Tak lama setelah kami semua berkumpul di Darussalam, dan adik-adik mulai masuk sekolah, aku mendengar kabar jika Ibu memilih untuk pergi ke Mekkah. Tempat yang sedari dulu selalu menjadi impian terbesarnya, tak hanya untuk berhaji, tapi katanya di sana dia berharap bisa menyembuhan luka-lukanya dengan mengadu langsung kepada Rabbnya di rumah sucinya, dan memilih bermukim.
Aku tahu itu caranya ia lari dari semua rasa sakit, kekecewaan dan kesedihan karena harus berpisah dengan anak-anaknya. Aku menangis berhari-hari begitu mendengar kabar itu, meskipun ia beralasan disana untuk bekerja karena ajakan seseorang temannya.
Aku selalu menunggu kabar dari Ibu, karena cukup lama tak ada kabar sama sekali, seperti menghilang.
***
Saat jam istirahat, seseorang dari OSIS memintaku datang ke ruang administrasi sekolah. Aku tak memikirkan apapun, selama ini meski tidak di OSIS, aku berteman baik dengan kepala sekolah karena kami sama-sama menyukai buku dan bertukar buku Petualangan Lima Sekawan, Enid Blyton. Jadi aku sudah terbiasa memasuki ruang administrasi, ruang guru dan juga kantor OSIS.
"Ada surat dari Mekkah," kata Pak Anwar di bagian administrasi, yang ternyata seorang kolektor perangko dan meminta perangko yang ada di sampul surat itu.