Nama lengkapnya Siti Badriyah. Namun hampir tak ada yang memanggilnya demikian. Para tetangga lebih akrab menyebutnya Yu Bad. Uti Asiah memanggilnya Dik Bad, sementara Uti Bad memanggil Uti Asiah dengan panggilan Mbakyu.
Uti Bad berasal dari Desa Gunungsari, sebuah desa yang berjarak sekitar empat kilometer dari Kondangjati. Gunungsari dikenal sebagai kampung para peternak karena alamnya yang asri dan rumput-rumput liar tumbuh tinggi di berbagai lokasi. Di sanalah almarhum suami pertama Uti Bad membangun usaha ternak sapi yang cukup besar hingga membuat keluarganya hidup berkecukupan.
Ketika suaminya meninggal dunia, orang-orang mengira Uti Bad akan meneruskan usaha peternakan itu. Namun jalan hidup memilih arah yang lain. Ia menerima pinangan Eyang Kakung dan meninggalkan rumah beserta puluhan sapi yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupannya. Pengelolaan peternakan kemudian diserahkan kepada keponakannya, Pakde Darso, yang sejak lama sudah dianggap seperti anak kandung.
Meski tinggal bersama keluarga kami, Uti Bad tak pernah memutus hubungan dengan peternakan itu. Sesekali, ia mengajakku ikut ke Gunungsari dengan menumpangi angkodes untuk menjenguk sapi-sapinya. Aku masih ingat aroma kandang yang bercampur rumput basah dan jerami kering, suara lenguhan sapi yang saling bersahutan, serta Pakde Darso yang selalu menyambut kami dengan senyum lebar sambil menyalami tangan Uti Bad penuh hormat.
Bagiku, perjalanan ke Gunungsari selalu terasa seperti petualangan kecil. Aku senang melihat anak-anak sapi yang baru lahir dengan kaki-kakinya yang masih gemetar. Kadang aku memaksa Pakde Darso mengajakku memberi makan rumput atau sekadar mengelus punggung sapi yang hangat. Uti Bad hanya berdiri tak jauh dariku, mengawasi sambil sesekali tersenyum tipis.
Ia memang bukan perempuan yang pandai menunjukkan perasaan. Namun, setiap kali ada sapi yang laku di pasar dan peternakan memperoleh keuntungan, Uti Bad selalu menyelipkan beberapa lembar uang ke telapak tanganku.
“Disimpen, nggih.” Katanya pelan.
Aku mengangguk cepat, lalu berlari menghampiri ayah sambil memamerkan uang pemberian Uti.
*******
Suatu malam, ketika kami berkumpul makan malam di ruang tengah rumah limasan nomor tujuh itu, ibu memandangku yang sedang meneguk segelas susu dari gelas plastik berwarna ungu, lalu melirik Uti Bad sambil berdecak.
“Sudah, tukar saja Aurora sama salah satu sapi milik Uti.”
Kesukaanku pada susu sapi rupanya menjadi bahan candaan keluarga. Sejak disapih oleh ibu, aku memang tumbuh sebagai penggemar susu formula. Nyaris setiap bulan, ayah harus menyisihkan setengah gajinya sebagai guru untuk membeli kaleng-kaleng susu yang harganya tidak murah.
Setiap kali Ibu melontarkan candaan itu, aku selalu memasang wajah paling masam.
“Pokoknya aku nggak mau ditukar sama sapi!”
Suasana ruang tengah yang semula riuh oleh obrolan keluarga langsung dipenuhi gelak tawa. Ayah sampai menepuk-nepuk pahanya, bude menutup mulutnya dengan ujung kerudung, sementara Uti Asiah mengelus kepalaku sambil terkekeh pelan. Bahkan Uti Bad yang biasanya hemat senyum pun tampak menyunggingkan bibirnya.
“Ya nggak ditukar beneran, Nduk.” Kata Ayah menenangkan.