Saat itu usiaku sekitar lima tahun ketika Eyang Kakung (kakek) meninggal dunia. Di usia itu, kematian hanyalah keramaian yang aneh. Rumah limasan nomor tujuh itu dipenuhi orang-orang berpakaian hitam dan batik gelap. Bau kembang tujuh rupa dan kopi hitam memenuhi ruang tamu. Orang-orang datang silih berganti, menyalami ayah dan pakdeku, memeluk ibu serta bude-budeku, lalu menatap keluargaku dengan pandangan iba.
Aku belum benar-benar mengerti arti kehilangan. Yang menarik perhatianku justru hal lain.
Hari itu, ada dua perempuan tua yang sama-sama duduk paling dekat dengan jenazah Eyang Kakung. Dua-duanya menangis. Dua-duanya mengenakan gamis putih. Dua-duanya dipanggil anggota keluargaku dengan sebutan yang sama.
“Uti.”
Sebagai anak kecil, aku tidak pernah mempertanyakan mengapa aku memiliki dua Uti (nenek). Bagiku, itu sama wajarnya dengan memiliki dua tangan atau dua mata. Yang satu suka memberiku makan arem-arem, sementara yang satu lagi suka membelikanku kerupuk ikan merah jambu. Yang satu cerewet, yang satu pendiam. Yang satu gemar tertawa, yang satu lebih sering tersenyum tipis.
Aku mencintai keduanya dengan cara yang sama.
Baru bertahun-tahun kemudian aku mulai memahami bahwa tidak semua anak tumbuh dengan dua perempuan yang sama-sama dipanggil “Uti”. Dan tidak semua kakek meninggalkan warisan dua nenek dalam satu rumah.
*******
Di mata warga Desa Kondangjati, Eyang Kakung adalah orang yang disegani. Sawahnya membentang di beberapa penjuru desa, kebun jatinya tumbuh rapat di tanah warisan keluarga, sementara beberapa bidang tanah lain tersebar hingga Jember, Kediri, bahkan Sumatra dan Malaysia. Sebagian menjadi perkebunan, sebagian disewakan, sebagian lagi tetap dibiarkan sebagai warisan untuk anak cucunya kelak.