Delapan belas bulan setelah gerbang rumah Amalia dijebol, sinar matahari sore menembus fasad kaca laminated tempered yang baru dipasang di sisi timur ruang tengah.
Cahaya itu tidak masuk tanpa perhitungan. Ia melewati shading kayu tipis di luar, pecah menjadi garis-garis keemasan di atas lantai beton poles, lalu berhenti di dekat ambang pintu utama, tempat sepasang sneakers kanvas tergeletak sembarangan.
Tali sepatu kanannya tidak terikat. Sepatu kirinya terguling miring, menutupi setengah bagian keset yang dulu selalu lurus dalam jarak presisi dari garis nat lantai. Tepat di sebelahnya, sepasang bot kulit cokelat berukuran besar teronggok santai, memamerkan jejak tanah kering di sela-sela solnya.
Amalia pernah menandai benda-benda seperti itu sebagai gangguan visual.
Sore itu, ia hanya melihatnya sebentar. Lalu membiarkannya tetap di sana.
Ruang tengah yang dulu selalu steril dan terlalu sunyi kini telah bergeser porosnya. Di atas meja makan kayu solid, sebuah jaket denim pudar tersampir miring di sandaran kursi minimalis. Di tengah meja, cangkir espresso keramik putih yang dulu selalu berdiri soliter kini bersanding dengan sebuah mug besar bergambar logo band rock lawas. Sisa noda kopi kecokelatan melingkar di dasar mug itu, mengering tanpa rasa bersalah.
Sebuah cacat visual. Sebuah patina kehidupan.
Di ruang kerja, tiga map masih tersusun di rak paling bawah. Salinan jadwal sidang lanjutan Bimo. Ringkasan pemeriksaan Nusantara Grid. Kalender mediasi Ratih.
Semua itu masih berjalan, berat dan belum selesai. Tetapi map-map itu kini tinggal di rak. Tidak lagi di tengah meja makan, di bawah bantal tidur, atau di dalam napas semua orang.
Berkas masih bergerak. Hidup juga.
Mereka masuk ke rumah itu pelan-pelan, lewat kebiasaan kecil yang mula-mula tidak diberi nama. Sepatu yang tertinggal. Mug yang tidak langsung dibawa pulang. Jaket yang dibiarkan semalam, lalu dua malam, lalu akhirnya punya sandaran kursi sendiri.
“Gue bilang juga apa. Rumah Aman Cendrawasih tembus cover Archinesia bulan ini,” suara Sari menembus speaker ponsel yang dijepit di antara telinga dan bahu Amalia.
Amalia berdiri bersandar santai di ujung meja island dapur. Ujung telunjuknya memilin kabel charger laptop yang menjuntai berantakan. Rambutnya diikat seadanya, menyisakan beberapa anak rambut di sisi pelipis.
Ia tertawa.
Suaranya keluar dari dada, sedikit asing di telinganya sendiri, tetapi ia tidak buru-buru menahannya. “Lo yang berlebihan, Sar. Itu cuma liputan fitur biasa.”
“Biasa mata lo. Klien dari kementerian sampai antre mau ketemu Arsitek Amalia Ciptaningrum. Firma lo naik kelas, Li.”
“Firma gue naik kelas karena tim gue kerja, bukan karena muka gue masuk majalah.”
“Ya ampun, masih aja defensif. Terima pujian itu nggak mengurangi struktur bangunan, Bu Arsitek.”
Amalia tersenyum.
Di sisi lain dapur, Banyu sedang memotong bawang bombay dengan ritme yang terlalu percaya diri untuk orang yang dua tahun lalu masih menganggap pisau dapur sebagai benda dekoratif. Bi Inah berdiri di dekat kompor sambil mengaduk panci sup, beberapa kali tertawa tertahan karena Banyu baru saja salah menyebut nama bumbu untuk ketiga kalinya.
“Besok gue mampir ke galeri,” kata Amalia. “Bawa martabak.”
“Sip. Bawa Sekar juga. Dia punya utang revisi layout pameran sama gue.”
“Dia lagi ngerjain esai Sejarah.”
“Dia selalu lagi ngerjain sesuatu. Itu anak udah mulai mirip lo, bahaya.”
Amalia melirik ke arah ruang TV.
Sekar duduk bersila di sofa, rambut sebahunya dijepit asal-asalan dengan jedai plastik. Di pangkuannya ada buku tebal dan laptop terbuka. Di sebelah laptop, secarik kain batik sogan terlipat rapi menjadi pembatas buku, diambil dari pinggiran kain Truntum yang dulu rusak dimakan usia. Sekar menjahitnya sendiri. Jahitannya sedikit tidak simetris.
Amalia tidak pernah memperbaikinya.
“Besok gue tanya dia,” kata Amalia.
“Good. Jangan lupa martabak.”
“Cokelat kacang?”
“Setengah cokelat kacang, setengah keju. Kita ini negara demokrasi.”
Klik.