Hampir semua perempuan di rumah limasan nomor tujuh ini bernama Siti.
Ketika masih kecil, aku sering menganggap itu sebagai aturan tak tertulis keluarga kami. Seolah-olah, untuk bisa tinggal di rumah ini, seseorang harus lebih dulu menyandang nama Siti. Aku bahkan pernah bertanya kepada Ibu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Bu, kok semua orang di rumah ini namanya Siti?”
Ibu terkekeh sambil mengusap rambutku.
“Ya kebetulan aja.”
“Tapi kok banyak sekali?”
“Karena zaman dulu, nama Siti memang banyak dipakai.”
Jawaban itu tidak benar-benar memuaskanku. Bagaimana mungkin sesuatu bisa disebut kebetulan kalau jumlahnya sebanyak itu?
Aku sendiri bernama Siti Aurora. Memangnya aku termasuk orang zaman dulu, pikirku.
Menurut cerita ayah, nama Aurora dipilih karena terdengar indah dan sedikit berbeda dari nama-nama perempuan di desa kami. Ayah ingin putri semata wayangnya memiliki nama yang terdengar modern, meski tetap diawali dengan “Siti” sebagai doa. Kadang aku punya teori lain. Jangan-jangan ayah terinspirasi dari Putri Aurora dalam film Sleeping Beauty yang sesekali kutonton dari kaset VCD milik sepupu. Aku tak pernah benar-benar menanyakannya. Bagiku, membayangkan diriku sebagai putri kerajaan terdengar jauh lebih menyenangkan.
Di rumah ini ada Siti Asiah, perempuan yang diam-diam kujuluki Uti Arem-Arem. Lalu ada Siti Badriyah, atau Uti Nyamuk Hitam, yang entah kebetulan atau bagaimana juga punya nama depan “Siti”.
Kemudian ada kakak pertama ayah, Siti Rahmah. Kalau Uti Asiah seperti sinar mentari yang menghangatkan, sedangkan Bude Rahmah itu bagaikan pohon rindang yang meneduhkan. Sejak suaminya, seorang prajurit TNI, gugur ketika menjalankan tugas di Papua lima tahun silam, bude membesarkan empat anaknya seorang diri. Tidak sekali pun, aku melihatnya tenggelam dalam kesedihan terlalu lama. Ia justru menjahit kembali hidupnya dengan benang-benang yang lebih kuat.
Di tanah sebelah kiri rumah limasan, bude membangun rumah berdesain Jawa minimalis untuk keluarganya. Meski begitu, sebagian hidupnya masih tertinggal di rumah utama. Salah satu ruang depan di sisi kiri ruang tamu tetap dipenuhi etalase gaun pengantin, kebaya, siger, dan berbagai perlengkapan rias yang ia sewakan. Dari sanalah namanya dikenal hingga ke desa-desa lain sebagai perias pengantin langganan. Setiap kali musim hajatan tiba, ruang itu berubah menjadi lautan kain berpayet dan aroma bedak yang khas.