Rumah Dua Uti

Anggria Ahda Mawadati
Chapter #6

TK AISYIYAH

Aku bersekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang letaknya hanya beberapa menit berjalan kaki dari rumah limasan nomor tujuh. Bangunannya tidak besar, hanya ada dua ruang kelas dan satu ruang guru bercat hijau muda dengan halaman luas yang dipenuhi ayunan, jungkat-jungkit, dan pohon flamboyan yang selalu menjatuhkan bunga-bunga merah setiap kali musim kemarau datang. Dari kejauhan, suara anak-anak bernyanyi sering terdengar bercampur dengan kokok ayam dari rumah-rumah penduduk. 


Aku termasuk murid yang paling mudah dikenali. Bukan karena paling pintar. Melainkan karena paling besar. Di antara teman-teman sekelasku, tubuhku menjulang lebih tinggi dengan pipi yang bulat dan lengan yang berisi. Kalau berdiri untuk foto bersama, Bu Hidayati hampir selalu menempatkanku di barisan paling belakang agar wajah teman-teman lain tidak tertutup tubuhku.


“Rora ini makannya apa sih?” Tanya salah satu wali murid suatu pagi sambil terkekeh.


“Susu.” Jawab Ibu singkat.


Lalu Uti Asiah yang berdiri di sampingnya menambahkan dengan bangga,


“Rajin minum susu. Sehari bisa tiga gelas.”


Sejak kecil aku memang akrab dengan susu formula. Saking akrabnya, Ibu sering bergurau bahwa setengah gaji ayah habis hanya untuk membeli susu anak perempuannya ini. 


Meski tubuhku paling bongsor, aku justru termasuk anak yang sulit diam. Aku selalu aktif karena mungkin otakku terlalu banyak berpikir.


Bu Hidayati baru selesai menjelaskan materi pelajaran, tanganku sudah lebih dulu melambung tinggi.


“Bu! Saya tahu.”


“Bu! Saya mau menjawab.”


“Bu! Kenapa awan berwarna putih?”


“Bu! Kalau dinosaurus hidup di zaman sekarang, apa yang akan terjadi?”


Teman-temanku kadang menoleh sambil cekikikan melihatku tak pernah kehabisan pertanyaan. 


Bu Hidayati sendiri hanya tersenyum sabar.


“Sebentar, Aurora. Kasih kesempatan yang lain berpendapat, ya.”


Aku menyadari, kebiasaan mengangkat tangan itu rupanya tidak datang begitu saja. Uti Asiah selalu memperlakukanku seperti seseorang yang pendapatnya layak didengar sejak aku mulai bisa bicara.


“Menurut Aurora kebaya yang bunga biru atau bunga merah?”


“Itu pohon apa, ya? Coba Aurora tebak.”


“Hari ini enaknya makan apa, Nduk?”


Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu terus berulang setiap hari. Kadang kujawab serius, kadang kujawab asal-asalan. Meski begitu, Uti tak pernah menertawakanku. Ia selalu mendengarkan sampai selesai, seolah jawaban seorang anak kecil memang sepenting itu. Mungkin karena itulah aku tumbuh menjadi anak yang berani mengutarakan pendapatnya.


Di sekolah, aku punya dua sahabat.


Yang pertama adalah Nimas, anak tetangga sebelah kanan rumah. Rambutnya selalu dikepang dua oleh ibunya, lengkap dengan pita warna-warni yang berganti hampir setiap hari. Wajahnya manis dan matanya bulat, sementara suaranya lembut nyaris tak pernah terdengar ketika guru sedang bertanya.


Yang kedua adalah Fauzi, anak tetangga sebelah kiri rumah. Fauzi itu anak laki-laki yang sangat pemalu. Ia hanya banyak bicara ketika sedang bermain denganku dan Nimas. Kalau ada anak lain yang ikut bergabung, biasanya ia langsung diam sambil memainkan ujung bajunya.


Kami bertiga nyaris tak terpisahkan.


Sepulang sekolah, langkah kaki kami hampir selalu berakhir di rumah limasan nomor tujuh. Kadang kami membongkar permainan bongkar pasang hingga kepingannya memenuhi ruang tamu. Kadang kami bermain dakon di teras sampai lupa waktu. Kadang juga kami bermain petak umpet, memanfaatkan tiang-tiang dan sekat-sekat di dalam rumah sebagai tempat persembunyian.


Petualangan favorit kami adalah memanjat pohon mangga di halaman depan. Padahal pohonnya tidak terlalu tinggi. Namun bagi anak-anak seusia kami, rasanya seperti sedang mendaki gunung. 

Aku biasanya yang paling semangat. Tubuhku yang besar justru membuat dahan-dahan pohon bergoyang lebih hebat dibanding ketika Nimas atau Fauzi memanjat.


“Pelan-pelan, Rora!” Teriak Nimas dari bawah.


Belum sempat aku mencapai dahan berikutnya, suara Uti Asiah sudah terdengar dari dapur.


“Aurora! Turun! Nanti jatuh!”


Aku pura-pura tidak mendengar. Sampai akhirnya Uti benar-benar keluar rumah sambil membawa centong kayu. Barulah kami bertiga turun tergopoh-gopoh, lalu berlari sambil tertawa ke halaman belakang.


Sayangnya, tidak semua teman di sekolah menyenangkan. Di kelasku ada Doni. Rambutnya ikal, tubuhnya sama bulatnya denganku, tetapi entah mengapa ia begitu senang mengejekku.


“Heh, Aurora! Gendut!”


Aku selalu mendelik kesal.


“Lho, kamu juga gendut!”


Teman-temannya langsung tertawa. 


Doni tak pernah kehabisan cara menggodaku. Kalau jam istirahat tiba dan aku membuka bekal dari Uti Asiah, ia datang bersama dua atau tiga anak lain.

Lihat selengkapnya