Ternyata hidupku yang sebenarnya baru dimulai dari sebuah karnaval, setidaknya begitulah yang aku ketahui di kemudian hari setelah peristiwa itu lama berlalu.
"Rendy, kesini..." panggil Bu Utari wali kelas tiba-tiba saat aku masuk, dan kami semua berlarian menuju bangku kami masing-masing menunggu memulai pelajaran hari itu. Aku ingat hari itu tanggal 17 Agustus 1979, karena berita karnaval Agustusan dengan suara drumb band terdengar hingga ke ruang kelasku di Sekolah Dasar Wiroyudan.
Aku sempat terdiam ragu mencoba mencerna, memastikan aku tidak salah mendengar panggilannya. "Iyaa, Rendy kesini, bawa sekalian tas dan semua buku-bukumu" ujar Bu Utari sambil melambaikan tangan ke arahku saat aku bersitatap dengan matanya. Aku melihat ragu ke arah Mira dan Khusnul yang berada tepat di depan, dan menanyakan apakah aku dipanggil ibu. Aku melihat mereka mengangguk.
Aku tak bertanya lagi, langsung berlari ke depan kelas. "Kesini" katanya sambil terus berjalan tanpa menggandengku dan membuat aku mengikuti langkahnya ke ruang tengah, tempat ruangan kepala sekolah berada.
Sebenarnya yang disebut ruang kelas itu, ruang berukuran besar seperti hanggar pesawat yang disekat dengan papan triplek sepanjang dua puluh meter, menjadi empat kelas dengan dinding partisi setinggi dua meter. Aku melangkah dengan riang, karena tidak pernah sebelumnya mendapat perlakuan se-istimewa itu, meskipun di kelas aku selalu juara pertama.
Ada seseorang di sana, laki-laki bertubuh tinggi, berparas lumayan sedang duduk dengan kepala sekolah.
Kepala sekolah berdiri saat aku datang, lalu menarik tanganku dan memelukku. Lalu semua guru-guru mengikutinya, memeluk dan menyalamiku, membuat aku merasa kikuk dan malu.
Laki-laki itu lalu menggandeng tanganku dan membawaku keluar kelas. Guru-guru menangis, dan sepanjang melewati kelas semua teman menepuk pundakku, menyalamiku, dan melambaikan tangan. Seingatku aku tak sempat berpamitan dengan teman-teman sekelasku, termasuk Mira dan Khusnul yang duduk tepat di sebelah bangkuku, kecuali hanya melihat mereka tersenyum dari jauh, sambil melambaikan tangan.
***
Dentuman suara drumb band menggema dari Jalan Pahlawan di jalan utama kotaku yang setiap tahun menjadi lintasan karnaval Agustusan. Aku terlonjak gembira saat melihat umbul-umbul penari drumb band meliuk berwarna-warni tampak di kejauhan.