Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #14

Kehadiran Adik Tiri

Aku mungkin terlalu banyak mendengar apa yang diributkan keluarga, meskipun aku tidak tahu persis apakah semuanya benar atau sekedar fitnah dan desas-desus. Semua masuk di logikaku sebagai anak-anak yang menelan informasi mentah-mentah tanpa mencari tahu kebenarannya, kecuali drdustu yang sederhana yang sudah aku anggap sebagai kebenaran. Bagaimanapun cerita kisruh rumah tangga para orang dewasa lebih rumit dari yang aku bayangkan sebagai anak-anak.

Aku bingung ketika memikirkan alasan kenapa aku harus membenci ibu tiriku. Apalagi ia selama ini bersikap baik, kecuali cerewetnya yang sering membuatku merasa jengah. Aku juga tidak menyukai aturannya, karena biasanya aku bebas bermain. Sekarang bahkan makan pun ada aturannya. Dan karena aku bergantung sepenuhnya secara finansial dari dompetnya, aku tak bisa berkutik.

Setahun setengah setelah kami sampai di Darussalam, adik tiriku lahir, seorang perempuan. Aku tak bisa membencinya karena sejak lama aku ingin memiliki seorang adik perempuan, sehingga aku lupa dengan semua kebencianku kepada ibu tiriku. Aku malah menjadi kakak yang baik, merawatnya. Tanpa aku sadari itu membuat sikap ibu tiriku semakin melunak, karena menganggap aku bisa menerima kehadirannya tanpa meributkan masalah dengan ibu kandungku.

Sementara dua adikku mengganggap aku pengkhianat karena sikap lunakku. Aku juga tak peduli. Mungkin karena aku lebih lama merasakan kemarahan dan sudah belajar untuk mengendalikannya. Ketika aku bertahan sendirian, aku harus bisa melakukan banyak trik agar bisa diterima dan mendapat keuntungan dari pilihan cara itu.

***

Surat-surat dari ibu mengingatkanku untuk berhati-hati. Aku tahu semua informasinya yang ia dapat dari adik-adik yang selama ini rajin bertukar kabar. Sementara aku lebih rajin menerima surat balasan daripada berkabar, karena semua kabar terbaru sudah disampaikan oleh adikku.

Lihat selengkapnya