kembali dengan tempo yang lebih kasar, lebih cepat, seolah Saka sengaja menjawab dengan suara yang tidak perlu diterjemahkan menjadi kata-kata.

Amalia menekan tuas pintu dan membukanya hanya selebar telapak tangan.

“Saka?”

Hantaman snare dan cymbal seketika menabrak telinganya.

Amalia menahan tubuhnya di ambang pintu, membiarkan suara itu memenuhi ruang sebelum ia mengambil langkah berikutnya.

Saka sedang memukul drumnya dengan mata terpejam. Kaus hitam remaja itu basah menempel di punggung. Keriuhan tempo stik kayunya memancarkan amarah, kebingungan, dan sesuatu yang lebih tua dari usia enam belas tahun, rasa takut bahwa setiap orang baru yang masuk ke rumah ini akan mengambil tempat seseorang yang tidak bisa kembali.

Mata Saka terbuka. Ia melihat Amalia di ambang pintu. Ritme tangannya goyah satu ketukan. Lalu ia mengeraskan rahang dan mengayunkan lengannya lebih tinggi, memukul crash cymbal dengan kekuatan penuh.

Amalia tetap berdiri di sana.

Saka memukul lagi, lebih keras, lalu akhirnya berhenti sendiri.

Tzsss.

Getaran cymbal memudar pelan. Studio itu mendadak terasa terlalu sempit untuk dua orang yang sama-sama tidak tahu bagaimana memulai percakapan.

Saka menatap Amalia dengan napas memburu.

“Papa keluar,” katanya ketus.

“Tante tahu.”

“Kalau mau nunggu, ruang tengah di sana.”

“Tante tahu.”

“Terus kenapa berdiri di situ?”

Amalia melihat lantai studio yang dipenuhi kabel, pedal, stik cadangan, dan satu jaket hitam yang dilempar sembarangan di dekat ampli.

“Karena ini ruangmu,” katanya. “Tante nggak mau masuk sebelum kamu izinkan.”

Saka memandangnya lama, seperti izin sederhana itu justru lebih sulit ia pahami daripada teguran. “Sejak kapan orang dewasa nunggu izin?”

Amalia menarik napas pelan. “Sejak Tante sadar terlalu banyak orang dewasa masuk ke ruang anak tanpa mengetuk.”

Saka tidak menjawab. Tangannya masih memegang stik, tetapi genggamannya tidak lagi sekeras tadi.

“Papa nyuruh Tante ngomong sama aku?”

“Tidak.”

“Papa tahu Tante ke sini?”

“Dia tahu Tante ada di rumah. Dia tidak tahu Tante berdiri di depan studio.”

“Jadi ini ide Tante sendiri?”

“Iya.”

Saka menatapnya dengan curiga. “Kenapa?”

Amalia memandang drum set di hadapannya. Crash cymbal yang tadi dipukul terlalu keras masih berayun sedikit, menangkap cahaya lampu studio. Di dinding belakang, panel akustik hitam menempel tidak presisi. Ada satu poster band yang hampir lepas di sudut kanan. Di rak kecil, sepasang stik patah disimpan seolah benda itu punya sejarah yang tidak boleh dibuang.

Ruang itu berantakan, tetapi setiap benda di dalamnya tampak punya alasan untuk tetap berada di sana.

Ini ruang seseorang.

“Saka,” kata Amalia pelan. “Tante boleh masuk?”

Saka mengerutkan kening. Ia seperti tidak siap diberi pilihan. “Masuk aja,” gumamnya akhirnya. “Tapi jangan pegang drum.”

“Siap.” Amalia masuk.

Ia melangkah hati-hati melewati kabel yang melintang di lantai, lalu berhenti tidak terlalu dekat dari hi-hat. Ia membiarkan Saka tetap memiliki pusat ruang itu. Untuk sore itu, jarak menjadi bentuk sopan santun yang baru ia pelajari.

Saka meletakkan kedua stik di atas snare.

Tuk.

Suara kecil itu terdengar terlalu jelas setelah semua keributan sebelumnya.

“Tante nggak bisa masak,” kata Amalia.

Saka menatapnya seolah ia baru saja membuka rapat arsitektur dengan laporan cuaca.

“Bagus,” katanya. “Jangan.”

Amalia mengangguk. “Tante juga nggak bisa bikin rumah ini wangi adonan kue.”

Rahang Saka mengeras. “Memang nggak bisa.”

“Iya,” kata Amalia. “Dan Tante tidak akan mencoba.”

Saka menatapnya lagi. Kali ini lebih lama.

Amalia tidak terburu-buru mengisi hening. Ia tahu nama yang sedang berdiri di antara mereka.

Hanna.

Nama itu tidak diucapkan, tetapi ada di foto-foto ruang tengah, di kebiasaan Banyu, di studio Saka yang tetap sedikit berantakan, dan di aroma rumah yang tidak pernah Amalia tahu cara menirunya.

“Posisi itu milik ibumu,” kata Amalia. “Selamanya.”

Saka menunduk ke snare. Ujung stiknya bergerak sedikit, mengetuk membran tanpa suara.

“Tante datang ke sini bukan untuk menggantikan dia,” lanjut Amalia. “Tante datang karena Tante sayang sama Papamu.”

Saka mengangkat alis, seperti baru saja mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan naskah orang dewasa pada umumnya. “Orang dewasa kalau sayang suka bikin masalah.”

Amalia hampir tersenyum.

“Betul.” Jawaban itu membuat Saka mengangkat kepala.

“Harusnya dibantah.”

“Tante terlalu tua untuk membantah fakta.”

Saka mendengus kecil. Ada sesuatu yang melunak di wajahnya, meski ia buru-buru menutupinya lagi.

Amalia melanjutkan, “Tante tidak bisa janji tidak akan pernah membuat Papamu sedih. Tante juga tidak bisa janji tidak akan salah. Tapi Tante bisa janji satu hal.”

Saka diam.

“Tante tidak akan menjadikan kamu orang yang harus membereskan perasaan kami.”

Kali ini Saka tidak punya jawaban cepat. Matanya bergerak ke arah pintu studio, lalu kembali ke snare.

“Papa kalau sedih sok sibuk.”

“Tante tahu.”

“Kalau lagi kangen Mama, dia suka pura-pura nyari kabel.”

Lihat selengkapnya