Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #9

Terjebak di Rumah Depan Surau

Sebuah prasasti menara setinggi sepuluh meter dengan lampu di puncaknya menjulang di tengah lapangan dengan hamparan rumput hijau, di pagari cemara yang akan ribut berdesau ribut saat diterpa angin.

"Ini kota Darussalam, dar es salam, kota yang damai," jelas bapak kepadaku, ketika meminta sopir sedikit memutar meskipun rumah yang di tuju berada di utara dan lebih dekat diakses dari pintu gerbang masuk.

Aku melihatnya hanya berupa pendar lampu di sekeliling taman yang tidak sepenuhnya jelas, dengan deretan gedung-gedung besar di sebelah kanannya.

"Besok kita akan melihatnya lagi biar lebih jelas," lanjut bapak ketika melihatku kebingungan melihat sesuatu yang kata bapak indah, tapi aku sama sekali tidak bisa menikmatinya dengan jelas.

Deretan rumah-rumah dinas tua yang ditinggali para dosen berada di sekitar tugu, di jalan yang memutar sekelilingnya. Di sisi terjauh menuju jalan keluar, adalah komplek paling pinggir tempat para pegawai di dua kampus itu tinggal, termasuk dua buah rumah yang masih berdinding papan dengan cat kapur tohor murahan yang rontok saat angin keras, dan tempias hujan menghajarnya. Rumah sementara yang menjadi tujuan dari akhir perjalanan panjang selama empat bulan ternyata jauh dari yang aku bayangkan.

Rumah kopel itu terdiri dari dua bangunan dengan satu dinding, berukuran lebar empat meter, memanjang enambelas meter. Di bagian belakang terdapat kebun seluas sepuluh meter, halaman samping tiga meter dan halaman depan sepuluh meter persegi, dengan sebuah pohon akasia merah di tengahnya seperti payung raksasa. Dan di depan rumah berdiri sebuah surau kecil tempat anak-anak kampung mengaji dan shalat berjamaah, kecuali shalat Jum'at.

Rumah itu berbeda jauh dari bayangan rumah nenek yang berupa ruko di bagian depan, dan bangunan tembok seperti kapal besar dua lantai dengan jalan besar tepat didepannya. Berbatas dengan terminal dan pasar. Tapi aku tidak peduli, karena toh menurutku ini hanya kunjungan singkat, dan pasti tak lama aku akan pulang ke Jalan Kusuma lagi.

Lihat selengkapnya