Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #8

Perjalanan Terakhir Tampomas II

Matahari baru muncul di ufuk, tapi rumah panggung itu sudah ramai. Gelap masih mengambang di luar, dengan udara dingin pagi segar yang menusuk tulang. Lina sudah bangun, semua orang di rumah itu bangun lebih cepat. Sebuah mobil minibus sudah terparkir di bawah. Koper-koper berukuran besar juga sudah siap diturunkan. Aku memakai kaos putih dan celana jeans, seperti yang pernah aku pakai saat pertama kali mengunjungi rumah emak ini. Aku merasa sedikit lega karena perjalanan kali ini kami berempat, aku, bapak, ibu tiriku dan nenek dari pihak bapak.

Meskipun aku jarang menemuinya, Mbah Putri aku bisa menyebut nenek dari pihak bapak, adalah seseorang yang paling perhatian kepadaku selama ini, Jadi aku merasa sedikit tenang karena ada beliau.

Seperti dejavu, aku melihat setiap perpisahan selalu menyakitkan seperti sedang membuka luka. Ibu tiriku berpelukan dengan emak, kami semua bersalaman dan orang-orang semua menangis, tetapi aku tidak. Aku merasa biasa saja, bahkan masih bisa tertawa, karena perjalanan ini akan membawaku pulang ke tempat ibuku, dan ini menjadi kali pertama aku naik kapal laut. Aku pikir perjalanan akan berbeda dan mungkin akan jauh lebih cepat dari perjalanan sebelumnya. Ayahku mengatakan begitu, ini akan menjadi perjalanan pulang.

Aku melihat Lina menangis, ia menggenggam tanganku kuat.

"Jangan lupa kesini lagi. Jangan lupa aku, kita nanti berkirim surat," bisiknya. Aku hanya mengangguk, tapi sekarang tak bisa tertawa lagi. Aku tiba-tiba disergap rasa sedih, seolah akan pergi sangat jauh dan mungkin tidak akan kembali, seperti ketika aku kehilangan teman-teman sebelumnya, Mira, Khusnul, dan Eni.

Lihat selengkapnya