Uti Asiah adalah angin segar yang membuat rumah ini selalu terasa hidup. Tubuhnya tidak tinggi. Barangkali hanya setinggi bahu kebanyakan perempuan seusianya. Namun langkahnya ringan dan cepat, nyaris tak pernah terlihat lelah. Kulitnya putih bersih, khas perempuan Jawa dari keluarga priyayi, dengan wajah teduh yang semakin ayu ketika senyumnya mengembang. Di usia yang tak lagi muda, pipinya masih menyisakan semburat kemerahan alami, sementara matanya yang bulat selalu memancarkan rasa ingin tahu kepada siapa pun yang ditemuinya.
Tak pernah sekalipun aku mengingat Uti mengenakan daster seperti kebanyakan nenek di desaku. Sejak pagi hingga menjelang malam, ia selalu tampil rapi dalam balutan kebaya kutubaru bermotif bunga-bunga kecil yang dipadukan dengan tapih batik dan stagen yang melilit pinggangnya begitu erat. Rambutnya disanggul sederhana, lalu ditutup selendang tipis yang dililitkan dengan gaya perempuan-perempuan zaman dulu. Bahkan ketika hanya duduk di teras untuk mengupas bawang atau menyapu halaman, penampilannya tetap anggun, seolah setiap hari adalah hari untuk menyambut tamu.
Banyak orang memanggilnya Bu Nyai. Sebutan itu melekat karena Eyang Kakung, selain dikenal sebagai juragan tanah, juga dikenal sebagai sosok agamis yang disegani—apalagi sudah dua kali berhaji. Di balik panggilan yang terdengar terhormat itu, Uti tetaplah perempuan Jawa yang sangat membumi. Ia gemar menanam bunga di halaman, telaten melipat kain-kain batik di lemari, dan tak pernah lupa menyelipkan sisir kayu kecil di balik sanggulnya.
Satu hal yang paling kuingat dari Uti adalah kebiasaannya berjalan kaki mengelilingi desa. Perjalanan yang seharusnya hanya lima belas menit hampir selalu berubah menjadi satu jam lebih. Dan, sialnya, selalu aku yang menemaninya berjalan. Setiap melewati rumah tetangga, langkah Uti otomatis melambat.
“Asalamualaikum, Mbak Min!”
Belum sempat pemilik rumah menjawab, Uti sudah lebih dulu masuk ke halaman sambil tersenyum.
“Piye kabare? Lek mu nandur lombok wis panen durung?”
Obrolan pun mengalir begitu saja. Kadang tentang tanaman cabai yang terserang ulat, harga gabah yang naik turun, cucu yang baru masuk sekolah, sampai resep sayur lodeh yang lebih gurih kalau bawang merah dan bawang putihnya diiris-iris. Topiknya sederhana, tetapi tak pernah habis.
Sebagai anak kecil, aku sering merengek karena bosan menunggu.
“Uti, ayo pulang!” Ujarku sambil menggoyangkan ujung kebaya nenekku.
“Iya, sebentar.”