Rumah Dua Uti

Anggria Ahda Mawadati
Chapter #1

PROLOG

Rumah itu tidak pernah benar-benar kosong. Bahkan ketika pintunya telah lama terkunci. Rumah itu masih menyimpan napas di sela-sela lantai tegel yang berderit, pada aroma jati tua yang menguar setiap kali angin sore menyusup melalui sela-sela jendela, juga pada dinding-dinding yang diam-diam hafal suara tawa, tangis, dan doa orang-orang yang pernah menghuninya.

 

Orang mungkin hanya melihatnya sebagai rumah limasan tua di ujung Desa Kondangjati, yang atapnya mulai kusam dimakan hujan dan matahari. Namun, bagi keluargaku, rumah itu lebih dari sekadar alamat. Rumah itu adalah tempat semua orang belajar menjadi keluarga. Dari sanalah, kami mengenal arti pulang, bahkan sebelum kami tahu ke mana kehidupan akan membawa kami pergi.


Di halaman depan, pohon mangga yang dahulu sering kupanjat bersama anak tetangga, kini menjatuhkan buahnya tanpa ada tangan kecil yang berebut memungut. Di sudut halaman samping rumah, sumur tua masih setia memantulkan bayangan langit, seolah menunggu seseorang kembali menimba air dengan ember plastik yang bunyinya nyaring memecah pagi.

Lihat selengkapnya