Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #7

Bercak Misterius di Dinding Rumah Emak

Rasanya perjalanan itu lama sekali, seperti tak pernah sampai-sampai. Aku mulai merasa pusing, dan mabuk sepanjang perjalanan. Tawaku sudah mulai hilang, bajuku semakin lusuh, dan tidurku tak lagi beraturan karena hanya bisa terlelap di kursi. Jika tidak di kereta api, di bus dan terakhir di metro mini.

"Masih lama, kenapa kita tidak pulang saja, dari kemarin tidak sampai-sampai?" Ujarku mulai melancarkan protes pertama, setelah semua persediaan senyum dan tawaku hilang dan kelelahan membuatku bosan.

"Kita ke rumah emak dulu," ujar bapak.

Katanya nanti dari tempat Emak di atas gunung itu, aku bisa melihat kota Bandung yang dipenuhi cahaya. Aku bahkan bisa langsung melihatnya dari teras rumah, yang kata bapakku selalu dipenuhi kabut saat pagi, dan udara dingin yang bisa membekukan telapak kaki di malam hari.

Kami terakhir berhenti di tikungan Limbangan, menunggu mini bus yang harus antri karena transport menuju kesana tidak mudah. Jalan pegunungan yang berliku dan berdebu, sesekali melintasi bekas longsoran. Hanya ada dua trayek keberangkatan, satu kali saat pagi dan sore hari.

Menjelang sore, akhirnya perjalanan yang melelahkan itu berakhir.

Minibus itu menepi, tepat di pinggiran bukit, dengan rumah-rumah di kejauhan hanya tampak atap dari pinggiran jalan. Udara sore mulai dingin menggigit, dan kabut mulai turun menjelang malam. Di kejauhan kelap-kelip lampu Kota Bandung mulai terlihat.

Aku melompat turun. Ada undakan batu gunung yang mengarah tepat ke beranda luar rumah panggung berwarna hijau toska, dengan kaca-kaca memenuhi seluruh bagian ruang tamunya.

Seorang gadis kecil cantik bermata bulat, dengan rambut hitam tergerai, menunggu di ujung undakan. Senyumnya merekah, dan hanya dengan sekali pandangan, aku bisa tahu dia seorang gadis yang baik. Dia yang pertama mengulurkan tangan menjabat tanganku begitu aku sampai di ujung undakan. Aku terdiam memandang ke dalam matanya.

"Lina, namaku Lina," katanya dengan suara yang lembut.

"Kamu?"

"Rendy."

Dia menarik tanganku, mengajakku naik ke atas tangga menuju beranda rumah. Seorang perempuan tua memandangku, mengulurkan tangan, lalu memelukku.

Lihat selengkapnya